KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 3 - CHAPTER 7


__ADS_3

Book 3 – Chapter 7


Hari seleksi


Suara gemuruh terdengar dari dalam benteng, seleksi murid-murid baru sedang berlangsung. Biasanya di hari seleksi Lexi akan tidur-tiduran di kamarnya, tetapi hari ini ia sudah berada di salah satu ruangan didalam benteng bersama ketua murid asrama lainnya, bersiap untuk menyambut murid-murid baru.



Beberapa dari mereka ada yang sudah Lexi kenal, seperti Tracy yang juga baru terpilih menjadi ketua murid Gold Dragon, lalu ada juga David, laki-laki berambut coklat rapih, teman Lexi di kelas duel tahun lalu, ia menjadi ketua murid Red Scorpion.



Lalu seorang laki-laki bertubuh gemuk dan berambut pirang, bernama Luke, lawan Lexi di club duel tahun lalu yang kini menjadi ketua murid Black Mamba. Dan yang terakhir seorang perempuan berambut pirang panjang diikat kebelakang, ia bernama Sherla, ketua murid White Tiger.



“Oi Lexi, ku dengar kau dikeluarkan dari club duel?” celetuk Luke memecah kebosanan menunggu.



Lexi hanya mengangguk.



Luke tertawa kecil “maaf ya, bukan hal personal, tetapi sepertinya kesempatan Black Mamba menang tahun ini menjadi lebih besar, karena Jack sudah lulus, aku yang jadi kapten barunya” Luke tersenyum lebar.



“Wah.. sayang sekali kau dikeluarkan, padahal aku berharap bisa masuk club duel dan melawanmu” timpal David.



“Dasar kalian para laki-laki, dipikiran kalian hanya ada duel, duel, dan duel, kalian ini bar-bar sekali” celetuk Sherla dengan nada sinis.



“Kau perempuan tahu apa soal duel?!” oceh Luke.



Adu mulut pun terjadi antara Luke dan Sherla, Lexi hanya tertawa kecil melihat hiburan di hari yang membosankannya ini.



Tidak beberapa lama pintu ruangan dibuka, para murid baru pun mulai memenuhi ruangan itu, duduk berbaris berdasarkan asrama yang sudah mereka pilih.



“Aku akan berlatih keras dan membuktikan jika Gold Dragon tidak salah memilihku!” celetuk seorang anak laki-laki berambut coklat yang kemudian duduk di hadapan Lexi.



“Oi bocah! Kau ngapain duduk disini?” celetuk Lexi.

__ADS_1



“Eh.. maaf.. bukankah kakak ketua murid Gold Dragon?” tanya anak laki-laki itu.



Lexi menunjuk Tracy yang berdiri disampingnya “kau salah barisan”.



Anak laki-laki menatap Tracy sesaat seakan tidak yakin.



“Oi bocah! Kalau kau terlalu lama menatapnya seperti itu, dia akan merubahmu menjadi katak, kau mau?”.



Anak kecil itu menggeleng dan langsung pindah ke barisan Tracy. Tracy hanya bisa tertawa kecil kepada Lexi.



“Dasar bocah-bocah merepotkan!” gerutu Lexi.



Murid Mountain Goat memang setiap tahunnya tidak sebanyak murid asrama lainnya, tetapi ini menjadi berita bagus bagi Lexi, karena itu berarti semakin sedikit bocah yang harus ia urusi.




“Kakak-kakak” panggil seorang anak perempuan berambut hitam.



“Sihir kakak apa?”.



Lexi menatap jengkel anak perempuan itu.



“Wah-wah-wah”.



Dari kejauhan terdengar suara yang tidak asing bagi Lexi, suara Luca, laki-laki bertubuh tinggi, berambut kuning tersisir rapi, musuh Lexi dari dua tahun lalu. Luca dan teman-temannya itu sedang asik mengerjai si kembar Bill-Will.



“Oi hentikan!” teriak Lexi, dan sepertinya Luca cukup terkejut saat melihat Lexi, tetapi berhasil mengendalikan dirinya.

__ADS_1



“Wah-wah, sekarang sudah menjadi ketua murid ya, mau belaga kau?”



“Oh ya?” Lexi mengeluarkan tongkat sihirnya, sontak Luca langsung mundur beberapa langkah, wajahnya sedikit pucat, Bill dan Will hanya tertawa melihat itu.



“Awas kau ya!” Luca berjalan pergi diikuti teman-temannya.



Para murid baru sempat sekilas kagum melihat ketua murid mereka itu.



“Selamat sore ketua murid kita” sapa Bill-Will.



Lexi tertawa kecil “jangan mulai”.



Lalu Bill-Will melihat kearah murid-murid baru.



“Wah! Adik-adik kami yang manis selamat datang!”.



Sontak murid-murid baru pun tertawa melihat tingkah si kembar.



Hari itu menjadi hari yang cukup melelahkan bagi Lexi, sesudah makan malam ia harus mengecek kamar satu persatu untuk melihat apakah ada tempat tidur kosong untuk murid-murid baru. Dan setelah semua murid sudah kembali ke kamar, ia masih harus mengurus jadwal kelas para murid bersama Master Lokar di ruang utama.



“Oh iya Lexi” kata Lokar sembari menulis di bukunya “jangan lupa, anak-anak kelas empat sudah mulai penjurusan?”.



“Penjurusan?” tanya Lexi bingung.



Lokar tersenyum “ternyata kau sama saja tidak tahu, pokoknya besok kumpulkan saja murid-murid kelas empat, aku akan menjelaskannya”.


__ADS_1


Lexi hanya mengangguk.


__ADS_2