
“Di balik pintu ini adalah screening room.”
Surya membuka pintu hitam di hadapannya. Seketika tampak ruangan yang desainnya serupa dengan sebuah bioskop, lengkap bersama layar besar pada dinding depannya. Hanya saja ukuran ruangan ini jauh lebih mini. Kapasitasnya mungkin sekitar 10-20 orang.
“Biasanya kami akan mengadakan rapat departemen di sini. Memainkan trailer game-game baru lalu mendiskusikannya bersama,” jelas Surya.
Varsha menganggukkan kepalanya. Tampak merasa takjub dengan semua ruangan asing dan detail baru yang diperkenalkan Surya sepanjang jalan hingga kemari.
“Tapi, bukan ini tempat tujuan kita,” lanjut Surya tersenyum.
Kemudian ia menggandeng tangan Varsha dan menggiringnya meninggalkan screening room. Setelah berjalan sekitar beberapa menit, mereka akhirnya tiba di depan sebuah pintu berwarna marun. Surya pun memegang gagangnya dan membukanya.
“Selamat datang di teater besar Akasa Game Studio.”
Kali ini di depan Varsha benar-benar tersaji sebuah bioskop besar. Kursi merah berjajar rapi melandai memenuhi ruangan. Surya pun menuntunnya hingga mereka mencapai bangku di baris tengah dan duduk di sana.
“Biasanya kami mengadakan rapat dengan seluruh tim di sini. Sekitar dua ratus orang bisa muat di dalamnya,” jelas Surya.
“Ah, tunggu sebentar. Sepertinya ada yang kurang.”
Pria tampan itu lalu berlari keluar ruangan. Meninggalkan Varsha duduk sendirian di tengah-tengah tempat luas tersebut. Namun tak lama kemudian, ia kembali dengan satu wadah besar berondong jagung dan dua buah tumbler.
Vasha tertawa kecil. “Kantormu bahkan punya popcorn?”
“Ya. Tapi kami kehabisan minuman soda,” jawab Surya. “Jadi aku membawakan kita hot chocolate dengan marshmallow.”
“Sempurna,” respon Varsha. “Jadi kita benar-benar akan menonton film di sini?”
Surya hanya merespon wanita cantik itu dengan senyuman. Beberapa saat kemudian, ruangan pun menjadi gelap. Layar di depan mereka perlahan terbuka menjadi lebih lebar lagi. Lalu memainkan sebuah klip menghitung mundur.
‘Hai! Aku Teja Ametarka. Salah satu pengembang mobile game DRF.’
Tiba-tiba buah hati Varsha dan Surya muncul di layar lebar. Wajahnya tampak berseri-seri dan begitu antusias. Ia sedang duduk di sebuah sofa kecil sementara seseorang tengah mewawancarainya. Surya lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Varsha.
“Ini adalah film dokumenter pembuatan mobile game DRF,” bisik Surya menjelaskan.
“Sebenarnya masih akan dirilis beberapa bulan lagi, namun kuperlihatkan secara eksklusif khusus untukmu.”
Mendadak sebuah kecupan manis mendarat di pipi Surya. Membuat pria tampan itu terpaku sesaat berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Dirinya masih tak menyangka bidadari hujannya bisa begitu proaktif.
“Terima kasih,” ucap Varsha.
Kemudian wanita cantik itu kembali menatap ke layar. Sementara Surya yang telah mendapatkan lagi kesadarannya kini terus tersenyum. Bahkan sampai film dokumenter nyaris habis, ia masih tak bisa menyapu senyum tersebut dari wajahnya.
Setelah kurang lebih satu jam, tayangan di depan mereka pun usai. Surya lalu menggandeng tangan Varsha untuk menuju ke ruangan selanjutnya. Kini ia membawa wanita cantik itu menuju salah satu ruangan favorit se-Akasa Game.
“Entertainment Room. Tempat di mana aku mencari seorang pegawai jika ia tak bisa ditemukan di mana pun,” papar Surya setengah bergurau.
Varsha tertawa kecil mendengarkan penjelasan Surya. Kemudian pria tampan itu mendorongnya pelan menuju ke area permainan arkade yang tersedia di sana. Lalu meminta Varsha untuk memilih salah satu game untuk mereka mainkan.
“Yang kalah mengabulkan permintaan yang menang?” usul Surya.
“Deal,” jawab Varsha cepat.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya bidadari hujan Surya pun berjalan ke tempat mesin arkade bola basket. Saat SMA dulu, Varsha cukup aktif mengikuti kegiatan ekstra kurikuler dan basket adalah salah satunya. Ia hanya berharap kemampuannya belum karatan.
__ADS_1
“Hmm … sepertinya kamu salah memilih game,” tutur Surya angkuh. “Aku sangat ahli sekali dalam permainan ini.”
“Kebetulan sekali. Aku juga,” balas Varsha tidak mau kalah.
Tak lama, keduanya pun saling berlomba-lomba memasukkan bola basket ke dalam keranjang. Merasa kompetitif, Varsha melirik ke arah papan skor Surya. Tampaknya ia tak perlu khawatir karena nilainya jauh di atas pangeran mataharinya.
“Wah, kamu benar-benar payah dalam game ini,” celetuk Varsha sambil tersenyum lebar. Ia bisa merasakan kemenangannya sudah di depan mata.
“Ya, kurasa aku perlu berlatih lagi ….”
Yang Varsha tidak ketahui, pandangan Surya sebenarnya tak pernah meninggalkan wanita cantik itu sejak awal. Jadi wajar saja, kalau skornya kalah jauh dari pujaan hatinya. Namun pria tampan itu sama sekali tak peduli, karena dirinya sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Menghabiskan waktu bersama bidadari hujannya.
***
“Jadi apa permintaanmu?”
Varsha tampak berpikir sejenak lalu berkata, “Hmm … aku mau menyimpannya dulu.”
Keduanya kini sedang berjalan menuju ruangan selanjutnya. Surya membawa Varsha menuju lorong yang tampak lebih ‘serius’. Sampai akhirnya mereka tiba di depan pintu berwarna abu-abu.
Begitu pintunya dibuka, tampak sebuah ruangan yang penuh dengan gambar sketsa di dinding. Pada salah satu temboknya menempel papan tulis besar yang seluruhnya terisi coretan rumit. Sementara pada satu sudut, terdapat beberapa drawing tablet besar seperti milik Mario.
“Tempat ini adalah designing room. Tempat kami merencanakan dan merancang konsep game baru,” jelas Surya. “Dari sinilah awal mula segalanya.”
Kemudian Surya menarik tangan Varsha untuk duduk di salah satu kursi yang di depannya terdapat drawing tablet. Lalu pemuda tampan itu mengambil pena drawing tablet tersebut dan memberikannya pada kekasihnya.
“Gambarlah sesuatu,” ujar Surya.
Sementara Varsha menggambar, Surya lagi-lagi hanya menatapnya. Menikmati seluruh ekspresi yang dibuat bidadari hujannya. Bahkan melihat perubahan sedikit otot pada wajah wanita cantik itu, membuatnya begitu terpesona.
“Selesai,” ucap Varsha yang membuyarkan fokus Surya.
“Ini adalah salah satu tokoh karakter dari komik online pertamaku nanti,” lanjutnya lagi.
Surya mengernyitkan dahinya. “Sebentar … bukankah dia mirip sekali denganku?”
Varsha mengangguk. “Ya. Memang kamu inspirasinya.”
Surya sudah nyaris mau menggoda Varsha namun wanita cantik itu keburu mengungkapkan kalimat selanjutnya. “Karakter ini merupakan pemeran antagonisnya.”
Seketika wajah pangeran matahari Varsha pun berubah masam. Namun begitu pujaan hatinya memasang wajah memelas bersalah, saat itu juga Surya pun tersenyum. Dirinya benar-benar tak bisa lagi berkutik di hadapan Varsha.
Selanjutnya, Surya membawa kekasihnya ke ruangan yang terdapat di ujung lorong. Pada pintu depannya tertulis ‘Lighting Room’. Surya pun membuka pintunya dan membawa bidadari hujannya masuk.
Di dalam ruangan tersebut terdapat banyak sekali layar komputer dan televisi. Bahkan satu meja saja memiliki sekitar 4-6 monitor. Varsha pun berjalan pelan mengelilingi ruangan untuk melihat-lihat.
“Kamu tahu ini ruangan apa?” tanya Surya.
“Lighting room.”
“Benar. Tempat ini digunakan untuk mengatur pencahayaan pada game,” ucap Surya sambil berjalan menghampiri Varsha.
“Para pengembang akan terus mengutak-atiknya hingga menemukan setelan yang sempurna untuk setiap media dan gadget,” jelasnya lagi sambil terus mendekati bidadari hujannya.
__ADS_1
Tanpa disadari Surya pun sudah berada tepat di hadapan Varsha. Wanita cantik itu ingin melangkah mundur, namun tidak bisa karena belakangnya adalah tembok. Seketika pangeran mataharinya menyeringai manis.
“Ironisnya, meskipun namanya adalah ruang pencahayaan ...,” ucap Surya sambil mengurung tubuh Varsha dengan kedua tangannya.
“Tempat ini merupakan ruangan tergelap di seluruh Akasa Tower.”
Bersamaan dengan selesainya kalimat Surya, seluruh lampu di ruangan seketika padam. Rupanya pemuda tampan itu baru saja mematikan saklar lampu yang berada tidak jauh darinya. Tiba-tiba saja semuanya pun menjadi sunyi senyap.
"Agar pengembang bisa melihat jelas perbedaan intensitas cahayanya," lanjut Surya berbisik lirih memecah keheningan sekaligus mengakhiri penjelasannya.
Berkat indera penglihatan mereka yang tidak dapat bekerja baik karena gelap gulita, indera yang lainnya pun menjadi lebih peka. Varsha dan Surya bahkan bisa mendengar bunyi degup jantung masing-masing yang semakin lama semakin kencang. Aroma manis marshmallow dan cokelat panas yang mereka santap tadi turut menyelimuti keduanya.
Perlahan Varsha juga bisa merasakan wajah Surya yang kian mendekat. Suara napas pemuda tampan itu terdengar jelas menggelitik telinganya. Desir angin lembut dari tiap udara yang dikeluarkan menyapu halus kulit wajahnya.
Pada detik itu, di momen tersebut. Varsha dan Surya pun merasa ingin waktu terhenti saja di situ. Di dalam ruang spasial yang mereka buat. Hanya untuk mereka berdua.
***
Curcol Author:
Sejam sebelum Surya dan Varsha tiba di Akasa Tower.
Surya: Ardi, segera suruh seluruh karyawan pulang. Tidak ada yang boleh lembur malam ini.
Ardi: Baik, Pak Bos.
Surya: Oh, kecuali bagian kafetaria.
Ardi: Oke, Pak Bos. Memang ada apa, ya?
Surya: No comment.
Ardi: ....
<3<3<3<3<3<3<3
Rekomendasi lagu sambil membaca bab ini:
Nothing by Bruno Major
Semoga lulus reviewnya malam ini, biar bisa bayar utang hihihi.
Baiklah semoga suka dengan bab ini ya, guys <3
Jangan lupa love, komen, jempol, dan hadiahnya ;D
Semoga malammu menyenangkan dan mimpimu indah :)
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1