KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 3: ORDER OF THE BLACK RINGS


__ADS_3

Book 3 – Chapter 1


Liburan Musim Panas


Musim panas di kota Arsenal, ibukota dunia sihir. Di sebuah rumah sederhana di pinggir kota, seorang laki-laki berusia lima belas tahun, bertubuh kurus, bermata hitam, berhidung sedikit bengkok, rambut coklat kemerahan panjang yang diikat kebelakang, mungkin sudah lebih tinggi beberapa centi daripada tahun sebelumnya, memakai kalung liontin emas di lehernya, namanya adalah Lexi, tak lain adalah tokoh utama kita.



Lexi duduk di pinggir jendela sembari memegangi tongkat sihir barunya, tongkat sihir bewarna putih dengan pegangan berbentuk ular, hadiah ulang tahun dari ayahnya, menggantikan tongkat sihir lamanya yang patah.



Lexi hanya sendiri di rumah itu, ayahnya adalah seorang ksatria sihir yang sedang melakukan pencarian, membuatnya jarang berada di rumah. Ayahnya sendiri bernama Rupert, laki-laki paruh baya, rambut hitam panjang diikat kebelakang, brewok tipis, dan juga beberapa bekas luka menyilang diwajahnya, ditambah mata hitam yang persis seperti mata Lexi.



Tetapi pekarangan rumah Lexi tidak pernah sepi, selalu ada tiga orang ksatria sihir yang berjaga bergantian, Lexi yakin ayahnya yang menyuruh mereka, Lexi telah berurusan dengan hal yang berbahaya musim kemarin, ayahnya takut hal itu akan berlanjut.



Lexi mengenali beberapa ksatria sihir yang berajaga di rumahnya, salah seorang dari mereka adalah laki-laki bertubuh kurus, mungkin usianya hanya beberapa tahun lebih tua daripada Lexi, rambut coklat panjang sebahu yang disisir rapi dan juga brewok tipis diwajahnya, selalu memakai setelan jas rapih, namanya adalah Marco, ksatria sihir kelas dua.



Beberapa kali Lexi berbincang dengan Marco saat ia masuk kedalam rumah membawakan belanjaan kebutuhan Lexi. Lexi sendiri dilarang untuk keluar rumah tanpa penjagaan, dan biasanya Marco lah yang menjaga bersama salah seorang ksatria sihir lainnya, laki-laki bertubuh kurus dan berambut hitam berantakan, usianya mungkin setara dengan Marco, namanya Thomas.



Lexi sendiri tidak begitu menyukai berkeliaran di jalan-jalan Arsenal dengan dikawal dua orang ksatria sihir, itulah mengapa Lexi lebih memilih untuk berdiam didalam rumah meskipun itu membuatnya bosan. Yang bisa Lexi kerjakan hanyalah surat-menyurat dengan keempat temannya.



“*Kau tahu.. aku akan mengunjungi Tracy sebelum kembali ke sekolah*” tulis Genta, laki-laki kurus berkulit coklat, berambut hitam keriting, memakai kacamata kotak yang cukup besar diwajahnya.



“*Aku ingin mengunjungimu, tetapi ayahku melarangku keluar rumah, maaf*..” tulis Jojo, laki-laki bertubuh sedikit gemuk, berambut hitam disisir rapi dengan gigi depan yang cukup besar.



“*Kapan kau akan berkunjung lagi? Kami dengar Genta akan mengunjungi Tracy, kami harap kau juga akan berada disini untuk mentertawakan Genta tentunya*” tulis Bill-Will, laki-laki kembar berambut coklat ikal dengan wajah dipenuhi bintik-bintik merah.


__ADS_1


Nama Tracy beberapa kali dituliskan didalam surat, perempuan seumuran Lexi, berambut hitam ikal, kakak dari si kembar Bill-Will yang ditaksir oleh Genta.


***


Malam yang sama seperti malam-malam sebelumnya, Rupert tidak pulang beberapa hari, Lexi hanya makan seorang diri di ruang makannya, dari balik jendela ia bisa melihat tiga orang ksatria sihir yang mondar-mandir didepan teras rumahnya.



Sebuah burung pengantar pesan hinggap di tangan Marco, Marco mengambil surat itu dan menerbangkan kembali burung itu. Marco membawa masuk surat itu.



“Lexi, ada surat untukmu” Marco menaruhnya di atas meja makan.



“Terima kasih” Lexi melihat pengirim surat itu adalah Genta.



Marco tersenyum ramah “kalau begitu sebaiknya aku kembali berjaga”.




“Ya?”



“Jika kalian mau, kalian bisa berjaga di dalam, tidak perlu diluar”.



Marco kembali tersenyum ramah “bukan berjaga namanya jika berada didalam, tetapi terima kasih atas tawaranmu” Marco berjalan keluar dan menutup kembali pintu rumah.



Rumah itu begitu sepi, Lexi merapikan piring kotor dan beranjak naik ke kamarnya yang berada di lantai dua. Merebahkan diri di tempat tidur dan terdiam sembari menatapi langit-langit kamar.



Lexi membuka surat yang di kirim oleh Genta, Lexi pun sedikit bingung, tulisan di surat itu bukan tulisan tangan temannya yang sudah ia kenali.

__ADS_1



“*Kami menemukanmu*” tulis surat itu.



Tiba-tiba terdengar suara gaduh yang cukup kencang dari lantai bawah, Lexi pun langsung mengambil tongkat sihirnya dan berlari turun.



Tembok bagian depan rumahnya sudah hancur, puing-puing berserakan, salah seorang ksatria sihir sudah tergeletak tidak sadarkan diri, sedangkan Marco dan Thomas masih berdiri sembari bersiap dengan senjata di tangan mereka, Marco memegang tongkat sihir, sementara Thomas memegang sebilah pedang.



Lima orang berdiri di ambang pintu yang sudah hancur itu, Lexi mengenali salah satu diantara mereka, laki-laki paruh baya berambut hitam panjang dengan brewok tipis dan raut galak tanpa senyum menghiasi wajahnya berjalan sembari membawa tongkat di tangan kirinya, laki-laki yang Lexi kenal sebagai Yudas, mantan ksatria sihir yang membelot.



“Kau!” Lexi mengacungkan tongkat sihirnya.



Marco dan Thomas tampak terkejut, mereka tidak menyadari kehadiran Lexi karena terlalu terpaku pada lawan mereka.



Marco segera menahan Lexi “mundur! Berdiri dibelakangku!”.



Yudas tertawa kecil “wah-wah ternyata Rupert sudah mengantisipasinya ya, sampai menaruh ksatria sihir”.



“Dimana temanku?!” teriak Lexi sembari masih mengacungkan tongkat sihirnya.



Yudas kembali tertawa kecil “tenang saja, kami tidak akan menyentuhnya, asalkan kau mau menuruti kata-kataku”.



“Lexi jangan dengarkan” potong Marco yang masih berdiri melindungi Lexi. Sementara itu tongkat sihir Lexi masih digenggam mantap di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2