
Book 1 – Chapter 10
Jemputan Khusus
Setiap pertengahan musim dingin Sekolah Sihir Selatan akan libur selama satu minggu, murid-murid biasanya akan pergi ke kota kecil yang tak jauh dari kastil, hanya beberapa menit menggunakan kereta kuda, nama kota itu adalah Edinburgh.
“Apa kalian mau ke Edinburgh” tanya Bill-Will dengan antusias, ini akan menjadi pertama kalinya bagi mereka keluar dari kastil.
“Ku dengar kota itu cukup bagus, biasanya menjadi kota singgah” lanjut Bill masih dengan antusiasnya.
“Kami tidak berencana pergi ke kota” celetuk Lexi yang sedang menyalin tugas-tugas Genta.
“Aku pinjam juga dong” Jojo duduk disamping Lexi ikut menyalin tugas Genta.
“Kalian berdua ini kenapa si tidak pernah mengerjakan tugas kalian sendiri?” tanya Genta yang sudah putus asa menghadapi kemalasan dua temannya.
“Kan bagianku melindungi kalian dari pengganggu” jawab Lexi.
“Dan bagianku mentraktir kalian jajan” timpal Jojo
“Nah bagianmulah meminjamkan kita tugas” lanjut Lexi sembari menyalin tugas Genta dengan semangat.
Genta hanya bisa menghela nafas.
“Oi kalian berdua! Kalian mau pergi ke kota?” tanya Lexi kepada pasangan kembar itu.
Bill-Will mengangguk penuh harap.
“Baiklah, tapi aku tidak punya uang, kalian bayarin aku ya..”.
Tiba-tiba Genta memukul kepala Lexi dengan bukunya “jangan memalak anak kecil”.
__ADS_1
“Aku tidak memalak, aku menawarkan jasa menemani” Lexi kembali menyalin tugas Genta.
“Kami punya uang tabungan kok!” jawab Bill-Will serempak dengan antusias.
“Tidak-tidak aku hanya bercanda, setelah aku selesai menyalin tugas-tugas ini kita bisa pergi” jawab Lexi.
***
Senyum di wajah Bill-Will tidak pernah hilang selama mereka menaiki kereta kuda dan turun di kota Edinburgh, kota yang tidak begitu besar tetapi semuanya tersedia disana. Salju-salju memenuhi jalan, beberapa orang lalu-lalang dengan pakaian tebal mereka, Lexi sendiri memakai syal yang diberikan ayahnya.
“Jadi kita mau kemana?” tanya Lexi yang kedinginan.
“Bagaimana ke Charlie’s Bar? Susu coklatnya enak” usul Jojo.
“Baiklah ayu kesana” Lexi yang sudah ingin menghangatkan diri memimpin teman-temannya menuju salah satu toko di jalan utama Edinburgh.
Lexi dan teman-temannya masuk kedalam Charlie’s Bar, toko itu sudah ramai.
“Aku titip coklat panas ya” kata Genta.
“Aku juga, hei bocah, kau ikut Jojo sana pilih minuman kalian” kata Lexi kepada si kembar kemudian berjalan mencari tempat duduk bersama Genta.
Mereka duduk di ujung ruangan dekat perapian, api perapian cukup kecil, Lexi diam-diam mengeluarkan tongkat sihirnya, tidak ingin sampai dilihat Genta. Lexi menyhir api perapian menjadi lebih besar, seketika kehangatan yang nikmat, berbanding terbalik dengan dinginnya udara diluar.
Tidak beberap lama Jojo dan dua kembar itu datang, membawa beberapa minuman di tangan mereka, dan tangan Jojo sangat penuh, selain membawa gelas minuman ia juga membawa beberapa piring makanan.
“Kau pesan apa saja?” tanya Genta tidak percaya dengan piring-piring yang memenuhi meja.
“Tenang saja, aku yang traktir” Jojo tersenyum bodoh, senyum yang selalu sama saat sudah melihat makanan.
__ADS_1
***
Lexi dan teman-temannya masih menikmati segelas susu coklat dan kehangatan dari perapian saat tiba-tiba Ginerva datang menghampiri Lexi.
“Ternyata kau disini!”.
Meja yang tadinya sedang bercanda-canda diam mematung seketika.
“Eh.. Master Ginerva, ada apa?” tanya Lexi sedikit gugup, salah apa dia sampai-sampai dicari hingga ke kota?
“Maafkan aku Lexi, tetapi kunjunganmu ke kota harus berakhir sekarang, sebaiknya kau dan teman-temanmu ikut aku sekarang” kata Ginerva yang tidak mungkin dibantah oleh mereka.
Meskipun memiliki sejuta pertanyaan di kepala mereka, Lexi dan teman-temannya tetap bangkit berdiri mengikuti Ginerva keluar dari toko itu, Ginerva membawa mereka menuju ke kereta kuda yang sudah siap tak jauh darisana, mata Ginerva terus mengawasi sekitar, kipasnya dipegang dengan mantap.
“Ayu cepat naik” Ginerva menyuruh mereka semua naik ke kereta kuda, baru kemudian ia yang terakhir naik dan menutup pintu kereta kuda.
Betapa terkejutnya Lexi saat Krusius juga berada didalam kereta kuda itu.
“Kita bertemu lagi bocah..” sapa Krusius dingin.
“Jalan sekarang” perintah Ginerva kemudian duduk di samping Krusius.
“Eh.. Master.. ada apa ini?” tanya Lexi mewakili kelima kepala yang ingin menanyakan hal yang sama.
Ginerva diam sesaat mempertimbangkan perlu atau tidaknya menjawab, hingga kemudian Krusius membuka suara.
“Bukankah lebih baik kita memberitahunya?”
“Jangan bicara sembarangan Krusius, kita akan tunggu sampai di kastil” potong Ginerva yang membuat pertanyaan semakin bercabang dikepala Lexi.
__ADS_1