Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
XXII. Malam Panjang


__ADS_3

“Korban luka luar, pria usia 28 tahun, tekanan darah 150/90, suhu tubuh 37 derajat. Kejatuhan tiang pencahayaan panggung.”


“Korban mengalami syok, anak laki-laki usia 5 tahun, tekanan darah 90/60, suhu tubuh 36 derajat.”


Dua tempat tidur didorong laju menuju unit gawat darurat. Terlihat dua pasien terbaring di atasnya. Sederetan wajah cemas tampak terus mengikuti keduanya dari belakang, berusaha mengimbangi kecepatan para petugas medis.


Mata Varsha berkaca-kaca melihat kondisi dua laki-laki di hadapannya. Teja hanya terdiam dan tidak berbicara sama sekali. Wajahnya pucat dan tatapan matanya tidak fokus. Tubuh kecilnya juga terlihat menggigil kedinginan.


Sementara keadaan Surya…


“Kami akan melakukan CT Scan pada Bapak Surya dan Anak Teja.” Ujar salah satu dokter yang bertugas. “Kami akan memutuskan tindakan selanjutnya setelah memeriksa hasilnya.”


“Mohon maaf Bapak dan Ibu, keluarga diharapkan untuk menunggu di luar. Kami akan mengabari Anda semua saat kami mengetahui hasilnya.”


Seorang suster lalu menuntun rombongan keluarga Surya dan Teja menuju keluar ruangan. Kemudian pintu unit gawat darurat pun ditutup rapat.


Varsha menggigit bibirnya. Ia masih bisa melihat sisa-sisa darah pada tangan dan gaun putihnya. Begitu ia menyadari apa yang terjadi di atas panggung tadi, Varsha langsung melesat menghampiri Teja dan Surya. Setelah memastikan Teja baik-baik saja, Varsha pun mengecek keadaan Surya.


Dirinya begitu terkejut saat ia merasakan kepala belakang Surya yang basah bersimbah darah. Ia berusaha menepuk bahu Surya untuk menyadarkannya, namun pria itu tak juga merespon. Situasi di sekitar Varsha begitu heboh dan ramai. Namun ia tak bisa mendengar apa-apa. Para pengawal berdiri membuat barikade di sekelilingnya, sementara jajaran wartawan berusaha mengambil foto.


Malam ini merupakan hari peluncuran mobile game DRF sehingga wajar jika banyak jurnalis yang sengaja diundang untuk hadir. Namun, siapa yang menyangka mereka akan menjadi saksi mata langsung kecelakaan yang terjadi di sana. Mendapatkan laporan ‘hot’ terkini selain peluncuran game terbaru Akasa Game. Tentu saja semuanya langsung berlomba-lomba menjadi pemburu berita tercepat.


Di tengah hiruk pikuk yang terjadi, tiba-tiba Varsha merasa ada seseorang yang menarik tangannya. Berusaha berbicara dengannya dan melepaskan pegangannya pada Surya, namun tak ia acuhkan. Dengan panik Varsha langsung menekan nomor darurat pada ponselnya. Kemudian menunggu hingga para petugas medis datang membawa Surya dan Teja ke rumah sakit.


“Keluarga Anak Teja Ametarka?”


Suara tersebut seketika menyadarkan lamunan Varsha. Ia dan Tessa pun segera menuju ke arah suster yang memanggil nama Teja. Jantungnya berdebar keras, bersiap mendengar apa yang terjadi pada buah hatinya.


“Saya Mamanya Teja.” Ucap Varsha.


Kemudian Varsha dan Tessa dibawa masuk lagi ke dalam unit gawat darurat. Putranya kini sedang tertidur dengan selang infus pada tangannya. Seorang dokter lalu berjalan menghampiri Varsha.

__ADS_1


“Setelah melihat hasil CT Scan Teja, semuanya tampak baik-baik saja.” Ucap dokter di depannya. “Anak Ibu mengalami syok ringan jadi kami sarankan untuk beristirahat di sini sejenak. Setelah ia bangun, Teja diperbolehkan untuk pulang.” Jelasnya lagi.


Varsha merasa seolah seseorang baru saja mengangkat batu besar dari dadanya. Ia dan Tessa pun berkali-kali mengucapkan terima kasih pada dokter tersebut. Kemudian Varsha mengusap pelan kepala Teja yang sedang terlelap. Ia merasa sangat bersyukur dan lega sekali sekarang.


“...Kami perlu memantau lagi keadaan Bapak Surya...”


Sayup-sayup Varsha bisa mendengar suara dokter tadi dari balik tirai. Tak lama kemudian, ia melihat tempat tidur Surya dipindahkan menuju keluar ruangan. Kepala pria itu sudah diperban rapi sementara pada lehernya terpasang penyangga.


Jantung Varsha terasa teremas melihat pemandangan di depannya. Tiba-tiba saja badannya teroleng sedikit ke samping. Lalu Tessa dengan sigap menangkap tubuh sahabatnya itu. Kemudian ia menuntun Varsha ke tempat duduk di sebelah tempat tidur Teja.


“Kamu mau minum atau makan sesuatu Var?” Tanya Tessa pelan.


Varsha menggeleng. Ia tak merasa lapar ataupun haus. Nyatanya ia sedang mengkhawatirkan kondisi Surya sekarang. Tapi ia juga tidak mau meninggalkan buah hatinya terbaring sendirian di ruangan ini.


“Kalau begitu aku keluar dulu sebentar untuk mengurus beberapa hal. Oke?” Ucap Tessa.


Varsha merespon dengan anggukan pelan lalu Tessa pun menghilang ke balik tirai.


***


“Fraktur pada tengkoraknya pun tidak cukup parah hingga perlu dilakukan operasi. Namun tetap saja, kondisi Pak Surya perlu dipantau setidaknya untuk dua sampai tiga hari ke depan.” Lanjutnya kemudian.


“Apa ada luka lainnya, Dok?” Tanya Dewa.


“Ada beberapa luka memar ringan pada tubuh Bapak Surya. Kami akan memberikan antiradang dan pereda nyeri nanti.”


“Baik, Dok. Terima kasih.” Ucap Ibu Tara.


Tiga anggota Keluarga Abhiyoga sedang menatap Surya dari balik kaca transparan. Saat ini, pria itu sedang terbaring di dalam unit perawatan intensif karena kondisinya masih belum terlalu stabil. Dokter akan memantau keadaan Surya selama beberapa hari ke depan dan melihat perkembangannya nanti.


Tangan Ibu Santika terus-menerus mengusap punggung adik iparnya. Wajahnya tampak begitu cemas melihat paras Ibu Tara yang pucat. Sementara itu, Dewa berdiri di samping keduanya. Kekhawatiran juga terpancar jelas pada kedua matanya.

__ADS_1


Ibu Tara menggenggam erat tangan kakak iparnya, “Kak Santika, sebaiknya aku sendiri saja yang menunggu Surya di sini.”


“Tara, Kakak tidak apa. Biarkan Kakak menema-“


“Sekarang sudah larut malam. Kak Santika sebaiknya istirahat.” Potong Ibu Tara. “Besok pagi, Kakak bisa kemari lagi dengan kondisi yang lebih segar.”


“Dewa, antarkan mamamu pulang.” Ucap Ibu Tara lagi sebelum Ibu Santika sempat mendebatnya.


“Baik, Tante Tara.” Jawab Dewa. “Nanti aku akan kembali lagi setelah mengantarkan mama pulang.”


Ibu Tara pun mengangguk pada Dewa. Lalu melihat pasangan ibu dan anak itu akhirnya pergi berjalan meninggalkan rumah sakit. Begitu keduanya sudah tak tampak lagi, Ibu Tara menghela napas panjang. Dia menguburkan wajahnya ke dalam dua tangannya, kemudian terisak pelan.


Sebagai seseorang yang menduduki jabatan tertinggi di Akasa Group, Ibu Tara selalu tampak tangguh dan tenang. Ia selalu bisa mengontrol emosinya dan tak pernah menunjukkan kelemahannya di depan orang lain. Namun kali ini ia tak kuasa menahannya. Bagaimanapun juga, putranya lah yang sedang terbaring lemah tak berdaya di sana.


Mengapa ada saja bencana yang menimpa Keluarga Abhiyoga? Surya dan dirinya bahkan belum pulih benar dari belenggu tragis yang menimpa keluarganya beberapa tahun lalu. Namun kini, sudah ada musibah lainnya.


“Surya, yang kuat ya, Nak. Jangan tinggalkan Mama sendirian di sini.” Bisik Ibu Tara pelan dari balik tembok kaca.


***


Curcol Author:


Yang sabar ya para mamah, huhuhu :(((


<3<3<3<3<3<3<3


Semoga menikmati bab ini ya guys. Jangan lupa love, komen, dan jempolnya...


Nuhun\~


- Bawang

__ADS_1


__ADS_2