Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
VII. Reuni Keluarga?


__ADS_3

Baru tiga hari lalu Varsha dan Teja menapakkan kaki mereka di depan Akasa Tower, kini keduanya sekali lagi berdiri di depan pencakar langit megah itu. Bedanya kali ini sudah ada Ardi yang menunggu mereka dari lobi bawah. Pemuda sumringah itu langsung menyambut keduanya lalu menggiring pasangan ibu dan anak tersebut menuju kantor Surya.


Surya sedang duduk di meja kerjanya, membaca dokumen sambil berbicara di telepon saat Varsha dan Teja memasuki kantornya. Pria tampan itu tersenyum kemudian mempersilakan mereka masuk dan duduk di sofa. Varsha dan Teja pun menurutinya.


Pertama kalinya Varsha kemari, ia tidak terlalu memperhatikan bagian dalam kantor Surya karena terlalu sibuk menata isi hatinya. Ruangan Surya berukuran besar dan bernuansa biru gelap dengan interior modern. Di beberapa sudutnya terdapat patung-patung setinggi orang dewasa yang merupakan karakter ciptaan Akasa Game.


Rak-rak silver dengan desain unik memenuhi satu sisi tembok yang panjang. Lisnya bersinar biru terang dari permainan lampu LED di bagian belakang. Di dalamnya terdapat berbagai macam penghargaan dan pajangan cantik. Varsha juga bisa melihat banyak figurine karakter Akasa Game serta koleksi robot gundam dan berbagai anime terkenal tersusun rapi di sana.


Meja kerja Surya berdesain simpel, berwarna abu tua. Di atasnya hanya terdapat beberapa dekorasi seperti kalender dan jam serta hiasan bingkai cantik yang hanya bisa Varsha lihat sisi belakangnya. Tepat di tengah-tengah, sebuah laptop hitam terbuka menghadap Surya. Sementara di depannya bertengger balok gelas kaca tebal bertuliskan nama lengkap Surya serta titelnya.


“Mohon maaf sekali sudah menunggu lama.”


Suara berat dan sedikit serak milik Surya memulai pembicaraan. Ia baru saja menyelesaikan panggilan telepon yang kelihatannya cukup penting. Di tangan Surya tampak dua map bersampul hitam dengan simbol Akasa Game di atasnya.


“Saya senang sekali Teja dan Mama Teja akhirnya memutuskan untuk datang kemari.” Ucap Surya sambil tersenyum.


“Kami minta maaf juga telah membuat Pak Surya lama menunggu.” Respon Varsha.


“Ah, tidak. Tidak sama sekali. Saya yakin banyak hal yang harus dipertimbangkan.”


Varsha dan Teja tersenyum. Surya tidak salah. Memang banyak sekali yang harus Varsha pikirkan sebelum datang kemari.


“Mari kita langsung saja?” Tanya Surya.


Varsha dan Teja mengangguk setuju. Surya meletakkan map hitam tadi di atas meja tepat di hadapan Varsha dan Teja. Lalu ia membuka salah satunya dan menunjukkan halaman pertama.


“Isi kontraknya sama persis dengan yang sudah saya kirimkan pada Mama Teja sebelumnya melalui surel. Namun jika Mama Teja dan Teja ingin membacanya lagi, silakan.”


Sebenarnya Varsha dan Teja sudah membaca kontrak ini puluhan kali di rumah. Namun tidak ada salahnya untuk bersikap teliti. Varsha mengangkat dokumen itu lalu membacanya dengan hati-hati bersama Teja.


Surya mengamati pasangan ibu dan anak yang sedang fokus meninjau ulang perjanjiannya. Entah mengapa senyumannya selalu otomatis muncul saat berhadapan dengan kedua orang di depannya. Padahal ia bukanlah orang yang terlalu suka mengumbar senyum.


Surya juga bersyukur Varsha tampak baik-baik saja sekarang. Ia merasa khawatir sejak terakhir kali ia melihat kondisi wanita muda ini di kafe milik Tessa. Beberapa hari yang diperlukan Varsha sebelum datang kemari kemungkinan juga ada hubungannya dengan hari itu.


“Semuanya seperti yang Pak Surya katakan. Isinya persis sama.”


Suara lembut Varsha membuyarkan lamunan Surya. Kemudian pria itu tersenyum dan mengangguk. Surya mengeluarkan pena yang tersemat di pinggir map lalu meletakkannya di atas halaman paling belakang.


“Siap untuk meresmikannya?” Tanya Surya.


Varsha melirik Teja di sampingnya. Kedua mata putra kecilnya berbinar bersemangat. Ia mengambil pena mewah dari atas dokumen lalu memberikannya pada Teja.


Teja pun menggoreskan tanda tangannya di atas kertas tersebut. Lalu menyerahkan pena itu kembali pada Varsha yang kini bergantian dengannya menorehkan inisial di atas halaman yang sama. Surya juga melakukan yang sama pada map hitam yang satu lagi. Kemudian mereka bertukar map dan mengulangi kembali proses tadi.


“Welcome to Akasa Game.”


Surya tersenyum sambil menawarkan tangannya pada Teja. Anak laki-laki itu membalas senyumnya lalu menjabat tangan Surya dengan mantap.


“Terima kasih, Om Surya.”


“That’s a great handshake.” Puji Surya pada Teja yang tersipu.


Surya lalu beralih pada wanita cantik di depannya. Ia meraih tangan kanan Varsha dan menjabat tangannya. Tangan Surya yang besar hampir menyelimuti seluruh tangan Varsha. Dan sama seperti yang lalu, Surya masih merasakan sengatan kecil yang menyebarkan kehangatan ke seluruh tubuhnya saat menyentuh tangan Varsha.


“Bagaimana dengan tur kecil keliling Akasa Game?” Tanya Surya sambil memasukkan tangannya dengan cepat ke dalam saku.


Surya tidak percaya dirinya sedang berusaha keras melawan keinginan untuk menggenggam kembali tangan kecil tadi. Sangat amat tidak profesional. Belum lagi bagaimana dengan suami Varsha. Ayah dari Teja...


Surya mengelus pelan cincin berukir pada jari manisnya untuk menjernihkan pikiran. Entah mengapa hormon-hormonnya yang biasanya dorman selalu bereaksi di depan Varsha. Ia mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali dia menjalin hubungan serius dengan seorang wanita tapi tidak ada yang terlintas di kepalanya. Mungkin bukan Dewa yang butuh pasangan, tetapi dirinya…


“Ayo, Om Surya.”


Suara dan senyuman manis dari Teja membuat Surya kembali rasional. Ia menganggukan kepalanya lalu menggiring mereka keluar dari kantor menuju ke elevator. Sebelumnya, ia juga sudah meninggalkan dua map yang mereka tanda tangani tadi pada asistennya untuk segera diurus.


“Mulai dari lobi.” Ucap Surya sambil menekan tombol 41 pada elevator.

__ADS_1


Begitu sampai, mereka bertiga turun lalu berjalan menyusuri ruangan demi ruangan sambil mendengarkan penjelasan dari Surya. Terkadang Surya juga akan tiba-tiba berhenti, meminta perhatian dari pegawainya, lalu memperkenalkan Teja pada mereka. Anggota keluarga baru Akasa Game.


“LittleCloudy? Wah aku fansmu.”


“LittleCloudy, boleh minta tanda tangannya?”


“Kapan-kapan kita harus bermain bersama, LittleCloudy.”


“Tidak sabar untuk segera bekerja denganmu.”


“Salam kenal LittleCloudy! Eh Teja!”


Teja mengeratkan genggaman tangannya pada Varsha, wajahnya merona merah. Varsha tersenyum kecil melihat reaksi buah hatinya. Jarang sekali Teja memperlihatkan sikap begini di depannya.


Seusai tur singkat mengelilingi Akasa Game Studio, perut Teja tiba-tiba berbunyi. Cukup kencang hingga terdengar oleh Surya dan Varsha.


“Oopps, maaf.” Ucap Teja sambil mengusap-usap perutnya.


“Teja lapar, Nak?” Tanya Varsha yang dijawab dengan anggukan dari Teja.


“Bagaimana kalau kita makan siang bersama?” Tanya Surya menawarkan.


“Tidak perlu repot-repot, Pak Surya.” Jawab Varsha cepat.


“Saya dari awal memang berniat mengajak Teja dan Mama Teja untuk makan siang bersama. Namun karena tertahan para penggemar LittleCloudy, waktu makannya jadi sedikit tertunda.”


Surya lalu berjongkok hingga ia selevel dengan Teja, “Teja mau makan apa?”


“Hm… tadi Kak Ardi merekomendasikan restoran bakso di foodcourt lantai lima. Apa boleh ke sana?” Tanya Teja ragu-ragu.


“Tentu saja boleh.” Ucap Surya sambil mengelus kepala atas Teja.


“Mama Teja, bagaimana?” Tanya Surya lagi.


“Oke.” Jawab Varsha tersenyum.


***


Varsha dan Teja duduk bersebelahan sementara Surya duduk di seberang mereka. Varsha dan Teja membaca menu dan memilih bakso spesial untuk makan siang. Sementara minumannya, air mineral untuk Varsha dan milkshake cokelat untuk putra kecilnya. Begitu semuanya sudah menentukan pesanan, Surya pun memanggil pelayan yang paling dekat.


“Tiga bakso spesial, satu air mineral, dan dua milkshake cokelat.” Ucap Surya kepada pelayan yang sedang mengambil pesanan mereka. Surya memesan menu yang sama dengan Teja.


“Satu porsi bakso tidak pakai bawang goreng dan daun bawang.”


“Satu porsi bakso tidak pakai bawang goreng dan daun bawang.”


Rupanya Surya dan Varsha mengucapkan kalimat itu bersamaan.


Mereka saling bertatapan sebelum akhirnya Surya berkata, “Kalau begitu dua porsi bakso tidak pakai bawang goreng dan daun bawang ya, Mba. Terima kasih.”


Pelayan wanita itu membaca ulang kembali pesanan mereka lalu pergi menuju konter.


“Om Surya juga tidak suka bawang goreng dan daun bawang?” Tanya Teja.


“Ah, iya. Teja juga?”


Teja mengangguk cepat dengan wajah mengernyit menunjukkan rasa tidak sukanya. Di sebelahnya wajah Varsha tampak menegang. Seperti sedang mengingat suatu memori buruk.


“Papa Teja bagaimana? Apa tidak suka juga dengan bawang goreng dan daun bawang?”


Seketika suasana berubah menjadi hening. Baik Varsha dan Teja tidak mengeluarkan suara. Sepertinya Surya telah melontarkan pertanyaan yang tidak semestinya ia utarakan.


Tiba-tiba pelayan tadi kembali dengan satu nampan penuh berisi tiga mangkuk bakso. Wanita muda itu dengan lihai segera meletakkannya di depan mereka. Tak lama, ia kembali dengan dua milkshake cokelat dan air mineral. Setelah semua pesanan tersaji, ia pun pergi meninggalkan meja tersebut.


Entah apa yang terjadi pada Papanya Teja, tapi sepertinya Surya diselamatkan oleh pesanan mereka yang datang. Dalam hati ia diam-diam membuat catatan untuk tidak pernah lagi membahas tentang Papanya Teja.

__ADS_1


Varsha dan Teja lalu permisi sebentar pamit untuk mencuci tangan. Tak lama, Teja kembali duluan karena mamanya mau memakai kamar mandi. Ia duduk di depan Surya lalu memotong-motong baksonya.


“Teja tidak pernah bertemu dengan Papa Teja. Kata Eyang, Papa Teja sudah pergi dan tidak pernah kembali lagi.” Kata Teja tiba-tiba sambil mengaduk bakso di depannya.


“Maksud Teja, Papa Teja sudah berada di surga?” Tanya Surya pelan, ragu-ragu untuk memastikan.


Teja menggeleng, “Eyang bilang Papa Teja benar-benar pergi begitu saja meninggalkan Mama yang sedang hamil. Bahkan Eyang saja tidak pernah melihat Papanya Teja.”


Ekspresi Teja tidak berubah seolah dia sudah terbiasa dengan hal itu. Rasa sedih dan marah sekejap merasuki hati Surya. Pria macam apa yang begitu teganya berbuat seperti itu pada Varsha dan Teja. Rasanya Surya ingin meninju dan menghantam pria tersebut.


Varsha akhirnya datang dan bergabung kembali dengan dua laki-laki tampan di meja. Surya juga sudah mengontrol emosinya dan memasang wajah profesionalnya. Karena percakapan tadi, suasana di meja masih terasa agak canggung. Surya pun berusaha untuk mengubah topik pembicaraan.


“Dari semua ruangan tadi yang mana yang Teja paling suka?” Tanya Surya.


“Hm…. “


Teja berpikir sejenak. Pikirannya mengulang kembali tur kecilnya barusan.


Lighting room, ruangan tempat mengatur pencahayaan game pada seluruh media…


Designing room, tempat bagi para creator menciptakan model karakter, mendesain, memberi tekstur dan lain sebagainya...


Motion capture studio, ruangan untuk merekam gerakan yang nanti akan diaplikasikan pada game…


Entertainment room untuk para karyawan bersantai melepas penat saat lelah…


Teja tidak bisa memutuskannya. Seluruh ruangan yang mereka kunjungi sangat menarik bagi Teja.


“Teja suka semuaaaaaanya.” Kata Teja sambil membuat lingkaran besar dengan kedua tangan kecilnya.


Melihat tingkah Teja, Surya dan Varsha pun tak kuasa menahan tawa. Dua lesung pipit terhias manis di wajah wanita muda itu.


Deg.


Surya merasakan jantungnya berhenti berdetak sejenak. Ia memang pernah melihat senyuman Varsha, tapi itu semua lebih terasa sebagai bentuk sopan santun saja. Namun tidak kali ini..


Saat ini senyumnya begitu lepas dan cantik.


Sangat cantik.


Apalagi ditambah dengan dua lesung pipit yang memutuskan untuk muncul. Semakin mempermanis senyuman Varsha. Tiba-tiba rasanya Surya ingin waktu berhenti berputar dan berhenti di detik ini.



...


Sementara itu di saat yang sama, Varsha akhirnya menyadari ada benda berkilau di jari manis kiri Surya.


Sebuah cincin.


***


Curcol Author:


Author: Sur, ini ada hadiah untukmu.


Surya: Apa, Thor?


Author: Cermin buat ngaca.


Surya: Huh??


Jangan lupa love, komen, dan jempolnya ya men-temen <3


Nuhun\~

__ADS_1


- Bawang


__ADS_2