KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 2 - CHAPTER 3


__ADS_3

Book 2 – Chapter 3


Tawaran Yang Menggoda


Musim panas pun akhirnya berganti menjadi musim gugur, koper sudah dikemas di kamar Lexi, dengan susah payah Lexi menyeretnya menuju ruang tamu.


“Sudah siap?” sambut Rupert.


Lexi mengangguk.


Rupert memberikan secarik kertas “ini tiket kereta kudanya, jangan sampai hilang”.


Lexi mengambilnya dan mengantunginya.


Rupert mengantar Lexi menuju ke stasiun kereta kuda, tetapi bukan kereta kuda biasa, kuda bersayaplah yang menarik keretanya, mungkin lebih dikenal dengan jenis Pegasus.


Rupert berlutut disamping anaknya itu “baiklah, ayah hanya mengantar sampai sini, cari kereta kudamu dan jangan buat masalah disekolah” Rupert mengacak-ngacak rambut Lexi.


Lexi mengangguk dan menyeret kopernya mencari kereta kudanya.


“Kemana tujuanmu nak?” tanya seorang petugas.


“Sekolah Sihir Selatan”.


“Ah! Dulu aku juga bersekolah disana, mari, kereta kudanya disini..”.


Petugas itu mengantar Lexi menuju ke salah satu kereta kuda dengan empat pegasus hitam yang menariknya.


“Boleh kuminta tiketmu?”


Lexi memberikan kertas tiketnya.


“Baiklah silahkan masuk, kopermu biar aku yang urus” petugas itu tersenyum ramah.


Lexi pun naik ke kereta kuda, dan begitu terkejutnya ia melihat siapa yang juga duduk didalam kereta kuda itu, Aubrey. Dan sepertinya Aubrey juga sedikit terkejut melihat kedatangan Lexi.

__ADS_1


Keheningan cukup lama didalam kereta kuda, hanya ada mereka berdua yang saling membuang pandangan.


“Hai!” keheningan baru terpecah saat seorang perempuan seumuran Lexi masuk kedalam kereta kuda, perempuan berambut coklat ikal panjang, bermata biru.


Perempuan itu duduk disamping Aubrey, kemudian sedikit terkejut saat melihat Lexi.


“Kau.. kau orang yang berduel dengan ketua murid asrama mu sendiri tahun ajaran kemarin kan?” tanya perempuan itu.


“Eh..” Lexi sedikit bingung tiba-tiba mendapat pertanyaan seperti itu


“Maaf, perkenalkan.. Patricia” perempuan itu menyodorkan tangannya.


“Lexi” Lexi menyalami perempuan itu.


“Hai Lexi!” tiba-tiba seorang laki-laki masuk kedalam kereta kuda, Jojo.


“Hai” jawab Lexi ketika Jojo duduk disampingnya, dan Jojo pun ikut terdiam saat melihat Aubrey.


Akhirnya kereta kuda itu pun mulai bergerak dan terbang, tidak banyak perbincangan, hanya sesekali Patricia mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan ke Lexi.


“Tidak pernah menang” celetuk Jojo.


“Bukannya kau juga di Mountain Goat? Kau kan seharusnya mendukung asramamu” jawab Patricia jutek.


“Memangnya kau di asrama Mountain Goat? Aku tidak pernah melihatmu!” tanya Jojo.


“Eh.. tidak si, aku di asrama Gold Dragon, tetapi tetap saja menyerang senior itu bukan hal yang baik!” Patricia melanjutkan ocehannya.


Jojo yang lebih sering menanggapi Patricia, Lexi hanya sesekali tersenyum kecil, sedangkan Aubrey sama sekali tidak menanggapi, bahkan pandangannya terus tertuju ke luar jendela.


Perjalanan yang terasa semakin panjang karena ocehan Patricia akhirnya berakhir, kereta kuda mendarat di halaman kastil Sekolah Sihir Selatan.


Lexi menurunkan kopernya dari bagasi, halaman kastil dipenuhi kereta-kereta kuda yang juga baru mendarat. Para kepala asrama menyambut untuk mendata murid-murid mereka. Laki-laki paruh baya berambut coklat ikal panjang, dengan brewok tebal memenuhi wajahnya, duduk di kursi roda, menyambut Lexi dan Jojo, ia adalah Master Lokar, kepala asrama Mountain Goat.


“Lexi, Jojo, selamat datang!” sambut Lokar “Jojo, boleh minta tolong bawakan koper Lexi sekalian, kalian satu kamar kan? Lexi, ikutlah denganku sebentar..”.

__ADS_1


Jojo mengangguk “sampai ketemu dikamar” Jojo menyeret kopernya dan juga koper Lexi.


Lexi berjalan memasuki kastil mengikuti Master Lokar, ia ingin bertanya tetapi mengurungkan niatnya. Mereka berhenti di depan tangga koridor.


“Lexi, aku hanya bisa mengantarkanmu sampai sini, naiklah ke lantai tiga, disebelah kiri adalah ruangan Master Cillion, dia sudah menunggumu”


“Master Cillion? Tapi ada apa?” tanya Lexi bingung.


“Nanti kau juga tahu” Lokar tersenyum dan mendorong kursi rodanya pergi.


Dengan enggan Lexi melangkah menaiki tangga menuju lantai tiga.


“Masuk!” teriak seorang laki-laki dari dalam.


Lexi mendorong pintu yang cukup besar itu, kemudian masuk ke sebuah ruangan berbentuk lingkaran, ruangan yang rapih, buku-buku tertata di lemarinya, beberapa foto terpajang di dinding ruangan itu.


“Lexi..” sambut Cillion, laki-laki bertubuh kurus, berambut hitam panjang, memaki jubah bewarna emas, duduk dibelakang meja kerjanya, ia adalah kepala asrama Gold Dragon sekaligus wakil kepala sekolah.


“Ya Master.. ada apa?” tanya Lexi sedikit gugup, ia jarang berbincang dengan Master Cillion, apa lagi sampai dipanggil ke ruangannya. Master Cillion bukan kepala asramanya, jadi ada apa?


Cillion tersenyum “kakekmu mengirimkan aku surat, ia memintaku untuk memindahkanmu ke asrama Gold Dragon”.


“Kakek?”.


Cillion tersenyum, menunjuk foto Arthur, salah satu foto yang terpajang di dinding ruangan itu.


“Kakekmu adalah pendiri asrama Gold Dragon, tentu saja ia ingin cucunya untuk berada di asramanya”.


“Eh..” Lexi tidak bisa memproses otaknya, Arthur sebagai kakeknya belum menjadi hal yang biasa baginya.


Cillion hanya tersenyum menunggu jawaban Lexi. Gold Dragon, asrama terbaik di Sekolah Sihir Selatan, tentu saja semua murid ingin masuk kesana, termasuk Lexi yang begitu ingin masuk kesana di tahun pertamanya, tetapi ia tidak ingin diterima di asrama itu hanya sekedar ia memiliki hubungan dengan Arthur, saat tahun pertamanya hanya Master Lokar yang mau menerimanya, dan sekarang dia akan meninggalkan asrama Mountain Goat begitu saja tanpa terima kasih? Lalu Lexi teringat keempat teman sekamarnya.


“Eh.. maaf, tetapi saya akan tetap di asrama saya yang sekarang”


Cillion masih tersenyum “tentu saja, semua keputusan ada ditanganmu, kalau begitu urusan kita sudah selesai”.

__ADS_1


“Saya permisi” Lexi berjalan meninggalkan ruangan itu.


__ADS_2