
Book 3 – Chapter 10
Ordo Black Rings
Kelas penjurusan hukum sihir berjalan sangat membosankan, Hugo berdiri di depan kelas sembari menjelaskan di papan tulis, sementara Lexi sudah mulai tertidur di mejanya.
Hugo melempar sebatang kapur kearah Lexi.
“Jangan tidur di kelas anak muda, bekerja di kantor Knight’s Of Magic bukan hal yang mudah, kau harus memperhatikan”.
“Eh.. maaf” jawab Lexi sembari mengucek matanya.
Hugo kembali mengoceh dan menulis di papan tulis.
“Bosan sekali” gerutu Lexi sembari menguap.
“Seharusnya sebentar lagi selesai” jawab Genta sembari mencatat penjelasan Hugo di papan tulis.
Jojo yang biasanya juga bosan didalam kelas, entah mengapa tahun ajaran ini ia menjadi cukup rajin, ia bahkan ikut mencatat seperti Genta.
“Kau kerasukan apa?” celetuk Lexi.
“Nilai ku harus bagus, ayahku sudah menekankan itu, pekerjaan di kantor Knight’s Of Magic sudah menunggu” jawab Jojo dengan raut wajah yang tampaknya sangat tertekan dengan buku catatannya.
“Baiklah anak-anak” Hugo menaruh kapurnya “sepertinya pelajaran hari ini cukup sampai disini” Hugo melihat jam sakunya “lagi pula aku ada rapat penting di kantor pusat” Hugo tersenyum bangga, kemudian membereskan barang-barangnya dan meninggalkan kelas.
“Kalian tahu tidak” celetuk Jojo saat membereskan buku catatannya “Pak Hugo itu, dia sudah sering berkunjung ke rumah, dia penjilat sekali, sepertinya dia ingin mengincari kursi anggota dewan”.
“Yah.. saat penempatan kerja nanti, kuharap aku tidak ditempatkan di kantor pusat” jawab Genta.
“Kalau aku si sudah pasti” timpal Jojo.
“Sebentar-sebentar” potong Lexi “kalian sudah memikirkan kerja?”
“Tahun depan kita sudah lulus, lalu apa lagi kalau bukan kerja?” tanya Genta.
__ADS_1
“Eh..” Lexi terdiam sesaat “aku sih tidak kepikiran untuk bekerja dibelakang meja ya”.
Jojo sepertinya terkejut mendengar itu “lalu kenapa kau ambil kelas penjursan ini?!”.
Sedangkan Genta hanya tertawa kecil “aku sudah menebaknya, tapi aku masih engga ngerti si alesan kau tidak ambil kelas penjurusan ksatria sihir, kukira..”.
“Tidak usah dibahas” potong Lexi “ayuk kita makan siang” Lexi membawa buku-bukunya meninggalkan kelas diikuti Genta dan Jojo.
***
Lexi, Genta, dan Jojo kembali ke pondok asrama mereka untuk makan siang, ruang utama ramai dengan murid-murid yang berdiskusi sembari melihat selembaran surat kabar.
“Ada apa ini?” tanya Genta kepada Bill-Will yang sudah menyantap makan siang mereka.
“Ini, lihat saja sendiri” Bill menyodorkan selembar surat kabar, Genta mulai membacanya dan langsung terdiam, lalu memberikannya kepada Lexi dan Jojo.
“*Bank Arsenal telah dirampok!! Ordo Black Rings menyatakan diri telah kembali*!!” tulis halaman utama surat kabar itu, dan juga terpampang foto Bank Arsenal yang sudah hancur, beserta sebuah gambar cincin di dinding yang dilukis menggunakan darah.
“Ordo Black Rings?” tanya Lexi bingung.
Lexi langsung terdiam saat mendengar nama Franc, ia memiliki sejarah yang kurang baik dengan nama itu, atau lebih tepatnya sangat tidak baik.
Informasi di surat kabar belum selesai diproses di kepala Lexi, tetapi Master Lokar sudah menghampirinya.
“Lexi, bisa bicara sebentar?” tanya Lokar dengan raut wajah senyum yang dipaksakan.
***
Lokar mendorong kursi rodanya kedalam kastil, Lexi mengikutinya tanpa bertanya. Lokar menuju ke sebuah ruang kelas, lalu mendorong pintunya, didalam ruangan itu ada beberapa orang lainnya.
“Abdi Franc jelas-jelas sudah kembali kepada tuannya, mereka sudah berani menunjukan diri, mereka sudah tidak bersenyembunyi lagi” Horus berkata dengan wajah yang begitu tegang.
“Kalau begini..” Gilderoy ingin menjawab, tetapi dipotong oleh Lokar.
“Ehem..”.
Seketika ruangan menjadi hening.
__ADS_1
“Lexi sudah datang” Lokar mendorong kursi rodanya masuk kedalam kelas diikuti Lexi.
Lexi mengenali orang-orang diruangan itu, Gilderoy, keempat kepala asrama lainnya, Master Leo, dan juga Marco.
“Hai Lexi, bagaimana sekolahmu?” sambut Gilderoy.
“Ada apa ini?” tanya Lexi.
Gilderoy diam sesaat untuk merangkai kata “jadi Lexi, apa kau sudah membaca surat kabar?”,
“Ordo Black Rings?”.
Gilderoy mengangguk lalu kembali diam sesaat untuk merangkai kata.
“Biar aku yang bicara” potong Cillion “Jadi Lexi, penjagaan terhadap dirimu akan ditingkatkan, mulai sekarang Marco akan mendampingimu kemanapun kau pergi”.
“Tapi aku bahkan tidak keluar kastil!” protes Lexi.
“Hei bocah, ingat pembicaraan terakhir kita, ini bukan tentang dirimu, tidak perlu mengeluh dan pergilah, orang dewasa perlu bicara” timpal Krusius.
“Marco, tolong antar Lexi kembali ke asrama” perintah Lokar.
Marco mengangguk dan merangkul Lexi keluar dari ruangan itu.
“Maaf” celetuk Marco saat mereka keluar dari ruangan itu.
“Bukan salahmu, kau hanya menjalankan tugas” jawab Lexi.
Keheningan mengantarkan mereka hingga pondok asrama Mountain Goat.
“Kau akan ikut masuk?” tanya Lexi.
Marco tersenyum ramah “sayangnya begitu, tetapi tenang saja, kamarku berbeda dengan kamarmu”.
__ADS_1