
“Ah, akukebetulansaja ada urusandidekatsini. Jadi begitu akumelihatTejadankamu, aku menepi. Kalianmauke Akasa Tower, kan?”
Varsha hampir tidak bisa menangkap jelas kalimat Surya saking cepatnya ia berbicara. Pria itu baru saja memarkirkan mobilnya di dekat Teja dan dirinya. Kebetulan Varsha dan putranya memang sedang menunggu bus untuk ke Akasa Tower.
“Terima kasih, Om Surya,” ucap Teja cepat.
Varsha baru saja hendak menolak pria tampan itu, namun Teja sudah terlebih dahulu membuka pintu belakang dan duduk di dalamnya. Kemudian putranya membuka kaca jendela dan tersenyum manis.
“Ayo Ma, masuk.”
Wanita cantik itu pun jadi bingung harus melakukan apa. Akhirnya ia tak ada pilihan lain, selain bergabung dengan Teja. Ketiganya pun bersama-sama meluncur ke Akasa Tower dalam mobil Surya.
Varsha melirik pria di sampingnya. Hari ini Surya tampak tampan seperti biasanya. Mengenakan setelan abu-abu rapi dengan dasi yang sepadan. Namun pada wajahnya yang tanpa cela kini tampak rona ungu kehijauan samar.
Ia sebenarnya penasaran ingin tahu apa yang terjadi namun terlalu gengsi untuk bertanya. Namun Surya sudah menangkap basah Varsha yang terus menatap bekas lebamnya. Pria itu pun tersenyum kecil.
“Aku tersandung dan terjatuh. Lalu pipiku terbentur,” jelas Surya tanpa ditanya.
Varsha menggigit bibirnya. Merasa khawatir sekaligus kesal dengan jawaban Surya. Kenapa pria di sampingnya ini selalu terluka di kepala? Kecelakaan lima tahun lalu, Akasa Hotel, kemudian lukanya yang sekarang. Memangnya dia punya berapa nyawa?
Apa dia tidak mau melihat Teja tumbuh besar hingga dewasa? Kenapa pria ini terus mengalami insiden dan melukai tubuhnya? Dan kenapa juga Varsha jadi geregetan dan jengkel sendiri sekarang ….
“Lain kali jaga tubuh tubuhmu dengan baik,” ucap Varsha pelan nyaris berbisik.
Namun Surya mendengarnya dengan jelas dan lantang. Hatinya bahkan terasa begitu berbunga-bunga sekarang. Layaknya sebuah tanaman yang sudah lama ditinggal pemiliknya bepergian dan akhirnya disiram kembali saat pulang.
Ia menyeringai manis melirik wanita cantik di sampingnya. Bidadari hujannya yang hilang lima tahun lalu kini telah kembali lagi. Di dalam hatinya ia merasa berterima kasih pada Axel karena telah melukai wajahnya. Sehingga Varsha jadi bicara padanya.
Ah, Axel. Tiba-tiba Surya jadi mengingat perkataan temannya itu sebelum mereka berpisah. Memintanya untuk meninggalkan Varsha dan Teja. Namun tentu saja Surya tak akan menurutinya. Meskipun dia menghargai pertemanannya dengan Axel, kedua orang yang ia sebutkan juga sangat istimewa di hatinya.
Varsha dan Teja adalah sumber kebahagiaan Surya. Ia takkan lagi melepaskan mereka.
**
“Hati-hati, Mama.”
“Terima kasih, Sayang.”
Mama Teja baru saja pamit pergi ke kampusnya untuk mengurus administrasi sebelum kelulusan. Meskipun tadi Om Surya sempat menawarkan untuk mengantarkan, mamanya langsung menolaknya.
Akhirnya Teja dan Om Surya pun naik elevator bersama menuju kantor Akasa Game. Keduanya bicara akrab membahas berbagai topik. Saat mencapai lantai 45, Teja pun turun. Sementara Om Surya terus naik hingga lantai 51.
Teja duduk manis di kubik kerjanya, tepat di antara Om Ardi dan Tante Dania. Ia langsung menyibukkan diri dengan memasukkan berbagai macam kode rumit ke dalam layar laptop, yang merupakan hadiah ulang tahun dari Om Surya. Namun setelah beberapa saat, fokusnya sedikit terganggu.
__ADS_1
Tante Dania sedang menggambar sambil sesekali mengetukkan pensilnya ke meja. Sementara Om Ardi terus menyeruput es kopinya yang sudah nyaris habis sehingga suara yang ditimbulkan cukup keras. Tiba-tiba Teja tersenyum sendiri.
“Om Ardi, Tante Dania,” panggil Teja sambil menolehkan kepala ke kanan kirinya. “Teja mengerti sandi Morse,” lanjutnya kemudian.
“Om Ardi dan Tante Dania baru saja membicarakan mengenai kamera CCTV di Akasa Hotel, kan?”
Seketika Ardi terbatuk-batuk. Terkejut dengan komentar rekan kecilnya sekaligus karena tersedak serpihan es batu. Sementara Dania tersenyum canggung ke arah Teja.
“Sudah kubilang jangan membicarakannya di sini,” bisik Dania tajam pada Ardi.
“Justru ini bagus,” ujar Ardi setelah batuknya reda. “Teja bisa dipercaya dan kita membutuhkan keahliannya.”
Dania mengangguk setuju. “Betul juga. Tumben otakmu beres, Di.”
Ardi melirik sinis Dania kemudian kembali lagi fokus pada Teja. “Bagaimana Teja? Mau bergabung dengan kami?”
“Menginvestigasi kecelakaan di Akasa Hotel?”
Ardi dan Dania mengangguk bersemangat. Adanya tambahan kejeniusan Teja, tentunya akan sangat membantu perkembangan penyelidikan mereka.
“Tentu saja mau. Sebenarnya Teja sudah menanti-nanti untuk diajak sejak tadi,” ucap anak laki-laki itu tersenyum.
“Mantap!” teriak Ardi.
Kemudian Ardi menggiring Teja dan Dania ke sebuah ruangan di sudut kantor. Setelah memastikan tidak ada orang lain lagi di dalamnya, ia pun mulai bicara. Memberikan Teja penjelasan rinci mengenai informasi yang sudah mereka gali hingga saat ini.
Teja memang selalu merasa ada yang janggal dengan sikap mamanya tiap kali berhadapan dengan Om Surya. Namun ia akhirnya mengerti sekarang. Pasti mamanya terkejut sekali saat kembali bertemu dengan Om Surya. Ditambah lagi ia tidak mengenalinya.
“Ya. Namun kartu memori black box-nya hilang secara misterius,” kata Dania.
“Sementara itu, ada yang sengaja mengubah sudut kamera-kamera CCTV di Akasa Hotel. Sehingga banyak sekali titik butanya,” jelas Ardi. “Terutama di dekat panggung, tempat kecelakaan terjadi.”
“Sus …,” celetuk Dania.
“Sangat sus ....” Ardi setuju.
Teja tampak berpikir sesaat. Ia belum bisa mencari solusi untuk kartu memori black box yang hilang. Sementara untuk kasus Akasa Hotel ….
Tiba-tiba Teja menyeringai manis. Sebuah memori dari beberapa minggu yang lalu bermain di benaknya. Saat mereka bertiga mengunjungi Akasa Hotel untuk melakukan peninjauan sebelum peluncuran.
“Om Ardi sama Tante Dania, ingat Lebah 11?”
***
__ADS_1
Dewa membuat celah kecil pada tirainya. Ia sedang mengawasi gerak-gerik Raka melalui jendela. Melihat terus ke arahnya hingga asisten Surya itu pergi dan tak tampak lagi.
Kemudian Dewa berjalan menuju ruang belajarnya. Menatap sebuah lukisan besar lalu memegang bingkai kanannya dan menariknya. Rupanya ada sebuah brankas yang tersembunyi di sana.
Pria itu pun memasukkan sepuluh digit angka kode sandi ke kotak baja tersebut. Sedetik kemudian, pintu brankas terbuka. Tampak beberapa barang di dalamnya. Gepokan uang dolar dan emas batangan serta beragam dokumen lainnya.
Namun mata Dewa tertuju pada sebuah kotak hitam kecil di sudut. Tangannya pun meraih kotak tersebut dan mengeluarkannya dari brankas. Begitu kotaknya dibuka tampak sebuah microSD card di dalamnya.
Pria itu lalu mengambil kartu kecil tersebut lalu memasukkannya ke dalam sebuah tablet. Setelah beberapa saat menggeser-geser layarnya, akhirnya terlihat sebuah tombol ‘Play’. Dewa pun menekannya dan sebuah klip bermain di depannya.
Seorang pria berpakaian serba hitam sedang duduk di dalam mobil sambil berbicara di telepon. Kemudian ia menunduk ke bawah setir. Meskipun tidak terlihat ia sedang melakukan apa, bisa jelas terdengar ia sedang mengutak-atik sesuatu di dekat bangku supir. Tampaknya pria misterius itu juga tidak sadar bahwa dirinya sedang terekam kamera.
Tidak banyak yang mengetahui soal ini, namun setiap anggota Keluarga Abhiyoga memiliki dua kamera black box di dalam mobilnya. Satu merupakan yang jelas terpampang dan terlihat terpasang di dekat spion tengah. Sementara yang satu lagi justru terinstal di dalam spion tengahnya.
Dewa kini memainkan klip lainnya. Pada layar tablet tampak seorang pria tampan yang wajahnya terlihat panik. Ia sepertinya sedang menginjak-injak keras sesuatu di bawah kakinya.
“Kenapa remnya tidak bekerja??!!”
Tiba-tiba saja terdengar suara benturan keras dan videonya berputar 360 derajat. Setelah beberapa saat, klipnya tidak terlalu jelas karena layarnya sedikit statis. Namun begitu gambarnya kembali bersih, pria tampan tadi sudah terbaring tak sadarkan diri di kursinya. Pada kepalanya, terlihat darah segar mengalir keluar.
Surya, yang tampak lima tahun lebih muda, baru saja mengalami kecelakaan.
***
Sus : Suspicious (Mencurigakan).
Maaf, Authornya ketularan istilah game ‘Among Us’
Curcol Author:
Nah lo. Jeng jeng jeng jeng ><
Ada kah yang masih ingat sama Lebah 11?
<3<3<3<3<3<3<3
Semoga suka kawan2. Jangan lupa love, komen, jempol dan hadiahnya ;D
Terima kasih sudah membaca dan semoga harimu menyenangkan!
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1