KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 2 - CHAPTER 4


__ADS_3

Book 2 – Chapter 4


Tahun Ajaran Ke Tiga


“Apa?! Kau menolak tawaran bergabung dengan Gold Dragon?!” Jojo tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya, begitu pula dengan Genta, Bill, dan Will yang yang sedang membereskan barang-barang mereka, mereka baru saja sampai ke asrama.



“Yah.. begitulah.. tidak perlu dibahas lebih jauh” jawab Lexi enteng sembari rebahan di tempat tidurnya.



Murid-murid mulai berdatangan kembali ke kastil, akhirnya pada jam makan malam, ruang utama asrama Mountain Goat telah dipenuhi para murid.



“Selamat datang kembali!” sambut Lokar sembari duduk di kursi rodanya.



“Murid-murid kelas lima sudah meninggalkan kita tahun ini, begitupula murid-murid kelas satu akan berdatangan untuk seleksi besok, dan sepertinya yang kalian semua sudah ketahui, ketua murid asrama kita sebelumnya Percy, sudah tidak bersama kita tahun ini”.



Semua murid-murid sontak memandang kearah Lexi, Percy sendiri adalah laki-laki berambut hitam ikal yang tampan dan berbakat, ketua murid sekaligus kapten tim duel Mountain Goat, singkatnya murid kebanggaan Mountain Goat yang di permalukan Lexi didepan semua orang, bisa dikatakan Lexi mengalahkannya telak dalam duel. Terlepas daripada apa yang telah diperbuat Percy, sepertinya murid-murid asrama Mountain Goat lebih berpikir jika kehilangan Percy adalah kerugian, dan meskipun tidak mengakui, mereka semua memiliki sedikit perasaan menyalahkan Lexi untuk itu.



Lexi tidak nyaman dengan tatapan itu, keempat teman sekamarnya duduk di kanan kirinya dengan tatapan mantap, seakan mengatakan siapapun yang berani mencemooh Lexi harus berhadapan dengan mereka. Meskipun sejujurnya Lexi tidak tahu apakah teman-temannya itu sungguh berani, yang selama ini terjadi adalah Lexi yang selalu melindungi mereka.



“Karena itu..” Lokar melanjutkanya sambutannya “Saya telah menunjuk ketua murid baru untuk asrama kita, Angelina, murid kelas lima”.



Seorang perempuan berambut hitam panjang diikat kebelakang dengan senyum yang menunjukan gigi putihnya berdiri dari tempat duduk, disambut tepukan tangan murid-murid Mountain Goat.


Setelah itu, makan malam pun berlangsung begitu saja, setelah makan murid-murid mulai kembali ke kamar mereka masing-masing, Lexi pun bermaksud melakukan hal yang sama, hingga Master Lokar memanggilnya.

__ADS_1


“Lexi..”.



“Kalian duluan saja” Lexi meninggalkan teman-temannya menghampiri Master Lokar yang masih menikmati secangkir teh hangat.



“Melihatmu makan malam disini, itu berarti kau sudah menentukan pilihanmu untuk tiga tahun yang akan datang, bukan begitu?” tanya Lokar sembari meminum tehnya.



Lexi mengangguk “sepertinya begitu..”.



Lokar tersenyum ramah “senang mendengarnya..” Lokar terdiam sesaat, seakan menimbang-nimbang yang akan ia katakan selanjutnya.



“Eh.. ini soal Percy.. seminggu yang lalu ia sudah keluar dari penjara, ada yang menjaminnya” Lokar kembali terdiam menunggu reaksi Lexi.




Lokar mengehela nafas “aku hanya tidak ingin kau masih menyimpan dendam padanya, aku tidak ingin kau melakukan hal bodoh”.



“Saya tidak menyimpan dendam padanya.. tetapi jika dia berani menunjukan dirinya lagi, saya rasa saya akan mengalahkannya lagi dalam duel”.



“Lexi..”



“Saya permisi” Lexi berjalan pergi kembali ke kamarnya.

__ADS_1



Setelah perbincangan itu, malamnya pun Lexi menjadi tidak bisa tidur, ia baru teringat, sejauh ini ia belum melatih sihirnya sama sekali, entah mengapa itu sedikit menganggunya, kemampuan sihirnya cukup berkembang tahun lalu, tetapi ia merasa itu tidak akan cukup.


***


Hari seleksi berjalan begitu saja, tidak ada yang menarik, seperti biasanya Mountain Goat akan mendapatkan murid-murid sisaan, tahun lalu mereka mendapatkan Bill-Will yang sama sekali tidak tahu apa sihir mereka, dan sepertinya tahun ini mereka belum juga begitu memiliki petunjuk.



Hari selanjutnya tahun pelajaran pun dimulai, murid-murid memakai seragam cardigan krem mereka berpindah dari satu kelas ke kelas lainnya, tahun ketiga akan menjadi tahun yang cukup berbeda, karena di kelas tiga beberapa kelas mereka akan dibagi berdasarkan jenis sihir dan kemampuan mereka.



Kelas pertama Lexi, Genta, dan Jojo sama seperti tahun sebelumnya, kelas obat-obatan, tahun lalu ayah Lexi lah yang mengajar, tahun ini sama sekali belum ada petunjuk siapa yang akan mengajar.



“Selamat datang semuanya..” sambut laki-laki lanjut usia, berambut ikal putih, kulitnya sudah keriput, kurus dan sedikit bungkuk, ia adalah Master Elphias, Master obat-obatan yang baru.



“Kepala sekolah meminta saya untuk mengajar disini, namaku adalah Elphias” Elphias memperkenalkan diri.



“Sudah cukup perkenalannya, Rupert sudah menjelaskan kepadaku tentang pelajaran kalian di tahun sebelumnya, dia sangat terampil, aku pernah mengajarnya, sayang sekali kalian harus kehilangan Master seperti dia.. baiklah, sekarang buka halaman sepuluh”.



Murid-murid mulai membalik halaman buku mereka.



“Sepertinya yang sudah kalian pelajari” Elphias menerangkan “kalian belajar untuk meracik obat-obatan, tapi pertanyaan adalah, ramuan mana yang akan kalian pakai? Kalian harus tahu apa yang menyerang pasien kalian, jika luka luar mungkin mudah untuk dikenali, tetapi bagaimana jika luka dari dalam? Hari ini kita akan belajar untuk meramu racun, perbedaan sedikit saja kandungan dalam racun tersebut, akan berbeda juga racikan obat-obatannya, baiklah kita mulai..”.



Tidak ada perbedaan dengan tahun-tahun sebelumnya, kelas obat-obatan tidak pernah menonjol bagi Lexi, ia selalu kesulitan meramu, dan tidak jarang justru ramuan obat-obatannya menjadi hangus tak berbentuk. Harus Lexi akui, banyak perbedaan antara ia dan ayahnya, dan yang paling terlihat adalah masalah ini, mungkin.

__ADS_1


__ADS_2