KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 3 - CHAPTER 2


__ADS_3

Book 3 – Chapter 2


Nottingham


“Jadi ini bocahnya? Kau kerepotan mengurus bocah seperti ini Yudas? Memalukan” celetuk salah seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, berambut coklat tipis dan brewok tipis di wajahnya, tangan kanannya tidak biasa, melainkan tangan palsu terbuat dari besi.


“Tidak usah banyak berkomentar Rick” potong Yudas yang tampaknya jengkel.


“Aku akan bereskan ksatria sihir merepotkan ini!” seketika Rick melontarkan tangan besinya kearah Marco dan mencekiknya, Marco pun memberontak berusaha melepaskannya.



Melihat itu Lexi pun langsung menyihir ular api kearah Rick yang membuatnya mundur beberapa langkah, tangan besinya pun terlepas dari leher Marco dan kembali ke lengannya.



Marco terjatuh dan terbatuk-batuk, sementara Rick tertawa.



“Menarik, anak ini menarik, kalian jangan ikut campur, termasuk kau Yudas!”.



“Terserah kau saja” celetuk Yudas dengan jengkel.



“Marco..” panggil Thomas “lakukan sesuai protokol”.



Marco mengangguk, Thomas langsung menyihir api menyelimuti pedangnya dan maju menyerang Rick. Sedangkan Marco memegang lengan Lexi dan menggumamkan mantra, seketika mereka berteleportasi, menyisahkan pandangan terakhir Thomas yang menebaskan pedangnya kearah Rick.


***


Lexi berdiri di sebuah air mancur ditengah kota yang sepi, Marco berdiri disampingnya, di tengah-tengah air mancur itu terdapat sebuah lonceng bertuliskan “Nottingham”.



Lexi sedikit terkejut membacanya, setahu Lexi Nottingham berada cukup jauh dari Arsenal.



“Thomas, bagaimana dengannya?” tanya Lexi kepada Marco.



“Ia tahu apa yang ia lakukan” Marco menarik lengan Lexi “sekarang kita harus cepat, tidak ada waktu”.


__ADS_1


Marco membawa Lexi menyusuri Nottingham yang tertidur, menuju ke sebuah perpustakaan kota. Lexi tampak bingung, tetapi ia tidak bertanya.



Marco memimpin jalan memasuki perpustakaan itu, seorang laki-laki bertubuh kurus, berabut coklat ikal dan berkacamata, duduk di belakang meja resepsionis.



“Ada yang bisa dibantu?”



“Hujan di musim panas” jawab Marco.



Laki-laki resepsionis itu terdiam sejenak “ikutlah denganku”.



Lexi dan Marco mengikutinya menuju ke sebuah rak buku, lalu menarik salah satu buku dan rak itu pun terbuka layaknya sebuah pintu. Terdapat tangga spiral menuju ke lantai bawah, tanpa bertanya Lexi dan Marco pun mengikuti laki-laki resepsionis itu.



Sebuah pintu besi dibuka, terpampang sebuah ruangan yang cukup besar, rak-rak buku mengelilingi ruangan itu, terdapat sofa dan juga meja bundar yang cukup besar di tengah-tengah ruangan, seperti ruang pribadi untuk membaca.



Seorang laki-laki paruh baya berambut coklat ikal panjang, dengan brewok tebal memenuhi wajahnya, duduk di kursi roda, sedang membaca di sudut ruangan.




Laki-laki di kursi roda itu pun memutar kursi rodanya, Lexi cukup terkejut saat melihat laki-laki itu, laki-laki yang Lexi kenal sebagai Master Lokar, kepala asramanya di sekolah.



“Master Lokar?!” sontak Lexi mengeluarkan kata-kata itu begitu saja.



Lokar sendiri tampaknya terkejut saat melihat Lexi.



“Sudah dimulai?” Lokar melihat kearah Marco.



Marco mengangguk.

__ADS_1



“Tidak ada waktu Raymond” Lokar melihat kearah laki-laki resepsionis itu “sampaikan pesan”.



Raymond mengangguk, segera berjalan keluar ruangan dan menutup pintu.



Lokar berusaha tersenyum kearah Lexi, ia menuangkan dua cangkir teh.



“Duduklah” Lokar memberikan kedua cangkir itu kepada Lexi dan Marco.



Lexi pun duduk disamping Marco dan meminum teh itu hingga habis dalam sekali tegukan, jantungnya yang sedari tadi berpacu membuatnya haus.



“Ceritakan Marco” pinta Lokar.



Marco pun mulai menceritakan apa yang terjadi di rumah Lexi.



Setelah Marco bercerita, Lexi baru mengeluarkan suara, ia menceritakan tentang surat yang diterimanya sesaat sebelum kejadian itu, surat itu masih terlipat di sakunya, ia pun menunjukannya kepada Master Lokar.



Lokar terdiam mencerna itu semua “aku tidak menyangka akan terjadi secepat ini” Lokar menuliskan sesuatu di secarik kertas dan memberikannya kepada Marco “ini alamat teman-teman Lexi, kirim ksatria sihir untuk menjaga mereka”.



Marco mengambil secarik kertas itu, membacanya sejenak kemudian beranjak pergi meninggalkan ruangan, hanya tersisa Lexi dan Master Lokar diruangan itu.



Sejuta pertanyaan dikepala Lexi, tetapi ia tidak tahu harus memulainya dari mana.



“Ini tempat apa? Mengapa Master bisa berada disini?”



Lokar tersenyum ramah “simpan pertanyaanmu Lexi, sebaiknya kau istirahat terlebih dahulu, akan ku siapkan kamar untukmu” Lokar mendorong kursi rodanya memasuki salah satu ruangan.

__ADS_1



Mungkin benar apa yang dikatakan Master Lokar, Lexi mulai memperhatikan tangannya yang tidak bisa berhenti gemetar, jantungnya masih berdetak cukup cepat, tubuhnya pun terasa lelah, Lexi menyandarkan dirinya pada kepala sofa itu, berusaha untuk mengatur kembali nafasnya.


__ADS_2