KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 3 - CHAPTER 29


__ADS_3

Book 3 – Chapter 29


Yang Tersisa Dari Kastil


Rupert terkapar babak beluar, hal serupa juga terjadi pada Alfred dan Franc. Tetapi tidak beberapa lama Franc mulai kembali bangkit berdiri, lalu kemudian menyihir mantra serang kearah Alfred. Alfred tidak mungkin bisa menghindar, tetapi sebelum mantra itu mengenai Alfred, Rupert sudah terlebih dahulu melompat dan menerima mantra itu, seketika Rupert pun langsung memuntahkan darah dan jatuh terkapar.



“Ayah!” Lexi berlari menerobos kerumunan menghampiri ayahnya.



Franc tertawa puas, tidak beberapa lama Vrusius datang menghampirinya.



“Tuan, anda sudah terluka parah, sebaiknya kita tarik kembali penyerangan kali ini”.



Franc masih tertawa “lagipula aku sudah menang, aku membunuh Rupert! Dengarkan itu kalian semua! Kali ini aku yang menang! Tirani ordo Black Rings di mulai hari ini, di hari kematian Rupert!”.



Para penyihir ordo ikut tertawa puas. Lexi semakin geram mendengar itu, darah dibalik kulitnya mulai terasa terbakar, ia menggenggam erat tongkat sihirnya kemudian menyihir ular raksasa kearah Franc, tetapi Franc terlebih dahulu terbang menjadi asap hitam meninggalkan kastil sembari mengumandangan tawa kemenangannya.



“Kembali kau pengecut! Lawan aku! Kau menginginkan elixir merah bukan?! Kembali dan ambilah sendiri!” Lexi menyihir naga api raksasa terbang ke langit malam mengejar Franc, tetapi percuma saja, Frac sudah pergi.



Para penyihir ordo satu-persatu mulai melarikan diri mengikuti tuan mereka. Semua orang yang tersisa di kastil itu terdiam.



Lexi berlutut disamping ayahnya “lakukan sesuatu! Kumohon! Berikan darahku padanya! Elixir merah! Kumohon!” Lexi menatap Alfred, tetapi Alfred hanya terdiam.

__ADS_1



Lexi melihat sekitar, ia mengambil puing batu dan menyayat lengannya sendiri, kemudian meneteskan darahnya ke mulut Rupert.



“Kumohon-kumohon-kumohon” tangannya gemetar.



Alfred menghampirinya “Lexi.. elixir merah tidak bisa mengembalikan yang sudah pergi”.



Lexi menarik pakaian Alfred “kalau begitu lakukan sesuatu!”.



Leo menghampiri Lexi dan menariknya kebelakang “Lexi tenangkan dirimu, kumohon tenanglah”.



sama persis seperti penglihatannya, Lexi pun mulai mengerang disamping tubuh ayahnya, keheningan meliputi kastil untuk sesaat.


***


Matahari akhirnya kembali terbit, kastil itu sudah hancur, puing-puing berserakan dimana-mana, tenda-tenda didirakan di pinggir danau agar para murid bisa beristirahat, para ketua murid menenangkan murid-murid asrama mereka.


Elphias juga sedang mengobati yang terluka, membalut kaki Xander yang patah, lalu Cillion, Talia, dan Victor yang terbaring tidak sadarkan diri, tetapi luka mereka sudah dirawat.


Rupert dibaringkan di salah satu tenda bersampingan dengan Krusius, Leo duduk disamping Rupert, tidak mengatakan apa-apa, hanya sekedar duduk dengan letih disana. Tidak beberapa lama Lokar menghampiri tenda itu bersama Marco yang membantu mendorong kursi rodanya.


Lokar pun terdiam setelah melihat Rupert “bagaimana dengan Lexi?”.


Leo menggeleng “dia tidak ingin bicara dengan siapa-siapa”.


***

__ADS_1


Lexi duduk di tepi danau didekat tempat latihan memanah, tatapannya kosong, tangannya masih sedikit gemetar.



Dari kejauhan teman-temannya memperhatikan, tidak ada yang berani menghampirinya.



“Biar aku saja” Patricia datang menghampiri.



“Tinggalkan aku sendiri” celetuk Lexi saat Patricia mendekat, tetapi Patricia tetap saja duduk disampingnya.



“Ini kan bukan tempatmu saja, ini juga tempat biasaku”.



Lexi tidak menanggapi.



“Sepertinya sekolah kita akan libur, butuh waktu untuk membetulkan ini semua” Patricia memecah keheningan.



Lexi masih diam tidak menanggapi.



“Jadi apa yang akan kau lakukan selama liburan?” tanya Patricia.



“Aku tidak akan kembali ke sekolah ini” Lexi akhirnya membuka suara.

__ADS_1


“Aku akan menyelesaikan apa yang ayahku lakukan”.


-***End Of Book 3***-


__ADS_2