Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
XXIV. Rain


__ADS_3

Varsha melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 05:30 pagi. Sebentar lagi Teja akan bangun, jadi ia harus buru-buru sampai di rumah. Begitu tiba, Varsha langsung berganti pakaian dan mulai menyiapkan sarapan untuk Teja dan Bayu. Sesudahnya, ia pun mengantarkan putranya ke sekolah lalu pergi bekerja.


Pada malam hari, begitu melihat putranya terlelap, Varsha langsung kembali lagi menuju rumah sakit dan memantau keadaan Surya. Kemudian setelah pagi datang, dia akan pulang sebelum buah hatinya terbangun. Intinya, aktivitas Varsha selama beberapa hari ke belakang selalu sama. Namun malam ini ada yang berbeda.


Surya tak lagi berada di unit perawatan intensif. Rupanya siang tadi, pria itu sudah dipindahkan ke kamar pasien karena kondisinya sudah stabil. Suster yang bertugas di sana memberi tahu Varsha bahwa Surya telah dipindahkan ke ruang VVIP di lantai lima.


Awalnya suster tersebut sempat ragu untuk mengabarkannya pada Varsha. Namun dirinya mengenali wajah wanita cantik yang selalu menanti di depan kamar pasien ICU tersebut. Ia jadi tak sampai hati jika harus membuat wanita itu kebingungan mencari tubuh pria yang selalu dijenguknya.


Lantai lima rumah sakit tempat Surya dirawat hanya memiliki lima ruangan. Kelimanya merupakan kamar pasien kelas VVIP. Masing-masing ruangan memiliki dua pintu kayu besar yang terdapat jendela kaca kecil di salah satunya.


Sejujurnya Varsha awalnya hendak mengintip ke kamar Surya melalui kaca transparan kecil itu, namun ia mengurungkan niatnya. Akhirnya Varsha memutuskan untuk pergi ke tempat duduk yang letaknya agak jauh dari kamar Surya dan menunggu saja di sana.


Selama berjam-jam, Varsha terdiam di sana. Sesekali ia membaca buku di tangannya, namun tak satu pun ada kata yang masuk. Ia pun hanya menatap halaman yang sama dengan ekspresi kosong. Tiba-tiba ia merasakan tempat duduk di sebelahnya telah terisi.


Varsha menolehkan kepalanya. Seorang wanita anggun berusia awal lima puluhan sudah duduk di sampingnya. Tanpa sadar Varsha pun menelan ludahnya. Wanita itu adalah Ibu Tara, mamanya Surya. Di samping Chairman Akasa Group itu juga tampak seorang wanita muda lain, dengan pakaian berjas rapi.


“Kondisi Surya sekarang sudah cukup stabil,” ujar Ibu Tara. “Kemarin dia sempat tersadar sesaat, namun tertidur lagi. Dokter bilang itu reaksi yang normal karena ada pendarahan di kepala,” jelasnya.


Varsha menganggukan kepalanya pelan dan tersenyum, “syukurlah.”


Ibu Tara menatap wanita muda di sampingnya. Sudah beberapa malam ini, dia melihat Varsha selalu menunggu Surya tanpa absen di luar ruang perawatannya. Rupa cantiknya kini tampak pucat dan lelah. Namun senyuman yang ia berikan tadi terasa begitu tulus. Benar-benar lega mendengar bahwa putranya baik-baik saja.


“Ada hal urgent yang perlu segera ditangani di perusahaan. Aku harap kau bisa menjaga Surya sebentar selama aku pergi,” ucap Ibu Tara.


Kedua mata Varsha membesar. Ia tak menyangka akan mendengar kalimat tersebut. Terutama dari mamanya Surya.


“Apa kau bersedia?” tanya Ibu Tara.


Varsha terdiam sesaat lalu mengangguk pelan, “Ya.”


“Bagus,” kata Ibu Tara tersenyum simpul pada Varsha. “Sherry, ayo kita pergi,” ucapnya kemudian pada wanita muda di sampingnya.


Begitu Ibu Tara dan Sherry sudah tak tampak lagi, Varsha menuju ke kamar Surya. Ia membuka pintunya perlahan-lahan karena takut akan mengganggu tidur pria itu. Begitu tiba di dalam, Varsha disambut dengan ruangan luas yang desainnya lebih mirip seperti suite hotel daripada kamar pasien.


Di tengah-tengahnya tampak seorang pria terbaring di tempat tidur. Varsha pun berjalan mendekatinya. Kemudian ia duduk di kursi yang berada tepat di sebelah tempat tidur Surya.


Dia tak pernah menatap Surya selama dan sedekat ini. Kecuali tentu saja lima tahun lalu. Bagian atas kepala pria itu masih diperban dengan rapi. Sementara wajahnya tampak sedikit pucat, walaupun tetap saja tak bisa menyembunyikan ketampanannya. Beberapa luka memar yang sebelumnya jelas terlihat, kini juga sudah mulai memudar. Penyangga lehernya pun sudah dilepas.


Wanita cantik itu lalu meletakkan satu tangannya di pinggir tempat tidur untuk memangku wajahnya. Kedua matanya masih memperhatikan lekat-lekat pria tampan di hadapannya. Entah mengapa melihat rupa Surya yang begitu tenang dan damai, membuat segala stres Varsha hilang. Tanpa disadari Varsha memejamkan matanya dan akhirnya tertidur.


***


Di mana aku? Sebuah tebing?


“Maaf Kak, boleh minta tolong fotoin?” 


Siapa gadis ini? Tunggu. Kenapa tubuhku bergerak sendiri??


JEDAR!!

__ADS_1


Siapa sebenarnya gadis ini? Kenapa aku jadi hujan-hujanan bersamanya?


“Bagaimana…. jika berkenalan dengan nama samaran? Aku mulai ya. Namaku… hmmm… Rain. Hai, namaku Rain.” 


Rain? Rain?? Benar! Gadis ini adalah Rain.


“Karena hujan?” 


Sekarang bukan hanya tubuhku yang bergerak sendiri, mulutku juga.


“Karena hujan. Namamu?” 


“Sun.”


Sangat kreatif sekali dirimu dalam memilih nama, Surya.


“Son? Anak laki-laki?”


“Sun. Matahari.”


Sun. Matahari. Surya.


Bruk!


Sebentar, ini di mana? Atap mobil? Bukan. Ini atap sebuah karavan. Tempat aku dan Rain berbincang bersama sepanjang malam.


“Menjadi ayah.”


Rain jelas-jelas sedang berusaha menahan senyumnya mendengar jawabanku. Menampakkan dua lesung pipit manis yang malu-malu untuk muncul. Sepertinya ia tak menyangka aku akan berkata begitu.  


Dan rupanya aku sungguh-sungguh mengungkapkan keinginan terbesarku pada Rain saat itu…


Rrrrr! Rrrrr!


Ugh. Kepalaku terasa sakit sekali. Kenapa di sini begitu gelap? Di mana ponselku? 


Tunggu… tempat ini tampak tidak asing.


Oh… tempat ini. Benar… Di mana aku dan Rain memadu kasih...


Srek.


Rain baru saja mengubah posisi tidurnya mengarah menghadapku. Sehelai rambut terjatuh di depan wajahnya. Sepertinya ia sedang bermimpi buruk. Biar kurapikan sedikit rambut Rain, agar aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. 


Hmm… sebuah ciuman tak akan melukai Rain, kan?


Cup.


“Saya Varsha, mamanya Teja.”

__ADS_1


Rupanya aku sudah kembali ke kantorku. Ah! Ini adalah saat di mana aku pertama kali bertemu dengan Varsha dan Teja.


Slurp.


Teja baru saja menyeruput habis milkshake cokelatnya. Tiba-tiba suara tawa renyah terdengar dari samping anak laki-laki itu. Suaranya lembut dan indah. Sementara wanita itu tersenyum, dua lesung pipit manis memutuskan untuk muncul menghiasi wajahnya yang cantik. Membuat jantungku berhenti berdetak sejenak. 


Mengapa kedua perempuan itu sama-sama berlesung pipit? Mengapa penampakan keduanya begitu mirip? Mengapa Varsha selalu mengingatkannya pada Rain? Mengapa…



...


Tentu saja.


Jawaban itu selalu ada di ujung benakku tapi aku tak pernah bisa menggapainya. Namun kini aku mengerti. Akhirnya semuanya jelas.


Bukanlah karena keduanya sama-sama berlesung pipit ataupun begitu mirip. Bukanlah karena Varsha selalu mengingatkannya pada Rain. Namun karena dua perempuan itu adalah orang yang sama.


Varsha adalah gadis misterinya. Varsha adalah… 


...


...


Surya membuka matanya. Kepalanya masih terasa pusing namun rasa sakitnya tak terlalu parah. Suara dengkur pelan membuatnya menoleh ke samping. Rupanya ada seorang wanita cantik yang terlelap di pinggir tempat tidurnya.


Tiba-tiba Surya merasakan kehangatan mengalir di sekujur tubuhnya. Setelah penantian panjang bertahun-tahun, akhirnya ia berhasil menemukannya. Pria tampan itu pun tak kuasa menahan senyum.


Kemudian Surya menatap lembut wanita di sebelahnya. Adegan di hadapannya sekarang terlalu familier hingga Surya sempat beranggapan ia masih berada di alam mimpi. Wanita muda yang terlelap di sampingnya. Sehelai rambut yang jatuh di depan wajahnya. Persis dengan memorinya dulu.


Dan seperti waktu itu juga, Surya pun menggeser sehelai rambutnya ke telinganya. Menampakkan wajah cantik wanita tersebut. Namun tidak seperti yang lalu, kali ini dia terbangun.


Surya tersenyum menatap Varsha sebelum akhirnya memanggil sebuah nama.


“Rain.”


***


Curcol Author:


Maafkan Author yang tak shangghup untuk up 2 bab kemarin. Doakan saja agar hari ini bisa bayar utangnya dan up 2 ya huhuhuhu. [diam-diam kembali bersembunyi di balik tempurung]


<3<3<3<3<3<3<3


Jangan lupa love, komen, dan jempolnya ya guys ;D


Nuhun\~


- Bawang

__ADS_1


__ADS_2