
Book 1 – Chapter 8
Penjara Bawah Laut
“Astaga!” sambut Percy yang sudah menunggu didalam kamarnya bersama keempat penghuni lainnya.
Wajah Lexi masih berantakan, mungkin tidak terlalu jelas, tetapi bagi orang yang tahu kejadian apa yang baru menimpanya, itu sangat jelas.
“Master Gilderoy menolongku” kata Lexi sebelum seisi kamar mulai melontarkan pertanyaan.
“Sebaiknya kita membawamu ke Master Rup..”
“Tidak!” potong Lexi sebelum Percy selesai bicara “tidak perlu.. terima kasih”.
“Biar aku saja yang merawatnya” celetuk Genta yang mengerti temannya selalu enggan jika harus berurusan dengan ayahnya.
“Baiklah kalau begitu, dasar.. Luca sialan!” gerutu Percy.
“Jadi itu namanya.. Luca..” gumam Lexi.
***
Malam itu Lexi pikir ia akan langsung tertidur, tenyata tidak, ia tidak bisa tidur dan memilih untuk membuka-buka halaman buku yang diberikan oleh Master Gilderoy. Bermodalkan lilin meja yang dinyalakan oleh jarinya, Lexi mulai membaca buku itu, buku-buku yang berisi tentang sihir api dan bagaimana menggunakan sihir-sihir api dengan hebat, bahkan lebih hebat daripada yang pernah dibayangkan oleh Lexi selama sihirnya sudah muncul.
“Apa kau akan selalu baca buku itu?” celetuk Genta saat mereka tengah pelajaran sihir kuno.
“Buku ini seru” jawab Lexi tanpa memalingkan pandangannya dari buku itu.
__ADS_1
“Seru? Sebelumnya kau tidak pernah baca buku, dan sekarang kau tidur sambil meluk buku itu!” gerutu Genta, tetapi Lexi tidak menghiraukan dan melanjutkan bacaannya.
***
Hari berganti menjadi minggu, Lexi masih membaca buku itu, bahkan kini setiap malam saat teman-teman sekamarnya sudah tidur, ia menyelinap menuju ruang bawah tanah asrama tempat Percy dan yang lainnya berlatih untuk club duel. Lexi mengayunkan tongkat sihirnya dan mencoba semua sihir api yang di tulis dibuku itu. Setiap pagi juga Lexi bangun dengan kelelahan karena terjaga semalaman dan tentu saja luka bakar yang setiap hari semakin banyak, luka bakar saat kelas dasar-dasar sihir belum pulih, luka-luka baru sudah ada karena latihan malamnya.
Setiap hari Lexi menunjukan kemajuan sihir apinya, ia juga sudah mulai terbiasa dengan tongkat sihirnya, meskipun tongkat itu tampak tua, tetapi tidak buruk, ia berpikir akan memakainya dulu untuk sekarang dan menggantinya dengan tongkat yang lebih baru saat kelas tiga nanti.
Setiap beberapa hari sekali saat akan latihan untuk club duel, Percy mulai mengeluarkan pertayaan-pertanyaan kenapa bisa bau gosong di ruang bawah tanah, Lexi hanya tersenyum kecil melihat wajah kebingungan Percy, entah mengapa terbesit lelucon ia merasa lebih pintar daripada Percy.
Mungkin terlihat jelas ada perbedaan pada Lexi yang diliat Genta dan Jojo, atau mungkin Bill dan Will juga sedikit menyadarinya, tapi terlepas dari buku, mereka sama sekali tidak tahu tentang tongkat sihir, meskipun Lexi selalu membawanya kemana-mana, Lexy menyembunyikannya dalam pakaian atau dibawah bantal saat ia tidur.
***
Malam yang tenang di asrama Mountain Goat, murid-murid sudah tertidur. Sedangkan Lexi kembali melatih sihir apinya di ruang bawah tanah, tubuhnya sudah dibanjiri keringat, tangannya dipenuhi luka bakar.
“Master Lokar? Kenapa master bisa turun kesini?” tanya Lexi gugup menyembunyikan tongkat sihirnya.
“Tentu saja aku bisa turun kesini, menurutmu siapa yang melatih club duel?” jawab Lokar santai seperti berbincang biasa.
“Maafkan saya, saya akan pergi tidur” Lexi berjalan melewati Lokar.
“Ku harap kau tidak menyelinap lagi malam-malam mendatang” Lokar menekan nada bicaranya.
Lexi hanya mengangguk dan berjalan menaiki tangga kembali ke ruang utama asrama. Ia berjalan melewati meja makan hingga ia melihat sebuah surat kabar terbuka di atas meja makan dan secangkir teh yang masih panas, pasti bekas bacaan Master Lokar pikirnya, pantas saja ia tahu jika ia sedang latihan dibawah.
Foto seorang laki-laki terpajang cukup besar di halaman koran itu, Lexi pun mengintip, foto laki-laki tanpa sehelai rambut, kantung matanya begitu tebal, wajahnya begitu kotor ditambah raut wajahnya seperti orang yang sudah tidak memiliki jiwa, tattoo memenuhi wajah orang itu, “Franc, orang pertama yang berhasil melarikan diri dari penjara bawah laut!” tulis surat kabar itu.
__ADS_1
“ehem..” Lokar sudah berada dibelakang Lexi mengejutkannya.
Lexi pun langsung melepaskan pandangannya dari surat kabar itu.
“Sudah waktunya tidur Lexi” kata lokar
“Maafkan saya” Lexi pun berjalan meninggalkan ruang utama menuju kamarnya.
***
“Apa kau tidak salah baca?” tanya Genta ditengah-tengah pelajaran obat-obatan, Lexi baru saja menceritakan apa yang ia baca di surat kabar semalam.
“Belum pernah ada yang bisa kabur dari penjara bawah laut” lanjut Genta tidak percaya.
“Aku yakin dengan apa yang aku baca!” kata Lexi keras kepala.
“Yah.. selalu ada yang pertama kan” timpal Jojo.
“Tapi untuk apa kita membicarakan masalah ini? dia tidak ada hubungannya dengan kita” kata Genta yang kesulitan meracik obat-obatannya.
“Yah.. tidak ada si, tapi ku rasa dia penyihir yang hebat, bisa kabur dari penjara bawah laut” jawab Lexi dengan santai.
“Jangan asal bicara!” potong Genta “penyihir-penyihir terkejamlah yang dimasukan ke dalam sana, mungkin selusin penyihir belum tentu bisa menghentikan mereka, mereka sekuat itu”.
“Benar itu! ayahku pernah cerita saat ia melakukan penangkapan salah satu tahanan penjara bawah laut, katanya hampir seminggu selusin ksatria sihir mengepungnya barulah penyihir itu bisa tertangkap” timpal Jojo.
__ADS_1
Mendengar cerita Jojo, terbesit begitu saja dipikiran Lexi betapa hebatnya para tahanan penjara bawah laut, lalu si Franc itu bisa melarikan diri? Sehebat apa ya dia? Sihir apa yang dia punya?