
“Siap meluncurkannya Teja?”
“Siap, Om Ardi.”
Raut wajah keduanya tampak serius dan tatapannya fokus. Tangan mereka bergerak dengan lihai di atas controller layar sentuh yang terlihat rumit. Sesekali mereka menatap ke atas, lalu kembali lagi ke layar.
“Kalian sungguh-sungguh memakai drone canggih itu cuma untuk menempelkan hiasan di atas plafon?”
Teja dan Ardi menoleh serempak ke arah sumber suara. Di belakang mereka sudah ada Dania, dari Tim Lighting yang mengurusi gelap-terangnya tampilan game. Dahi gadis itu mengernyit menatap kedua laki-laki di depannya. Teja dan Ardi pun kemudian sama-sama menyengir manis.
Ketiganya sedang berada di dalam aula pertemuan Akasa Hotel. Satu minggu lagi akan diadakan peluncuran resmi mobile game DRF di sana. Untuk itulah Teja, Ardi, dan Dania sedang meninjau tempat tersebut. Sekalian membantu tim dekorasi untuk menghias. Walaupun kalau melihat keadaannya sekarang, sepertinya itu hanyalah alasan saja.
“Hmm, kayaknya ada yang nyangkut deh, Teja.”
“Coba kulihat, Om. Ah iya, Lebah 11 memang belum begitu stabil.”
Dania memutar kedua bola matanya. Sudah beberapa pekan terakhir ini, Teja dan Ardi terus mengerjakan ‘Honey Bee’ milik mereka saat tidak sedang fokus pada DRF. Honey Bee adalah nano drone canggih yang baik ukuran dan bentuknya didesain persis seperti lebah asli dengan fitur kamera beresolusi tinggi, memori besar, dan baterai tahan lama hasil karya Teja dan Ardi.
“Sepertinya terlalu berisiko menggunakan Lebah lain untuk membantu Lebah 11.” Kata Teja.
“Om setuju Teja. Kita tingkatkan dulu akurasi Lebah 1-10 baru kita turunkan Lebah 11 dari atas sana.”
“Jadi kalian baru saja membuat salah satu proyek termahal Akasa Game nyangsang di langit-langit hotel?” Tanya Dania tiba-tiba.
“No comment.” Jawab Ardi cepat.
“Maaf Tante Dania. Itu rahasia perusahaan.” Tambah Teja.
“Siapa yang suruh kalian memakai drone untuk menggantung hiasan, huh??”
Dania bersungut-sungut sambil berlari mengejar duo laki-laki jenius itu keliling aula. Sesekali terdengar ratapan Teja dan Ardi yang meminta ampun. Setelah Dania puas mengomeli mereka, ketiganya pun kembali ke Akasa Tower.
***
Surya tersenyum lalu menaikkan kedua tangannya mencoba meluruskan badan. Ia baru saja terbangun dari tidur yang panjang. Beberapa pekan terakhir ini, Surya terlelap dengan nyenyak. Namun di sisi lain, dia juga jadi tidak lagi mendapat mimpi-mimpi mengenai Rain.
Pria tampan itu mengambil ponsel dari atas nakas dan langsung terkejut begitu melihat waktu yang tampil di layar. Bahkan sudah ada beberapa panggilan tak terjawab dari Raka, asistennya. Ini pertama kalinya Surya ketiduran dan kesiangan bekerja.
Surya menghubungi Raka untuk mengabarkan bahwa ia akan terlambat ke kantor hari ini. Kemudian ia bergegas ke kamar mandi dan bersiap-siap. Siang ini akan ada rapat mengenai peluncuran mobile game DRF bersama timnya.
Raka sudah menunggu di luar ketika Surya membuka pintu rumahnya. Keduanya pun langsung meluncur menuju Akasa Tower. Untungnya, pagi ini Surya tidak memiliki agenda apapun sehingga tak ada jadwal yang terganggu.
Surya tiba di ruang rapat tepat waktu sesuai rencana. Seluruh timnya sudah duduk rapi di sana menunggunya. Akhirnya, mereka pun memulai presentasi.
Sebenarnya rapat kali ini hanya untuk memastikan sekali lagi bahwa seluruh bagian sudah sepenuhnya mantap sebelum acara peluncuran mobile game DRF. Surya menanyakan kesiapan setiap departemen lalu mengecek ulang daftar checklist-nya. Setelah merasa puas dengan jawaban mereka, ia akan beralih ke bagian lain.
“Ardi, kau sudah meninjau tempat pelaksanaannya?”
“Sudah, Pak Surya. Saya, Teja, dan Dania pergi mengecek aula pertemuan Akasa Hotel pagi ini.” Jawab Ardi. “Hanya tinggal menunggu tim dekorasi menghiasnya selama sepekan ini dan semuanya akan siap.”
“Pastikan semuanya berjalan sempurna.” Ucap Surya.
“Baik, Pak.”
Setelah dua jam, rapat peluncuran mobile game DRF pun akhirnya berakhir. Seluruh tim keluar ruangan dengan wajah bersemangat, tak sabar untuk meluncurkan versi game tersebut. Hanya tinggal Surya yang masih di dalam, membaca ulang proposal acara untuk puluhan kalinya. Seperti yang biasa dia lakukan.
__ADS_1
***
Teja sedang membaca buku tebalnya sementara Surya membaca berita dari ponsel. Keduanya sedang duduk di lobi utama Akasa Tower untuk menunggu Varsha menjemput Teja. Jika sudah tidak ada kegiatan lain, biasanya Surya memang suka menemani anak laki-laki itu. Tiba-tiba sebuah tangan kecil menyenggolnya.
“Om Surya, apa boleh kita bicara?”
Surya tersenyum mendengar pertanyaan Teja yang terdengar seperti orang dewasa, “Tentu saja, Teja.”
“Teja minta maaf sebelumnya tapi… sepertinya kado ulang tahun yang Om Surya kasih terlalu… hmm… “ Ucap Teja ragu-ragu.
Hati Surya tiba-tiba terasa terenyuh melihat Teja. Sesungguhnya, Varsha pun langsung menghubungi dirinya mengenai kado tersebut. Namun setelah Surya menjelaskan alasannya dengan baik, akhirnya Varsha pun menerimanya. Namun ia tak menyangka, anak laki-laki seumuran Teja sudah memikirkan hal-hal seperti itu.
“Teja, Om memang sengaja memilihkan hadiah itu karena ingin Teja juga berlatih dengan giat dalam programming dan game developing.” Jelas Surya. “Laptop itu memang sengaja didesain untuk orang di bidang tersebut dan Om ingin kemampuan Teja berkembang dengan maksimal.”
“Selain itu, kalau Teja masih ragu. Om sebenarnya sudah mendapat izin dari Mama Teja.”
“Sungguh, Om?” Tanya Teja, kedua matanya membesar.
“Iya.” Jawab Surya sambil mengusap kepala anak laki-laki di depannya.
“Terima kasih banyak, Om Surya.” Ucap Teja tersenyum lebar, lesung pipit kecil warisan dari mamanya pun sampai ikut muncul.
“Sebenarnya ada satu lagi yang mau Teja tanyakan Om. Boleh?” Tanya Teja lagi yang langsung direspon dengan anggukan dari Surya.
“Apa.... Om pernah… berbuat salah pada Mama?”
“Hm?” Kening Surya berkerut, raut wajahnya tiba-tiba tampak khawatir. “Apa ada sesuatu yang terjadi pada Mama Teja?”
“Ah, tidak Om. Lupakan saja.” Kata Teja tersenyum.
Sebenarnya Surya masih ingin menanyakan lebih jauh kenapa anak laki-laki itu sampai menanyakan hal tersebut. Namun Teja tiba-tiba mulai mengemasi barangnya setelah melihat ke arah luar. Yang artinya Varsha sudah datang.
“Kenapa Varsha selalu kehujanan?” Tanpa disadari, pertanyaan itu seketika terlontar begitu saja dari mulut Surya.
“Iya, Om. Mama selalu kehujanan.” Respon Teja mengangguk setuju. “Tapi hujan memang cocok dengan mama. Karena nama ‘Varsha’ dalam Bahasa Sansekerta artinya ‘hujan’.” Jelas Teja lagi.
Varsha… Hujan… Rain…
Tiga kata itu tiba-tiba berputar-putar di kepala Surya. Namun kedatangan Varsha membuat pikirannya kembali lagi ke lobi Akasa Tower. Tubuh wanita cantik itu kebasahan namun tidak terlalu parah karena hujannya tidak deras. Dan syukurlah ia juga memakai kaus berwarna gelap.
“Pak Surya.” Sapa Varsha mengangguk.
“Varsha.” Jawab Surya ikut mengangguk.
“Varsha!”
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari kejauhan. Seorang pemuda tampan sedang mendekati Varsha, Teja, dan Surya. Ketiganya pun refleks menolehkan kepala. Axel tampak tersenyum sambil berjalan menghampiri mereka.
“Hai, kalian sedang apa di sini?” Tanya Axel pada Varsha dan Teja.
“Kau juga mengenal Varsha dan Teja, Sur?” Tanya Axel lagi sebelum pertanyaan pertamanya sempat dijawab. Ia tak menyangka bahwa ketiga orang di depannya saling mengenal.
“Iya, Axel. Pak Surya adalah bos Teja.” Jawab Varsha.
“Teja adalah salah satu pengembang di Akasa Game.” Tambah Surya.
__ADS_1
“I see. Rupanya Teja kecil adalah seorang jenius, ya.” Puji Axel pada Teja yang wajahnya langsung merona merah.
“Kamu sendiri sedang apa di sini, Axel?” Tanya Varsha balik.
“Kebetulan aku ada bisnis dengan Surya.” Jawab Axel sambil menepuk pelan punggung Surya. “Tadi aku baru saja selesai meeting dengan tim Akasa Game.”
“Oh, begitu.” Respon Varsha.
Tiba-tiba Surya mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya. Sebuah amplop hitam berpita emas. Lalu ia menyodorkannya pada Varsha.
“Ini undangan untuk acara peluncuran mobile game DRF. Kuharap kau bisa datang.”
“Terima kasih, Pak Surya.” Ucap Varsha tersenyum.
Ia pun mengambil undangan berdesain elegan tersebut dari tangan Surya. Di atas amplopnya sudah tertulis nama lengkap Varsha dengan tinta emas. Selain itu, ada cap ‘VIP’ di salah satu sudutnya.
“Kau sudah menerima undanganmu, kan?” Tanya Surya pada Axel.
“Ya. Maaf sekali aku tak bisa hadir. Acaranya bertepatan dengan janji temu klien besarku di Aussie.” Jawab Axel dengan raut wajah kecewa.
“Seandainya aku tahu lebih awal. Aku bisa mengubah jadwalnya dan pergi menemanimu dan Teja. Sayangnya, kali ini tidak bisa.” Kata Axel lagi, kali ini kepada Varsha dan Teja.
Seketika sensasi panas yang kini terasa akrab datang lagi merasuki hati Surya. Kedekatan Axel dengan Varsha dan Teja sangat membuat Surya merasa tidak nyaman. Seolah ada seorang musuh tak terduga yang tiba-tiba datang menyerang tembok pertahanannya.
“Apa kau sekarang sedang menjemput Teja pulang?” Tanya Axel.
“Iya.” Jawab Varsha mengangguk.
“Nice. Kalau begitu sekalian bareng saja denganku. Kebetulan urusanku juga sudah selesai.”
“Ah… oke. Terima kasih, Axel.” Respon Varsha sedikit ragu.
“You’re welcome.” Ucap Axel tersenyum.
Surya masih fokus berusaha menenangkan deru hatinya yang sedang bergejolak. Ia bahkan belum menyadari penuh situasi yang baru saja terjadi di depannya. Namun Varsha, Teja, dan Axel sudah mulai berpamitan dengan pria tampan itu.
“Teja pulang dulu, Om Surya. Terima kasih untuk hari ini.”
“Terima kasih, Pak Surya.”
“Kami duluan ya, Sur.”
Surya pun akhirnya mengangguk. Hatinya semakin panas terbakar melihat ketiga orang yang berjalan bersama di hadapannya. Bagaikan ada yang terus menusuk-nusuknya dengan pisau tumpul dan menancapkan ribuan jarum di sana. Surya menghela napas panjang. Kini dirinya tak bisa memungkirinya lagi.
Ia punya perasaan spesial terhadap Varsha.
***
Curcol Author:
Cie yang udah tahu perasaannya. Yang sabar ya, Sur ;p
<3<3<3<3<3<3<3
Oke, semoga suka ya temen-temen. Jangan lupa love, komen, dan jempolnya ya biar Author semakin semangat menyiksa karakter ;D (Lho?! kabuuuuuuuur!!)
__ADS_1
Nuhun\~
- Bawang