
Book 3 – Chapter 15
Melanjutkan Perjalanan
Lexi mengangkat tangannya “teman kami terluka, kami hanya singgah” Lexi memalingkan tubuhnya perlahan, kini sang pemilik rumah berada tepat dihadapannya. Laki-laki paruh baya, rambut coklatnya sudah mulai memutih, wajahnya tampak lelah, tubuhnya cukup gagah meskipun perutnya lumayan menonjol.
“Pelancong?” tanya pemilik rumah.
“Bisa dibilang begitu” jawab Lexi gugup karena busur silang yang masih diarahkan kepadanya.
Pemilik rumah itu menurunkan busur silangnya “kalian bisa memanggilku Dionysus, sekarang dimana temanmu?”.
Marco masih terkapar diatas meja, Dionysus mengecek bekas lukanya, kemudian menyayatnya dan menjiliat darahnya sedikit ke lidahnya “aku mengenal racun ini”.
Dionysus beranjak untuk ke dapur dan mulai membongkar peralatannya, mencampur beberapa bubuk cairan, mengaduknya dan memberikannya kepada Marco.
“Minumlah”.
Tanpa bertanya Marco langsung meminumnya hingga habis, dalam sekejap urat-urat hijau disekejur tubuh Marco mulai mereda, tetapi tidak sepenuhnya hilang.
“Racunnya cukup kuat, butuh beberapa kali minum ramuan, kalian bermalamlah dulu disini” kata Dionysus.
“Terima kasih, kau sangat hebat” celetuk Patricia.
“Aku seorang pemburu, aku sudah sering berususan dengan racun” jawab Dionysus acuh tak acuh kemudian beranjak ke ruangan lain yang Lexi tebak adalah kamarnya.
Mata Lexi pun mulai menjelajah sekitar, untuk rumah terbengkalai keadaan rumah ini normal-normal saja, tetapi untuk rumah berpenghuni, jadi terasa janggal. Lexi terus menyusuri rumah itu, hingga ia berhenti di teras belakang, dibelakang rumah itu terdapat sebuah perkebunan, di teras belakang ada bangku dan meja yang biasanya dipakai untuk menikmati sore hari, tetapi bangku dan meja itu tampak rusak, seperti sengaja dihancurkan. Tetapi bukan itu yang menarik perhatian Lexi, melainkan sebuah cincin hitam yang tergeletak disamping tumpukan kayu hancur itu, Lexi mengambil cincin itu, cincin yang sama seperti yang Lexi pernah lihat di jari kelingking Yudas.
Jantung Lexi pun langsung berdetak kencang, ia mengeluarkan tongkat sihirnya dan segera masuk kedalam, Patricia masih duduk disamping Marco, sementara Dionysus baru keluar dari kamarnya membawa beberapa lembar selimut. Lexi langsung mengacungkan tongkat sihirnya kearah Dionysus.
__ADS_1
“Lexi apa yang kau lakukan?” Patricia tampak terkejut, tetapi nampaknya Dionysus tidak terkejut.
“Pelancong hah?”.
Lexi menunjukan cincin hitam yang ditemukannya “kau anggota ordo Black Rings”.
Sontak Dionysus terdiam.
“Apa kau ada hubungannya dengan ordo itu?”.
“Ya.. aku burunonan mereka” jawab Lexi masih dengan tongkat sihir teracung.
Patricia masih mematung, masih mencerna apa yang sedang terjadi.
Lexi melihat kearah Patricia “kita pergi, bantu Marco” tongkat sihir tidak diturunkannya, masih mengacung kearah Dionysus.
Dionysus sendiri tidak beranjak, matanya terus menatap Lexi, membiarkan Patricia dan Marco pergi meninggalkan rumah, diikuti Lexi yang masih mengacungkan tongkat sihirnya, setelah mereka keluar dari rumah itu Lexi baru menurunkannya dan segera memapah Marco berjalan menjauhi rumah itu secepat mungkin.
“Apa yang kau pikirkan?!” gerutu Patricia.
“Dia mantan anggota ordo Black Rings, dia bisa saja melaporkan kita” jawab Lexi yang masih memapah Marco, tetapi kini Marco sudah bisa berjalan dengan kesadaran penuh, hanya saja tubuhnya masih butuh istirahat.
***
Mereka terus berjalan hingga memasuki hutan, Marco kembali duduk bersandar di pohon, Lexi dan Patricia sendiri tampak kelelahan, semenjak meninggalkan kastil tua mereka sama sekali belum memejamkan mata, sementara matahari sudah hampir kembali terbit.
“Kau tidur duluan, aku akan berjaga” Lexi kembali mengeluarkan tongkat sihirnya.
__ADS_1
Patricia ingin menolak, tetapi setelah bersandar ke pohon, matanya pun terpejam begitu saja.
“Temanmu ini perempuan yang perkasa, mengingatkan ku pada Talia” celetuk Marco.
“Dia juga bercita-cita menjadi ksatria sihir” timpal Lexi sembari bersandar di pohon seberang Marco.
“Bagaimana denganmu?” tanya Marco.
“Bagaimana denganku apanya?”.
“Cita-citamu? Bekerja di belakang meja kantor pusat Arsenal?”.
Lexi menggeleng “aku belum memikirkan itu, lebih banyak hal mendesak yang harus dipikirkan”.
“Sepertinya kau tidak berpikir”.
“Apa maksudmu?”.
Marco tersenyum “ku perhatikan semua yang kau lakukan itu berdasarkan instingmu, instingmu juga yang membuat kita selamat sampai sekarang, hal yang menjadi modal utama seorang ksatria sihir, insting, kau memiliki itu”.
“Terima kasih” jawab Lexi singkat.
“Kau tidak memikirkan..”.
“Tidak” potong Lexi “aku tahu apa yang akan kau bicarakan, sebaiknya tidak usah”.
__ADS_1
Marco tidak mengatakan apa-apa, sepertinya ia mengerti.