
“Ganteng, Var.”
Varsha tersentak kaget di tempat duduknya. Di sebelahnya sudah ada Mario yang sedang mengamati gambarnya di tablet. Pria itu meletakkan jarinya di dagu lalu mengusap-usapnya.
“Tinggal dipoles sedikit lagi saja warnanya, sudah keren banget.” Tambah Mario lagi.
Hari ini kebetulan tidak ada banyak tugas yang harus dikerjakan. Jadi bagi asistennya yang ingin tinggal, mereka boleh memakai drawing tablet miliknya, untuk berlatih menggambar. Setidaknya dua kali dalam sebulan, Mario melakukan rutinitas ini. Kemudian dia akan berkeliling melihat-lihat gambar, memberi komentar, dan masukan di sana-sini.
Varsha melihat gambarnya lagi. Wajah di depannya tampak begitu familier. Seorang pria tampan dan tinggi. Memakai kemeja putih yang lengannya digulung sampai ke siku dan mengenakan celana bahan berwarna gelap. Tatapannya dingin namun terasa menghangatkan.
Deg.
Kenapa dia menggambar Surya…
Tiba-tiba kedua pipi Varsha terasa memanas. Ia pun langsung menyentuhnya berusaha untuk mendinginkannya. Namun sebuah suara berat dan agak serak terus-menerus terdengar di kepalanya. Memanggil namanya dengan lembut.
Varsha...
“Varsha.”
Varsha akhirnya sadar bahwa seseorang sedang benar-benar memanggilnya. Ia pun menoleh ke arah sumber suara. Lalu ia mengucek matanya. Dirinya baru saja melihat dua versi Mario di depannya. Kemudian ia mengedip lagi beberapa kali. Namun Varsha masih melihat pemandangan yang sama. Seketika ia sadar apa yang sedang terjadi.
“Axel!”
Varsha mengatupkan tangannya ke mulut, masih merasa terkejut. Sudah bertahun-tahun Varsha tidak melihat saingannya itu. Mungkin terakhir kali ia melihatnya adalah setelah mereka lulus SMA. Yah, kalau melihat Mario tidak dihitung tentunya.
Axel adalah saudara kembar Mario yang juga merupakan rival Varsha di bangku sekolah. Setiap tahunnya, mereka selalu bersaing untuk mendapatkan peringkat pertama. Dan Varsha tidak terkalahkan.
Si kembar Axel dan Mario sangat terkenal di sekolahnya dulu. Julukan mereka adalah Nakula dan Sadewa SMA Mandhala. Melihat keduanya berdiri di hadapan Varsha, mengingatkannya akan memori-memori indah saat masa sekolah dulu.
“Kapan kamu kembali, Axel?” Tanya Varsha tersenyum.
Lima tahun lalu, Varsha dan Axel merupakan penerima beasiswa ke Australia. Namun karena apa yang menimpa Varsha, ia tidak jadi berangkat. Akhirnya hanya Axel dan satu kandidat pengganti yang melanjutkan studi di sana.
Meskipun begitu, Varsha sama sekali tidak menyimpan dendam atau iri terhadap Axel. Ia sungguh-sungguh merasa senang bisa melihat Axel lagi. Apalagi tampaknya saingannya itu kembali dengan sukses.
“Hmm… sekitar sebulan lalu.” Jawab Axel.
“Dan kau baru mengunjungi kami sekarang?” Tanya Varsha sambil melipat tangannya di depan dada, berpura-pura marah.
“Karena itulah aku akan mentraktirmu makan siang sekarang.” Respon Axel cepat.
__ADS_1
“Jawaban bagus.”
Varsha tertawa kecil, menunjukkan dua lesung pipit manisnya. Tiba-tiba Axel merasa menyesal sekali telah berusaha menunda-nunda bertemu dengan wanita cantik di depannya. Sesungguhnya Axel ingin cepat-cepat menemui Varsha bahkan sejak dia menginjakkan kakinya di bandara. Namun ia takut temannya itu akan merasa canggung padanya, meskipun Mario sudah berkali-kali bilang bahwa Varsha tidak begitu.
Ketiganya pun naik mobil Axel menuju sebuah restoran yang tidak jauh dari studio Mario. Tak lama kemudian, mereka pun sampai dan mendapatkan tempat duduk. Mario langsung memesan order untuk mereka dengan cepat karena ia sudah kelaparan. Selain itu, Mario juga yang paling familier dengan menu di sana, sehingga Axel dan Varsha pun membiarkannya.
Mereka bertiga pun saling bercengkrama dan bersenda gurau sambil menunggu makanan datang. Axel merasa lega sekali bahwa hubungan dia dan Varsha tidak berubah. Masih akrab seperti dulu kala.
Tak terasa, pesanan mereka akhirnya datang. Axel, Varsha, dan Mario pun langsung menyantap makanan di hadapannya. Sambil sesekali bercanda atau mengungkit masa lalu.
“Var, tahu enggak? Si Axel dulu tuh, naksir sama kamu.” Ledek Mario.
“Oh ya?”
Seketika Axel terdiam. Tidak ada perubahan dari raut wajahnya, kecuali warna telinganya yang menjadi merah padam. Ia lalu melirik tajam Mario. Namun sepertinya yang namanya telepati antara saudara kembar itu hanya kebohongan belaka. Buktinya si Mario sama sekali tidak peka.
“Iya.” Jawab Mario lagi sehabis menyeruput es jeruknya.
“Dia bahkan sampai menanyakan Tessa bagaimana cara yang tepat untuk menyatakan perasaannya padamu.”
“Oh ya??”
“Var, kau tahu tidak kalau saat SD, Mario pernah nembak Tessa terus langsung ditolak?”
“Serius???”
Varsha membuka lebar mulutnya lalu kembali menutupnya. Ia tak percaya Tessa tidak pernah menceritakan soal ini padanya. Meskipun cukup wajar, karena Varsha dan Tessa baru saling mengenal saat SMP dan sejak itu mereka tak terpisahkan.
“Woi! Privacy. Privacy please...” Ucap Mario akhirnya menyerah.
Ketiganya pun kembali melanjutkan makan siang mereka dengan penuh canda dan tawa.
***
“Menurut Teja, game-game yang ada di daftar A lebih menarik daripada di daftar B, Om.”
“Om setuju.”
Surya menganggukkan kepalanya merespon Teja. Kedua laki-laki tampan itu sama-sama sedang meletakkan satu tangannya di dagu. Saat ini Surya dan Teja sedang mendiskusikan tentang game apa saja yang akan mereka tampilkan di Festival Akasa Game.
“Walau masih belum siap rilis, game VR ini cukup menarik juga untuk ditaruh di pameran.” Kata Teja lagi.
__ADS_1
“Betul Teja. Om sudah memasukkan itu ke dalam daftar kemarin. Sekalian ingin melihat bagaimana peluang dan antusiasme pasarnya nanti.”
“Iya, Om Surya. Teja juga baru mau bilang begitu.”
Surya tersenyum lalu melakukan fist bump dengan Teja. Senang sekali rasanya punya seseorang yang bisa diajak berdiskusi dan satu frekuensi dengannya. Selama ini ia cukup kesulitan menemukan orang tersebut.
Surya lalu memanggil Raka, asistennya, untuk segera mengurus dokumen yang baru saja ia selesai diskusikan dengan Teja. Sehabis menutup telepon, Surya menatap ke arah Teja. Laki-laki kecil itu sedang menatap serius sebuah hiasan pada meja kerjanya. Keningnya bahkan sampai berkerut.
“Om Surya, boleh Teja tanya sesuatu?”
“Tentu saja, Teja.”
Teja menghadap Surya. Kemudian ia menunjuk ke bingkai cantik di depannya.
“Gambar ini… siapa yang membuatnya?”
Surya tidak langsung menjawab pertanyaan Teja. Dia berjalan ke arah pajangan kayu itu lalu mengangkatnya dengan satu tangan. Sebuah dekorasi sederhana yang begitu berarti untuk Surya. Yang membantunya melewati hari-hari beratnya sejak lima tahun lalu.
“Seseorang yang sangat berharga.” Jawab Surya akhirnya sambil tersenyum.
Entah mengapa ada yang aneh pada senyumnya saat ini. Teja seakan melihat ada sedikit kesedihan di sana. Seolah Om Surya sedang merindukan seseorang.
Surya lalu menyodorkan hiasan cantik itu pada Teja. Membiarkan tangan kecil Teja mengambilnya dari tangannya. Anak laki-laki itu pun menatap kembali gambar tersebut.
“Bagaimana menurut Teja? Apa kau menyukainya?”
Teja dengan cepat mengangguk sebelum mengatakan, “Sebenarnya Teja menanyakan itu karena…”
“Gaya gambarnya mirip sekali dengan style gambar mama…”
***
Curcol Author:
Huehehehehehehehehehe.
Baiklah semoga suka ya, guys. Jangan lupa love, komen, dan jempolnya ;D
Nuhun\~
- Bawang
__ADS_1