
SREEEK!
Seorang pegawai baru saja membuka tirai ruang ganti pakaian. Sementara Varsha tampak berdiri tegang di baliknya sambil menatap ke arah tiga orang wanita yang tengah duduk di depannya. Ia sedang mencoba gaun pengantin pertamanya.
“Ini adalah model ball gown ala pesta dansa kerajaan. Ekor gaunnya juga menjuntai cukup panjang,” jelas pegawai butik.
Sontak ketiga pasang mata di hadapan Varsha membesar. Mereka begitu terpesona dengan penampilan wanita cantik itu dalam gaun anggun yang megah. Layaknya sedang menyaksikan seorang putri asal negeri dongeng sungguh muncul keluar ke dunia nyata.
Kain tule lemas membalut lengan atas Varsha, memberi aksen manis pada model off shoulder gaunnya. Pada bagian tubuh atasnya, tampak mutiara cantik berbagai ukuran yang ditata apik hingga membentuk pola-pola elok. Menjadikan pemakainya terlihat mewah dan mahal.
“Cantik banget, Var …,” ujar Tessa setelah tersadar dari kekagumannya.
“Iya. Cantik sekali, Ndok.”
“Calon menantu Tante memang sungguh menawan.”
Mendengar respon ketiganya membuat Varsha tersipu. Dua rona merah seketika mewarnai pipinya yang berlesung. Wanita cantik itu kemudian berbalik lagi ke arah cermin di belakangnya, menatap refleksi yang tak begitu dikenalnya.
Meskipun dirinya merasa bak Cinderella, Varsha masih tidak yakin ia mau menikah dengan mengenakan gaun tersebut. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia hanya menginginkan model yang simpel dan manis. Namun, dirinya juga mengerti posisi Surya, terutama calon ibu mertuanya yang menghendaki sedikit kemewahan di sana.
Putra Ibu Tara kini hanyalah Surya seorang. Ditambah lagi, ini merupakan pernikahan yang sudah lama dinanti-nantikan olehnya. Oleh sebab itu, Varsha juga ingin memberi kebahagiaan pada ibunda calon suaminya.
“Sepertinya bagian bawahnya terlalu besar, ya?” respon mama Surya tersenyum.
Ia langsung tahu bahwa calon menantunya masih tak yakin dengan gaun yang sedang dikenakannya. Namun mungkin merasa tidak enak hati untuk mengatakannya. Sudah puluhan tahun Ibu Tara berkarir di dunia bisnis yang keras, sehingga dirinya cukup ahli dan peka dalam membaca ekspresi seseorang.
“Kalau begitu, mari kita coba gaun selanjutnya, Kak.”
Pegawai butik lalu menutup kembali tirai ruang ganti pakaian. Kemudian membawakan gaun yang lain untuk Varsha kenakan. Kali, ini ia menawarkan model mermaid dress cantik. Lalu ia bantu sang calon pengantin untuk memakainya.
Tak dapat dipungkiri, gaun yang terpasang pada tubuh wanita cantik itu memang sangatlah indah. Varsha pun akhirnya memperlihatkan penampilannya pada Tessa, Bude Woro, dan Ibu Tara. Tentu saja ketiganya sekali lagi terpukau dengan pemandangan yang mereka saksikan.
“Aduh, ayu ne keponakan Bude.”
“OMG, yang ini juga cantik banget, Var!!”
“Kamu kelihatan luar biasa sekali dalam gaun ini, Varsha.”
Si calon pengantin pun sekali lagi melihat refleksinya di depan cermin besar. Gaun tersebut membalut tubuhnya dengan ketat pada bagian atas hingga ke lutut, kemudian melebar layaknya sirip putri duyung di bagian bawah. Bahu dan punggungnya sedikit terekspos karena gaunnya memang tanpa lengan.
“Bagaimana kalau selanjutnya kita coba gaya yang lebih tradisional?” usul mama Surya.
Ia bisa melihat bahwa Varsha masih kurang nyaman dengan gaun yang dikenakannya. Kemungkinan agak terlalu ‘terbuka’ untuk seleranya. Meskipun, tentu saja calon menantunya tampak begitu cantik dan memesona dengan apa pun yang ia pakai.
Akhirnya, pegawai butik pun kembali menutup tirai ruang ganti untuk memberi kliennya privasi. Kemudian ia mengambil gaun pengantin yang baru dan memperlihatkannya pada Varsha. Lalu membantunya memasangkan tiap bagiannya pada tubuh wanita cantik itu.
SREEEK!
Tirai di depan sang calon pengantin pun kembali dibuka setelah beberapa saat. Seketika ketiga tim pendukungnya berdiri bersamaan. Mereka semua tersenyum dan menganggukkan kepala. Tessa dan Bude Woro bahkan sampai meneteskan air mata yang membuat Varsha juga ikut terharu bersama keduanya.
Mama Surya menggigit bibirnya, berusaha untuk tak terbawa suasana. Tangannya sekarang tengah sibuk mengusap punggung calon besannya yang bersimbah air mata serta sahabat calon menantunya yang terisak hebat. Namun kini sudah jelas, semuanya merasa puas dengan pilihan yang terakhir.
__ADS_1
“Kurasa kita telah menemukan gaun yang cocok,” ujar Ibu Tara.
“Sempurna.”
***
Surya tampak berdiri di dalam sebuah ruangan kosong. Seorang polisi tampak sedang menggeledah barang bawaannya dan memasukkannya ke dalam x-ray scanner. Sementara petugas yang lain meraba seluruh tubuhnya untuk memastikan dirinya tak memiliki benda yang mencurigakan.
Usai menjalani pemeriksaan, seorang petugas portir memberikan Surya kartu kunjungan. Kemudian ia mengantarkan pria tersebut ke dalam sebuah ruangan berpintu besi. Di sana tampak sebuah meja dan dua kursi yang berhadapan.
“Waktu kunjungan Anda maksimal hanya 15 menit,” jelas petugas di samping Surya.
Pria itu pun mengangguk mengerti dan mengucapkan terima kasih. Kemudian polisi tersebut meninggalkan ia sendirian di dalam dan berjaga di luar ruangan. Surya lalu menarik salah satu kursi dan duduk di atasnya. Tak lama kemudian, dari pintu yang lain keluar seorang wanita paruh baya yang didampingi oleh petugas.
Ia pun bergabung dengan pria tampan itu, duduk di seberangnya. “Senang sekali keponakanku akhirnya datang berkunjung.”
Surya tersenyum simpul. Namun, amat sulit untuk diartikan. Entah itu merupakan sebuah ketulusan atau sindiran. “Bagaimana kabar Tante Santika?”
“Hidup,” respon wanita itu singkat.
Ada keheningan sesaat di antara mereka sampai akhirnya Surya meletakkan sebuah amplop berwarna emas di atas meja. Pada bagian luarnya terukir dua buah huruf besar. Inisial V dan S, dari namanya dan kekasihnya.
“Aku kemari hanya ingin memberikan ini.”
Ibu Santika mengambil amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Sebuah undangan cantik dan elegan langsung menyapanya. Wanita itu pun tersenyum seraya membaca bagian dalamnya.
“Kurasa aku harus mengucapkan selamat,” ujarnya. “Tapi untuk apa kamu menunjukkan ini pada Tante?”
“Apa kamu tidak takut Tante akan merencanakan suatu kejutan pada hari pernikahanmu?”
Kemudian pria itu tersenyum dengan tulus. “Kuharap Tante Santika juga bisa mendapatkan kebahagiaan itu.”
Ia pun berdiri dan bersiap untuk pergi. Namun sebelum Surya mencapai pintu keluar, ia mendengar tawa dari wanita tersebut. Nadanya begitu angkuh dan merendahkan.
“Kau seharusnya berterima kasih padaku,” tutur Tante Santika. “Jika bukan karena diriku, kau tak akan menghabiskan malam bersama Varsha ... dan memiliki Teja.”
“Tante lah yang menyuruh petugas di sana untuk meletakkan narkoba ke dalam setiap karavan,”
Ibu Santika tersenyum sinis. “Tante tahu bahwa kau sedang berada dalam keadaan terpuruk saat itu … dan jika kau melihat obat-obatan tersebut, kau pasti akan goyah dan sudah pasti akan mengkonsumsinya.”
“Namun rupanya kau hanya menelannya dalam jumlah kecil, sehingga Tante harus kerja bakti lagi menyuruh Raka untuk menyabotase rem mobilmu.”
Surya menghela napas panjang mendengar pengakuan dari Ibu Santika. Setidaknya sejak awal berniat datang kemari, dirinya memang tak berharap banyak pada tantenya. Pria itu pun membalikkan badannya.
“Tante salah besar soal itu.”
“Ya, aku salah besar,” ungkap Tante Santika setuju. “Seharusnya langsung saja kucekoki makanan dan minumanmu dengan barang haram itu.”
“Bukan itu maksudku,” bantah Surya.
“Aku tetap akan berakhir bersama Varsha dengan atau tanpa obat-obatan tersebut.”
__ADS_1
Pria itu lalu tersenyum, tampak mengenang kebersamaannya bersama dengan seorang gadis polos dan tulus lima tahun lalu. “Aku dan Varsha mungkin akan memperoleh kebahagiaan yang lebih cepat jika bukan karena Tante ….”
Ia lalu kembali menghela napas panjang. “Selamat tinggal Tante Santika. Kuharap pada pertemuan selanjutnya, kita berdua bisa sama-sama saling memaafkan.”
Kemudian Surya pun berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi ke belakang. Meninggalkan Ibu Santika terdiam menunduk, hingga seorang petugas masuk menjemput. Membawa wanita itu kembali ke balik jeruji besi.
***
“Bagaimana harimu, Sayang?”
“Aku tadi pergi mencoba gaun pengantin bersama Bude Woro, Tessa, dan mamamu.”
Surya tersenyum lebar. Ia bisa membayangkan bagaimana serunya pasti hari Varsha. Tampak cantik mencoba setiap gaunnya dan direspon dengan penuh antusias oleh ketiga wanita tersebut.
“Bagaimana denganmu?”
Dirinya tentu saja baru saja pulang dari lapas tempat Tante Santika ditahan. Namun, ia tak ingin merusak mood bahagia calon istrinya. Jadi ia putuskan untuk memberitahukan Varsha di lain waktu.
“Hmm … aku mengunjungi seorang kerabat. Mengantarkan undangan pernikahan kita,” jawab Surya.
Kemudian ada jeda sesaat pada pembicaraan mereka hingga akhirnya Varsha bertanya, “Apa sudah ada jawaban dari Dewa?”
Pria tampan itu menghela napas panjang. “Belum."
“Tapi aku masih mengharapkan ia bisa datang ke pernikahan kita dan menjadi best man,” ucap Surya lirih.
“Aku yakin ia akan datang.”
***
Curcol Author:
Huhuhu, maaf ya up-nya lama. Soalnya bener-bener lagi ngurus pernikahan Varsha and Surya ... eh maksudnya pernikahan sepupu hehehe
Semua udah terima undangan nikahan Varsha dan Surya, kan? ;D
Diharapkan kehadirannya, ya <3
<3<3<3<3<3<3<3
Halo readers KAHM!
Jangan lupa terus dukung Author dengan memberi love, jempol, komen, hadiah, dan votemu ya ;D
Biar Author semangat dan hepi terus hehe
Selamat malam Senin! Semoga malammu indah!
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1