
“Bekalnya nanti dimakan ya, Nak.”
“Iya, Mama.”
“Jangan jalan-jalan ke mana-mana ya. Ikuti kata Miss-nya.”
“Iya, Mama.”
“Kalau ada apa-apa, bilang sama Miss Leti, ya.”
“Iya, Mama.”
“Jangan lupa hubungi Mama, saat sampai di sana, oke?”
“Iya, Mama.”
Teja memeluk mamanya erat. Ia tahu kalau mamanya merasa sangat khawatir sekarang. Hari ini Teja akan melakukan study tour bersama TK-nya. Mereka akan mengunjungi museum-museum bersejarah, planetarium, akuarium dan lainnya selama satu hari penuh. Ini pertama kalinya Teja akan pergi keluar seharian tanpa mamanya.
Hari masih sangat pagi dan udara masih terasa dingin. Varsha akhirnya melepaskan pelukannya, kemudian menarik ritsleting jaket Teja sampai ke atas. Lalu ia amati lagi putra kecilnya dari atas ke bawah sambil memeriksa jika ada sesuatu yang terlupakan.
“Teja akan baik-baik saja, Mama. Teja kan anak Mama.” Kata Teja tersenyum mencoba meyakinkan mamanya.
Varsha menghela napas panjang lalu mengangguk pelan. Ia peluk lagi buah hatinya sampai tiba waktunya untuk naik ke bus. Akhirnya ia melepaskan Teja dengan berat hati.
“Jangan lupa ambil foto yang banyak buat Mama, ya?”
“Oke, Mama.”
“Hati-hati ya, Nak.”
Teja mengangguk cepat lalu naik ke atas bus. Ia kemudian memilih tempat duduk di sisi yang dekat dengan Varsha lalu melambaikan tangannya. Tak lama, bus Teja pun akhirnya pergi.
Varsha kembali menghela napasnya sambil terus menatap bus Teja hingga tak kelihatan lagi. Di sekitarnya juga banyak orang tua yang melakukan hal serupa dengannya. Varsha pun tersenyum bersimpati.
Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kafe Tessa. Sebenarnya sih masih terlalu pagi untuk sifnya. Namun Varsha rasanya enggan pulang ke rumah yang kosong. Karena Bayu juga sedang menginap di rumah temannya. Ia pun memberhentikan angkot dan langsung naik melaju menuju ke Private Cafe.
Setengah jam kemudian, Varsha pun sudah tiba di kafe sahabatnya. Rupanya Tessa juga sudah ada di sana. Wanita bertubuh bak model itu terlihat sedang memutar kunci pintu kafe.
“Lho, Var. Kok sudah ada di sini? Aku baru saja akan menjemputmu sehabis ini.” Tanya Tessa begitu melihat Varsha.
“Iya, aku habis mengantarkan Teja ke bus study tour-nya. Menjemputku?”
“Yes. Private Cafe tutup hari ini.” Jawab Tessa cepat sambil memasukkan kunci kafenya ke dalam tas.
“Oh, apa ada masalah?” Tanya Varsha tampak khawatir.
Tessa tampak mengambil sesuatu dalam tasnya, melambaikannya di depan Varsha sambil berkata, “Yep. Aku baru memenangkan dua voucher spa. Jadi kita akan ke spa seharian! Woohoo!”
***
Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali Tessa dan Varsha bisa menghabiskan waktu berduaan saja. Bukannya Tessa keberatan dengan keberadaan Teja. Tidak, tentu tidak sama sekali. Namun terkadang ia sangat merindukan kebersamaan dirinya dan Varsha yang bisa bersantai sambil membicarakan topik apapun tanpa perlu difilter.
“Serius?? Dia manggil kamu ‘Varsha’ bukannya ‘Mama Teja’?”
Tessa begitu terkejut hingga nyaris berdiri dari tempat duduk dan menghancurkan hasil pedikurnya yang sedang menunggu kering.
“Kemungkinan dia salah bicara…”
“Hmm… Mama Teja, Varsha, Mama Teja, Varsha… Dua panggilan itu enggak mirip sama sekali, Var…” Ujar Tessa berargumen.
“Bisa saja karena Kak Dewa dan kamu terus memanggilku Varsha, dia jadi…” Varsha mencoba mencari kata yang tepat tapi tak bisa menemukannya.
“Jadi kepingin juga sok akrab memanggil nama Varsha gitu?” Ledek Tessa tertawa kecil.
“Maksudnya kayak Kak Dewa sama kamu?” Balas Varsha.
“Heeeeh…” Tessa memutar kedua bola matanya dengan malas.
Tiba-tiba Varsha jadi mengingat apa yang dikatakan Axel padanya beberapa hari lalu. Seketika ada keinginan kuat untuk menggoda sahabatnya itu. Sebelum memulainya bahkan ia sudah terlebih dulu cekikikan.
“Atau kayak Mario sama kamu pas SD dulu?”
__ADS_1
“Eh?? Kamu tahu dari mana??”
Varsha pun semakin terkekeh melihat ekspresi wajah Tessa yang kaget. Perutnya sampai terasa sakit. Setelah merasa puas meledek sahabatnya, Varsha pun akhirnya memberi tahu Tessa.
“Axel. Dia sudah kembali dari Australia.”
“OMG. Serius?”
Varsha menganggukkan kepalanya. Lalu ia menceritakan tentang makan siangnya bersama Mario dan Axel beberapa hari lalu. Tessa yang mendengarnya pun jadi merasa iri dia tidak ada di sana bersama mereka waktu itu.
“Waah, senangnya kalian. Kangen ih kumpul-kumpul bareng.” Komentar Tessa. “Kita semua mesti kumpul-kumpul lagi nanti.”
“Pastinya.” Respon Varsha tersenyum.
Ia jadi merasa sedikit bersalah tidak mengajak Tessa tempo hari. Tiba-tiba ponsel Varsha berbunyi. Ia pun mengambilnya dari dalam tas. Seolah tahu Varsha dan Tessa sedang mengobrol tentang dirinya, nama ‘Axel’ terpampang di layar ponsel. Varsha pun mengangkat teleponnya, mengaktifkan pengeras suara.
“Halo?”
“Panjang umur.” Ucap Tessa tanpa suara.
“Hai, Var.
“Hai. Ada apa, Axel?” Tanya Varsha.
“Ah, aku mencoba menelepon Mario tapi tidak diangkat-angkat. Kupikir mungkin saja dia bersamamu. Apa dia di sana?”
“Oh, Mario sedang di luar kota. Lagi ada perkumpulan author webtoon. Mungkin pas dia lagi sibuk, Xel.” Jawab Varsha.
“Ah, I see.”
“Ada apakah gerangan?”
“Nothing. Aku tadinya mau mengajaknya main boling.” Kata Axel.
“Gimana kalau main bolingnya bareng kita aja, Xel?” Timpal Tessa tiba-tiba.
“Eh, itu suara Tessa bukan?” Tanya Axel terkejut.
“Of course. How are you, Tes?”
“Baik, baik. Kamu?” Jawab Tessa mengangguk meskipun Axel tak bisa melihatnya.
“Excellent.”
Tessa tersenyum. Sudah bertahun-tahun dia tidak berbicara dengan Axel. Rasanya senang juga bisa mendengar suara teman lamanya.
“Sip, sip. Jadi gimana tawaranku tadi?”
“Boling bareng? Ayo.” Respon Axel bersemangat.
“Bener, ya?” Tantang Tessa.
“Yes. Kalian di mana? Biar aku jemput.”
***
‘Strike!’
Papan skor lagi-lagi menunjukkan tulisan itu untuk kesekian kalinya. Varsha dan Tessa pun tak kuasa untuk bertepuk tangan. Axel hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Jelas sekali skor boling Axel paling tertinggi di antara ketiganya. Meskipun kemampuan Tessa tidak buruk-buruk amat sebenarnya. Tapi hal yang sama tak bisa dikatakan untuk Varsha. Boro-boro ‘Strike’, bisa menjatuhkan beberapa pin saja dia sudah senang.
Begitu giliran Varsha datang, dia pun berjalan mengambil bola. Saat dia hendak melemparkan bolanya, Axel tiba-tiba berdiri di sampingnya. Pria tampan itu lalu mencontohkan Varsha dalam gerak lambat selangkah demi selangkah cara melemparkan bola yang benar. Sementara Varsha mengangguk-angguk mendengarkan penjelasannya.
“Kamu lihat, penanda segitiga di papan itu, Var?” Tanya Axel menunjuk ke arah lane boling.
“Iya”
“Daripada melihat pin-pin yang jauh di depan, coba arahkan targetmu ke sana.”
“Oke, siap.” Kini Varsha merasa lebih percaya diri.
__ADS_1
“Pastikan lenganmu juga selalu lurus.” Kata Axel
Pria tampan itu lalu membetulkan posisi lengan Varsha. Sementara Varsha mengikuti arahannya. Di saat yang sama, Tessa mengamati kedua temannya itu dari kejauhan. Pasangan yang serasi pikirnya dalam hati.
Tessa jadi mengingat bagaimana Axel dan dia dulu merencanakan ‘penembakan’ Varsha. Tepat di hari kepergian mereka ke Australia, Axel akan meminta tolong beberapa penumpang pesawat untuk memberikan setangkai bunga mawar pada Varsha. Kemudian di akhir, Axel akan menyatakan perasaannya pada Varsha.
Namun tentu saja itu semua tidak terjadi. Varsha batal pergi dan Axel berangkat dengan orang yang berbeda ke negeri kangguru. Tessa menghela napas panjang. Berusaha mengingat bahwa sahabatnya itu sudah bahagia sekarang. Apalagi dengan adanya Teja di kehidupannya.
‘Strike!’
Varsha mengatupkan kedua tangannya di mulut. Tak percaya dia baru saja menjatuhkan semua pin bolingnya. Ia pun tersenyum ke arah Axel yang sedang mengacungkan dua jempol padanya. Lalu Varsha menoleh ke belakang, mencari Tessa. Sahabatnya itu tersenyum lebar sambil bertepuk tangan keras.
“Keren, Var!”
Ketiganya pun bermain beberapa ronde lagi, kini dengan kemampuan Varsha yang meningkat pesat. Di sela-selanya mereka mengenang memori masa-masa SMA dan saling meledek penampilan culun masing-masing saat itu. Suasana di arena boling pun penuh dengan canda dan tawa.
Hingga akhirnya tiba waktu untuk menjemput Teja. Axel mengantarkan Tessa pulang terlebih dahulu, lalu menemani Varsha menjemput putranya ke TK. Sebenarnya Axel sedikit tegang karena ini pertama kalinya ia akan bertemu dengan buah hati Varsha.
Tak lama, mereka pun sampai di sekolah Teja. Axel memarkirkan mobilnya lalu ikut keluar bersama Varsha saat busnya datang. Beberapa saat kemudian, seorang anak laki-laki keluar dari dalam bus. Ia lalu berlari ke arah Varsha dan memeluknya erat.
“Mama! Teja kangeeeen banget sama Mama.”
“Mama juga kangeeeeen banget sama Teja.” Ucap Varsha sambil mengusap-usap punggung Teja.
Axel tak kuasa menahan senyum melihat adegan di depannya. Ia pun menunggu, tak mau merusak momen yang sedang berlangsung. Akhirnya Teja melepaskan pelukannya. Lalu melirik ke arah Axel.
“Om… Mario?” Tanya Teja tidak yakin.
“Ini Om Axel, Sayang.” Jawab Varsha. “Saudara kembar Om Mario.” Tambahnya lagi.
“Senang berkenalan denganmu Teja.” Ucap Axel sambil menyodorkan tangannya ke arah Teja.
“Senang berkenalan dengan Om Axel juga.”
Teja tersenyum sambil meraih tangan Axel dan menjabatnya. Putra kecil Varsha berwajah tampan dan begitu menggemaskan. Axel bisa melihat ada kelembutan Varsha di sana.
“Mama, Teja sudah banyak mengambil foto untuk Mama.”
“Oh ya? Mama sudah tidak sabar melihatnya.”
Ketiganya pun naik ke mobil Axel dan meninggalkan sekolah Teja. Lalu Axel mengantarkan pasangan ibu dan anak itu ke rumah mereka. Di dalam perjalanan pulang ke apartemennya, entah mengapa Axel tak bisa berhenti tersenyum.
***
Curcol Author:
Sementara itu di Akasa Tower
Dewa: “Kenapa Sur, kok kayaknya lesu gitu?”
Surya: “Entahlah… rasanya sedikit kurang tak bersemangat saja…”
Dewa: “Karena sudah lama enggak liat mamanya Teja ya, fufufufu
Surya: “Retail kopimu apa kabar?”
Dewa:”……….”
<3<3<3<3<3<3<3
Maaf ya guys, Author enggak up kemarin huhuhu. Tapi tenang aja, hari ini jadinya dua hehe.
Tapi satu-satu nanti dipostingnya ya, mohon ditunggu <3
Ohoho, betewe salam kenal dari Axel <3
Baiklah semoga suka ya guys. Jangan lupa love, komen, dan jempolnya ;D
Nuhun\~
- Bawang
__ADS_1