
Book 3 – Chapter 6
Menjadi Ketua Murid?
Tinggal beberapa hari lagi musim panas berganti menjadi musim gugur, Master Lokar pun sudah sibuk untuk menyurati para murid asrama Mountain Goat. Ada juga beberapa murid yang sudah kembali ke kastil lebih awal, salah satunya Xander, ia kembali lebih awal untuk berlatih club duel, dan nama Lexi tidak ada disana.
Lexi sudah mengira ini akan terjadi setelah apa yang dilakukannya musim lalu, Xander sendiri yang menghampiri Lexi dan mengatakan jika ia dikeluarkan dari club duel. Club duel menjadi salah satu kesenangan Lexi saat bersekolah, untuk sesaat Lexi seperti merasa tidak tahu apa yang akan ia lakukan selama satu tahun ajaran mendatang.
Lexi menghabiskan sore hari itu untuk berkeliling halaman kastil, hingga akhirnya ia melihat seorang perempuan yang sedang berlarih memanah di pinggir danau, perempuan berambut coklat ikal panjang, bermata biru, yang Lexi kenal dengan nama Patricia.
Entah mengapa kaki Lexi berjalan menghampiri Partricia, padahal pertemuan terakhir mereka berakhir dengan yah., bisa dibilang tidak begitu baik.
Patricia sudah menghabiskan lusinan anak panah yang ditembakan ke pohon, dan hampir semua anak panah itu tepat sasaran. Patricia kembali mengambil anak panah dan menembakannya dengan sihir angin, melesat kencang menusuk batang pohon.
“Apa yang sedang kau lakukan?” sapa Lexi yang sepertinya mengejutkan Patricia, sontak Patricia membalikan badan dan membidikan busur panahnya kearah Lexi.
“Hei! Hei! Hei! Kau gila?!” teriak Lexi sembari menjauhi Patricia.
“Kau mengagetkanku!” omel Patricia.
“Bisa turunkan busur panahnya?”.
“Maaf” Patricia menurunkan busur panahnya dan berjalan kearah pohon mengumpulkan kembali anak panahnya.
“Kau cepat juga kembali ke kastil” celetuk Lexi.
“Aku harus berlatih untuk seleksi club duel, dan mengalahkan asramamu tentunya” jawab Patricia yang masih mengumpulkan anak panahnya.
__ADS_1
“Aku sudah dikeluarkan dari club duel” kata Lexi sembari duduk di tepi danau, entah mengapa Lexi mengatakannya begitu saja.
Patricia diam sesaat dan menatap kearah Lexi “yah.. kau membuat asramamu di diskualifikasi musim lalu, tentu saja mereka akan mengeluarkanmu, tapi..” Patricia menghentikan ucapannya.
“Tapi apa?” tanya Lexi sembari tetap melihat kearah danau.
“Menurutku kau pemain terbaik yang dimiliki asarama Mountain Goat, aku sebenarnya sedikit tidak menyangka mereka akan mengeluarkanmu, itu termasuk tindakan yang nekad” Patricia memakai kembali busur panahnya di punggungnya “aku harus kembali ke asramaku”.
“Ya.. sampai nanti” jawab Lexi tanpa memalingkan tatapannya dari danau, matahari mulai terbenam di sebelah sana.
***
Musim gugur pun tiba, kereta kuda pegasus mulai berdatangan memenuhi halaman kastil, para kepala asrama menyambut murid-muridnya.
“Syukurlah!” Tracy berlali memeluk Lexi sesaat setelah turun dari kereta kuda, Bill-Will dan Genta juga menyusul.
“Syukurlah..” Genta juga memeluk Lexi.
“Nanti saja ku ceritakannya” jawab Lexi sembari tersenyum kepada teman-temannya, untuk sesaat ia sudah tidak merasa sepi lagi.
Tidak beberapa lama kereta kuda pegasus lainnya mendarat, Jojo turun dari kereta kuda itu dengan terburu-buru dan segera berlari kearah Lexi.
“Ku kira kau mati sobat!” Jojo memeluk Lexi “yah.. setidaknya ayahku mengatakan begitu”.
Sontak tawa pun pecah.
Saat makan malam, Bill-Will tidak henti-hentinya menceritakan tentang Genta dan Tracy selama musim panas, wajah Genta pun sangat merah, Lexi dan Jojo hanya bisa tertawa menikmati cerita itu.
__ADS_1
“Selamat datang kembali!” sambut Master Lokar dari kursi rodanya “dikarenakan ketua murid kita sebelumnya sudah menyelesaikan sekolahnya, aku sudah menentukan ketua murid yang baru.. Lexi, murid kelas empat”.
Sontak seisi ruang utama pun terkejut, tetapi tidak ada yang terkejut melebihi Lexi dan keempat temannya, Lexi sama sekali tidak memiliki syarat-syarat untuk menjadi ketua murid. Seisi ruangan menatapa sinis Lexi, sepertinya mereka semua belum bisa melupakan apa yang Lexi lakukan, menghilangkan satu-satunya kesempatan Mountain Goat untuk menjuarai club duel. Lexi hanya bisa menundukan kepalanya.
Seusai makan malam selesai, Master Lokar menghampiri Lexi.
“Lexi, sepertinya kita harus membicarakan tugas-tugasmu sebagai ketua murid”.
Lexi melihat kearah teman-temannya, kemudian kembali melihat kearah Master Lokar.
“Baik Master”.
Hanya tersisa beberapa murid di ruang utama, Lexi mengambil tempat duduk.
“Master, apa tidak salah?”.
Lokar tidak menghiraukan pertanyaan itu, malahan memberikan beberapa lembar kertas.
“Ini adalah peganganmu, berisi tugas-tugas, dan hal-hal yang bisa dan tidak boleh dilakukan oleh ketua murid, salah satunya adalah kunjunganmu ke Edinburgh dicabut, kau harus mengawasi murid-murid selama akhir pekan”.
Lexi membaca lembaran kertas itu sejenak “jadi Master memilihku menjadi ketua murid hanya agar aku tidak berkeliaran dan tetap dalam pengawasan? Lalu dimana Marco? Aku belum melihatnya lagi, apa dia bersembunyi dalam lemari pakaianku?”.
Lokar tersenyum “kau memang cerdas Lexi, mungkin ya itu menjadi salah satu pertimbangannya, tetapi alasan utamaku adalah kau yang sudah paling lama di kastil ini, aku sudah berencana menjadikanmu ketua murid semenjak tahun pertama, hanya tinggal menunggu kau kelas empat”.
Lokar menatap serius kearah Lexi “Lexi.. berjanjilah padaku kau tidak akan melakukan hal ceroboh tahun ini, aku mengatakan ini bukan sebagai Master, tetapi sebagai seorang paman, teman ayahmu”.
__ADS_1
Lexi terdiam, ia hanya menundukan kepalanya tidak membalas tatapan Lokar, lalu mengangguk.