Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
XXVI. Hadir


__ADS_3

“Panas, Teja.”


Bayu baru saja memegang dahi kakaknya. Pagi ini keponakannya tiba-tiba saja membangunkannya. Memberitahukan padanya bahwa Varsha sepertinya sakit.


“Iya, Om Bayu. Setelah aku mengeceknya dengan termometer rupanya suhu tubuh mama mencapai 38,2 derajat,” ujar Teja cemas.


Varsha tampak sedang tidur, namun sepertinya tidak nyenyak. Sesekali ia membuat gerakan kecil dan mengerutkan keningnya. Keringat dingin juga tampak membasahi wajahnya.


Teja mengusap peluh mamanya dengan handuk kecil kering. Lalu mengambil handuk kecil lainnya yang sudah direndam air dingin dan diperas untuk diletakkan di atas dahinya. Jarang sekali Teja melihat mamanya dalam keadaan seperti ini. Bahkan bisa dibilang nyaris tidak pernah sama sekali.


Di mata Teja, mamanya adalah seorang super woman. Layaknya tokoh Srikandi dalam pewayangan. Selalu tangguh dan bisa diandalkan. Apapun kesulitan Teja, mamanya pasti bisa membantu mengatasinya dan selalu punya jawabannya.


Apalagi jika dirinya lupa meletakkan sesuatu di suatu tempat. Tiba-tiba saja mamanya dengan ajaib bisa menemukannya dengan cepat walaupun Teja sudah mencarinya di spot yang sama sebelumnya. Kekuatan seorang ibu memanglah luar biasa.


“Teja, Om Bayu beli obat dulu di apotek ya. Sepertinya persediaan di rumah habis,” ujar Om Bayu sambil mengenakan jaketnya.


“Baik, Om Bayu. Hati-hati, ya.”


Bayu mengangguk lalu pergi meninggalkan rumah. Teja melirik mamanya yang tampak pucat. Hari ini giliran dirinya lah yang harus bisa diandalkan oleh mamanya. Ia akan merawat mamanya hingga membaik.


Setelah kembali mengganti kompres mamanya, Teja mencari ponselnya. Kemudian ia mengirimkan pesan teks pada beberapa orang. Untuk Tante Tessa, mengabarkan bahwa mamanya sedang sakit. Untuk Om Surya dan Miss Leti, menjelaskan bahwa dirinya tak bisa masuk hari ini karena sedang merawat mamanya. Kemudian pada Om Mario dan manajer minimarket, memberitahukan bahwa mamanya tak bisa bekerja karena kurang enak badan.


Begitu mendengar bahwa sahabatnya sedang sakit, tentu saja Tessa langsung meluncur ke rumah Varsha. Namun rupanya bukan hanya dirinya yang bergegas pergi saat mengetahui kabar tersebut. Kini dua orang pria tampak menyalakan mesin mobil mereka lalu berkendara menuju tempat yang sama.


***


Axel menepikan mobilnya di sudut jalan yang agak jauh dari rumah Varsha. Awalnya ia mau memarkirkan mobilnya di dekat rumah temannya itu. Namun di sana sudah bertengger dua mobil lain sehingga spotnya penuh. Jadi ia tak punya pilihan selain menaruh mobilnya di sini.


Axel mengambil parsel buah dari jok belakang. Sebelumnya ia sempat mampir ke supermarket untuk membelinya. Begitu ia mendengar dari Mario bahwa Varsha sakit hingga tak masuk bekerja, ia langsung memutar mobilnya berbalik arah menuju rumah wanita itu.


Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, akhirnya ia tiba di depan rumah Varsha. Rupanya salah satu mobil yang terparkir di sana adalah mobil Tessa. Axel mengenalinya karena pernah melihat hatchback merah itu terparkir di Private Cafe saat berkunjung ke sana.


Sementara mobil yang satu lagi merupakan sedan mewah berwarna biru metalik gelap. Cukup aneh sebenarnya melihat mobil sekelas itu terparkir di kawasan begini. Sedan itu lebih cocok disandingkan dengan mal megah atau rumah besar bak istana.


Tiba-tiba Axel melihat sebuah siluet samar dari jendela supir di depan. Tampaknya pemiliknya masih berada di dalam mobil tersebut. Setelah beberapa saat, Axel pun akhirnya memasuki teras depan rumah Varsha dan mengetuk pintunya.


“Axel? Oh, masuk-masuk,” ucap Tessa yang sama sekali tak menyangka bahwa temannya itu datang menjenguk.


“Hai, Tes. Bagaimana keadaan Varsha?” tanya Axel sambil membuka sepatunya sebelum masuk ke dalam.

__ADS_1


“Tadi sudah dikasih obat sama Bayu, adiknya, sebelum ia pergi kuliah. Sekarang Varsha masih tidur,” jawab Tessa. “Oh, parsel buahnya kamu letakkan di meja makan saja, Xel.”


“Oke.”


Tessa lalu menggiring Axel ke depan pintu kamar Varsha yang sedikit terbuka. Dari celahnya, ia bisa melihat wanita cantik itu terbaring di atas tempat tidur. Sementara Teja sedang mengganti kompresnya. Di saat bersamaan, Teja melirik ke arah pintu dan melihat Axel. Anak laki-laki itu pun tersenyum lalu berjalan pelan menghampirinya.


“Terima kasih sudah datang menjenguk, Om Axel,” ucap Teja begitu keluar kamar.


Axel tersenyum lalu mengangguk, “bagaimana keadaan mamamu?”


“Suhu mama sudah turun, Om. Tidak sepanas tadi pagi sebelum diberi obat oleh Om Bayu,” jelas anak laki-laki itu.


“Syukurlah,” kata Axel lega.


Ketiganya kemudian berbincang sebentar, lalu Teja pamit lagi untuk menjaga mamanya. Meninggalkan Tessa dan Axel duduk berdua di ruang tamu.


“Apa Varsha sungguh tak apa?” tanya Axel begitu Teja hilang ke balik pintu kamar Varsha.


Tessa mengangguk, “tampaknya hanya kelelahan saja.”


“Apa berhubungan dengan kecelakaan di Akasa Hotel?” tanya Axel lagi masih tak yakin.


“Ya,” respon Axel setuju.


Tiba-tiba pria itu merasakan ponselnya bergetar dari dalam saku jasnya. Ia pun meraihnya dan mengecek pesan yang masuk. Selesai membacanya, Axel menghela napas pelan.


“Maaf, sepertinya aku harus segera kembali lagi ke kantor,” ucap pria tampan itu sambil bersiap berdiri.


“Oke. Terima kasih, Xel. Nanti akan kusampaikan pada Varsha kalau kamu datang menjenguk.”


Axel mengangguk,“Tes, bisa tolong hubungi aku jika ada apa-apa dengan Varsha?”


Tessa tersenyum, “baiklah. Tenang saja.”


“Thanks.”


Setelah berpamitan dengan Teja dan Tessa, Axel pun bergegas pergi menuju mobilnya. Sementara itu, sedan mewah tadi masih saja terparkir di depan rumah Varsha.


***

__ADS_1


Keesokan harinya Axel kembali lagi ke rumah teman SMA-nya itu. Seperti kemarin, ia pun masih tak mendapatkan spot parkir di depan rumah Varsha. Dua mobil yang sama masih duduk manis di sana.


Saat ia sudah dekat dengan tujuannya, Axel melihat seorang pria meletakkan bungkusan kertas cokelat berukuran sedang di depan pintu rumah Varsha. Ia mengenakan hoodie putih dengan tudung yang dinaikkan ke atas kepala. Kemudian pria itu berjalan cepat masuk ke dalam sedan biru metalik gelap yang terparkir tepat di depan dan pergi.


Segudang pertanyaan tiba-tiba terlintas di benak Axel. Kenapa pria itu ada di sini. Bukankah seharusnya ia terbaring di rumah sakit. Beberapa hari sebelumnya, Axel hendak mengunjungi pria tersebut, namun asistennya mengatakan bahwa kondisinya masih belum stabil dan sebaiknya tidak dijenguk dulu.


Namun apa yang barusan dilihatnya?


Tanpa disadari, Axel sudah berada di depan pintu rumah Varsha. Ia pun akhirnya mengetuknya dan tak lama pintunya pun dibuka. Teja sudah berdiri di depannya dan mempersilakannya masuk.


“Oh, ini kan bubur ayam kesukaan Mama. Terima kasih, Om Axel,” ucap Teja sambil membawa bungkusan kertas cokelat sedang itu ke dalam setelah mengecek isinya.


“Wah, terima kasih banyak Axel. Antrinya kan harus dari pagi-pagi sekali kalau tidak mau kehabisan,” ujar Tessa. “Kau bahkan juga membelikan beberapa porsi untuk kami. Mantap, Xel,” lanjutnya lagi sambil mengeluarkan satu per satu mangkuk kertas dari dalam bungkusan cokelat tersebut untuk menyajikannya.


“Terima kasih ya, Xel,” ucap Varsha pelan.


Wanita cantik itu sedang duduk bersandar di atas salah satu kursi di dekat meja makan. Tubuhnya terbalut piyama yang dilapisi lagi dengan kardigan. Wajahnya tampak sedikit pucat namun keadaannya sudah jauh lebih baik dari kemarin.


Mendengar pujian di sana-sini mengenai bubur ayam itu membuat Axel menjadi sedikit canggung. Di satu sisi ia ingin sekali mengiyakan dan menjadi orang yang mengantarkan bungkusan cokelat itu. Namun di sisi lain, hati kecilnya tahu memang bukan dia orangnya.


“Maaf bukan aku yang membawakannya,” kata Axel akhirnya.


“Aku melihat Surya yang tadi meninggalkannya di depan pintu.”


***


Curcol Author:


Jeng jeng jeng jeng!


<3<3<3<3<3<3<3


Aduh mo cepet2 nulis yang hepi2 lagi deh ahahaha xDDD


Oke guys, semoga suka ya. Jangan lupa love, komen, dan jempolnya.


Semoga liburanmu menyenangkan hari ini hihihi ;D


Nuhun\~

__ADS_1


- Bawang


__ADS_2