
Book 3 – Chapter 17
Mantra Kutuk Ketakutan
Lexi terbangun disebuah tenda, kepalanya terasa berat, pandangannya kabur, tangannya masih gemetar.
“Syukurlah!” Patricia langsung memeluk Lexi.
Lexi tampak bingung, belum lama Lexi tersadar, tiba-tiba ia merasa mual dan muntah begitu saja
“Sebaiknya kau minum dulu” Patricia memberikan segelas teh hangat, Patricia membelai pipi kiri Lexi, tempat luka sayat yang sudah mengering “aku takut ini beracun, tetapi sepertinya lukamu sudah kering sendiri”
“Apa yang terjadi? lalu Marco?” tanya Lexi setelah meminum teh hangat itu.
Belum sempat Patricia menjawab, tenda dibuka.
“Marco?” tanya Lexi.
“Kau sudah bangun?” Marco disana tersenyum lega, urat-urat hijau ditubuhnya sudah cukup menghilang.
“Apa yang terjadi?” Lexi kembali merebahkan diri, kepalanya terasa berat.
“Kita mendapat pertolongan” Marco duduk disamping tempat tidur “kau sendiri bagaimana? Kau terkena mantra kutuk ketakutan, aku khwatir kau akan menjadi gila”.
“Apa maksudmu?” tanya Lexi bingung.
“Kau berteriak histeris saat terkena mantra itu, bahkan semalaman kau mengigau terus, kau meneriakan nama-nama” Patricia menjelaskan dengan cemas.
“Aku melihat mereka semua mati” jawab Lexi singkat.
__ADS_1
“Lexi.. itu hanya ilusi” Marco berusaha menenangkan. Lexi hanya mengangguk kecil.
“Sebaiknya kau kembali istirahat” Marco menepuk pundak Lexi dan meninggalkan tenda.
Keheningan sesaat.
“Jadi siapa yang menolong kita?” Lexi memecah keheningan.
“Nanti kau juga akan melihat sendiri” jawab Patricia masih dengan raut wajah cemas “Lexi..” Patricia memegang tangan Lexi.
Lexi sedikit terkejut ketika Patricia memegang tangannya. Patricia berusaha tersenyum.
“Eh.. ada apa?” tanya Lexi sedikit gugup.
“Tidak apa-apa, melihatmu saat terkena mantra itu, aku hanya bersyukur kau sudah sadar” Patricia tersenyum kecil.
Lexi kembali mengigau, ia melihat hal yang sama, ia di gua itu sendiri, disekelilingnya tergeletak orang-orang yang ia kenal, semua tergeletak tak bernyawa. Lexi berteriak dan terbangun dari tidurnya, masih di tenda yang sama
Patricia berlari kecil masuk kedalam tenda, segera mengambil segelas teh hangat di samping tempat tidur dan memberikannya kepada Lexi, Lexi meminumnya hingga habis.
“Terima kasih”.
“Sebaiknya kau kembali istirahat, akan ku panggil saat makanan sudah siap” usul Patricia.
Tetapi sepertinya memejamkan mata menjadi menyeramkan bagi Lexi.
“Aku baik-baik saja, aku perlu udara”.
Patricia membantu Lexi berdiri dan memapahnya keluar dari tenda. Mereka masih berada di gua tempat bandit gunung berada, hanya saja kini para perkemah sebelumnya telah tergeletak tidak bernyawa dengan anak panah menancap di tubuh mereka, dan yang membuat Lexi lebih terkejut lagi adalah Dionysus yang sedang duduk membakar daging di api unggun.
__ADS_1
Lexi sontak mengeluarkan tongkat sihirnya, tetapi tongkat itu terlepas begitu saja dari tangannya yang gemetar.
“Lexi hentikan! Dia yang menolong kita” Patricia mencoba menahan Lexi.
Tubuh Lexi masih gemetar, Patricia pun membantu Lexi duduk di dekat api unggun.
Lexi memperhatikan mayat-mayat yang bergelatakan begitu saja “kau yang melakukan ini semua?”.
“Jangan munafik bocah aku menolong kalian” jawab Dionysus masih sembari membakar daging.
“Mengapa kau menolong kami?”.
“Aku kebetulan lewat, terima kasih sudah cukup”.
“Lexi.. dia menyembuhkan Marco” Patricia masih duduk disamping Lexi.
“Tetapi masih tidak cukup, ramuan ku kurang, aku tahu dimana kita harus mencari ramuannya” celetuk Dionysus.
“Kau yakin itu bukan jebakan? Menuntun kita kembali ke ordo?” Lexi menatap tajam Dionysus.
“Jika aku ingin melakukan itu? bukankah lebih tidak perlu menunggu kau bangun? Kau tangguh juga bocah, terkena mantra itu kau seharusnya sudah jadi gila” jawab Dionysus ketus.
“Aku mempercayainya” celetuk Marco yang dari tadi sedang membuat sup “jika tanpanya aku sudah mati dua kali”.
Lexi masih menatap tajam Dionysus “yasudah kalau begitu, kemana kita mencari ramuannya?”
Dionysus terdiam sejenak “apa kalian pernah mendengar tentang Lok Baintan?”.
__ADS_1