
Sebuah sedan mewah menepi di depan Akasa Hotel. Kemudian seorang pemuda berpakaian rapi membuka pintu belakangnya. Tampak dua wanita cantik dan satu anak laki-laki keluar dari dalam. Tentu saja mereka adalah Varsha, Tessa, dan Teja.
Malam ini, Surya mengirimkan Varsha dan Teja sebuah mobil untuk menjemput dan mengantarkan mereka ke acara peluncuran mobile game DRF. Kebetulan Dewa juga mengundang Tessa. Alhasil ketiganya pun jadi pergi bersama.
Varsha dan Tessa menyerahkan undangan VIP mereka kepada penerima tamu yang berdiri di lobi Akasa Hotel. Lalu ketiganya pun dituntun menuju ke aula pertemuan. Ruangan besar itu rupanya sudah disulap menjadi hutan magis khas DRF.
“Wah, skala Akasa Group memang beda, ya.” Ucap Tessa tak kuasa menahan rasa takjubnya.
“Ehm.” Varsha mengangguk setuju.
Malam ini, kedua wanita cantik itu tampil begitu anggun dengan pakaian mereka. Tessa memakai jumpsuit hitam dengan aksen polkadot di bagian lengannya yang transparan. Sementara Varsha mengenakan gaun putih elegan sedengkul berlengan panjang yang ia pinjam dari Tessa. Teja pun tak kalah tampan dengan setelan vest dan celana panjang bahan berwarna biru gelap.
Tentu saja penampilan menawan Varsha, Tessa, dan Teja membuat orang sekeliling mereka tak kuasa mencuri pandang. Efek yang jauh lebih besar juga sedang dirasakan oleh dua pemuda tampan yang berdiri tak jauh dari ketiganya. Surya dan Dewa kini sedang terkesima menatap ketiga orang spesial mereka.
Surya tahu dari awal kalau Varsha memanglah seorang wanita cantik. Namun kali ini, dengan riasan dan pakaian anggunnya, bidadari berlesung pipit itu tampak begitu memesona. Rasanya Surya jadi tak ingin membagi pemandangan di hadapannya dengan orang lain. Ia hanya mau dirinya sendiri yang menjadi pemilik eksklusifnya.
Pemuda tampan itu lalu melirik ke arah Teja untuk sedikit menjernihkan pikiran. Malaikat kecil di samping Varsha kini tampak necis dan menggemaskan dengan gaya dewasanya. Akhirnya Surya pun bisa menguasai dirinya lagi. Saat melirik ke arah sepupunya, ia tersenyum. Tampaknya Dewa pun juga mengalami reaksi yang sama seperti dirinya tadi.
Setelah berhasil mengontrol perasaan masing-masing, kedua pemuda tampan itu pun berjalan menghampiri Varsha, Tessa, dan Teja. Surya dan Dewa sama-sama mengenakan setelan jas lengkap dan terlihat mahal. Dewa dalam warna hitam sementara Surya dengan midnight blue-nya.
“Hai, Varsha dan Teja.” Sapa Dewa.
“Dan… apa aku boleh menculikmu malam ini, Nona cantik?” Tanya Dewa mengalihkan pandangan sepenuhnya pada Tessa sambil menawarkan tangannya.
Tiba-tiba Surya merasa iri pada sepupunya yang bisa begitu vokal pada wanita yang disukainya. Seandainya ia pun bisa berbuat hal yang sama. Namun entah mengapa, Surya masih merasa ada garis pembatas yang tak kasatmata di antara dirinya dan Varsha.
Varsha melirik Tessa yang sekarang sedang menatap tangan Dewa di depannya. Ia tahu hubungan mereka sudah jauh lebih dekat meskipun terkadang sahabatnya itu masih mengeluhkan keagresifan Dewa. Namun apapun yang Tessa katakan mengenai rasa tidak sukanya terhadap sepupu Surya, kini tak perlu diacuhkan. Karena Varsha bisa melihat jelas percikan nyata di antara keduanya.
Sekarang Tessa yang gantian melirik ke arah Varsha. Berusaha meminta pendapat dengan tatapan matanya yang segera direspon Varsha dengan anggukan kecil. Sahabat Varsha itu, jelas-jelas sedang bersusah payah untuk menahan senyum. Akhirnya Tessa memutar kedua bola matanya lalu meletakkan tangannya di atas tangan Dewa. Tak lama, kedua sejoli itu pun pamit dan meninggalkan Surya, Varsha, dan Teja.
“Terima kasih sudah datang.” Ucap Surya.
__ADS_1
“Saya tak akan melewatkan malam penting Teja.” Jawab Varsha tersenyum sambil menoleh ke arah buah hatinya.
“Hai Teja, siap beraksi malam ini?”
“Siap Om Surya.” Respon Teja sambil mengepalkan satu tangannya ke arah Surya yang langsung disambut dengan fist bump pelan.
Malam ini adalah malam penting bagi mereka semua. Rencananya, Teja dan Surya lah yang nanti akan ke atas panggung dan mempresentasikan mobile game DRF pada seluruh hadirin yang datang. Yang tentunya memang merupakan acara inti dari keseluruhan pesta megah ini dan yang pastinya paling dinantikan.
Untuk itulah Surya sengaja memberikan Teja pakaian yang senada dengan dirinya. Keduanya memakai warna yang sama. Hanya saja Surya mengenakan versi suit-nya sementara Teja bergaya dengan versi vest-nya.
Ditambah dengan kemeja putih yang kedua laki-laki tampan itu kenakan, membuat mereka selaras dengan gaun Varsha. Sehingga menjadikan ketiganya berpenampilan layaknya sebuah keluarga harmonis dan menawan.
Setelah mendapatkan tos tinju dari Teja, entah mengapa seperti ada keberanian yang muncul dari diri Surya. Ia pun dengan mantap berjalan ke samping Varsha, menawarkan lengannya, lalu menatap lembut wanita cantik itu.
“Shall we?” Ucap Surya nyaris berbisik dengan suara beratnya.
Varsha tampak terpaku sejenak namun akhirnya tersenyum dan meraih lengan kokoh itu. Diam-diam Surya merasa lega dan menahan keinginan keras untuk melompat kegirangan. Ketiganya pun berjalan berdampingan. Varsha di lengan kanan Surya sementara Teja menggandeng tangan kirinya.
“Sebuah kehormatan bisa menerima kehadiran Anda di sini, Pak Putera.” Ucap Surya menjabat tangan pria tua di depannya.
“Saya yang justru sangat berterima kasih sekali sudah diundang ke acara… hits seperti ini kata anak-anak sekarang.” Jawab Pak Putera. “Kalau Pak Surya tidak keberatan saya bertanya, siapa wanita cantik dan anak laki-laki tampan di samping Pak Surya ini?”
“Tentu tidak, saya baru saja akan memperkenalkan keduanya pada Pak Putera.” Respon Surya cepat.
“Ini Teja Ametarka, pengembang di Akasa Game. Berkat kejeniusan Teja-lah versi mobile game DRF yang sempurna bisa dengan cepat diluncurkan.” Ucap Surya mulai memperkenalkan. “Dan wanita cantik di sebelah saya adalah Varsha Ametarka, mamanya Teja.” Lanjutnya lagi.
“Teja, Varsha, ini adalah Pak Putera Narendra. Pemilik Narendra Group-”
“Dan fans berat game-game strategi milik Akasa Game.” Potong Pak Putera.
“Perusahaan terbesar se-Asia Tenggara yang bergerak di bidang IT dan computer security.” Timpal Teja dengan mata berbinar. “Tahun ini Narendra Group bahkan menempati posisi ketiga se-Asia berkat firewall kuat yang super sensitif dengan kecepatan respon cepat.”
__ADS_1
Pak Putera terlihat sangat terkesan dengan kalimat Teja. Ia pun tersenyum dan menjabat tangan anak laki-laki itu, “Luar biasa. Kalau Pak Surya tidak memperlakukanmu dengan baik, kau bisa mengetuk pintuku, Anak muda. Narendra Group selalu terbuka untukmu.” Tambah Pak Putera lagi, yang membuahkan rona merah di wajah Teja.
“Teja merupakan penggemar berat Pak Putera. Saya sering melihatnya membaca buku-buku yang Anda tulis.” Ucap Varsha.
“Terima kasih. Saya harap Teja tidak merasa bosan dan mengantuk dengan buku-buku tebal itu.” Respon Pak Putera tersenyum, menjabat tangan Varsha.
Kemudian keempatnya pun berbincang sebentar. Sebelum Surya hendak pamit, Pak Putera menariknya mendekat. Lalu berbisik di telinganya.
“Good luck. Dan bekerja keraslah karena aku ingin melihat mereka lagi.”
“Saya sedang mengusahakannya, Pak Putera. Doakan saja.” Jawab Surya turut berbisik.
Pak Putera tersenyum mengangguk dan akhirnya melepas pergi ketiga orang itu. Namun tanpa mereka sadari, sejak tadi ada seseorang yang mengamati kedekatan keempat orang tersebut. Seorang wanita anggun berusia awal 50-an yang mengawasi mereka dengan kedua mata tajam miliknya.
Si ‘Elang Merah’.
***
Curcol Author:
Author: "Dewa? Tessa? Kalian di mana dah??"
<3<3<3<3<3<3<3
Kira-kira dapet restu ga ya dari si ibu camer hehe ;D
Oke, deh. Semoga suka ya guys. Jangan lupa love, komen, dan jempolnya <3
Nuhun\~
- Bawang
__ADS_1