
Book 3 – Chapter 27
Naga Berterbangan Dimana-Mana
Luca berlari dengan ketakutan kedalam kastil, hingga akhirnya Krusius menghadanganya di koridor dan menamparnya hingga jatuh.
“Apa yang kau lakukan?!”.
“Bukan urusanmu!” bentak Luca.
“Kau!” Krusius bermaksud menampar Luca lagi, tetapi sebuah suara menghentikannya.
“Jangan berani-beraninya kau lukai anakku Krusius” Vrusius Jr berdiri di ujung lorong.
“Ayah!” panggil Luca.
Krusius tampak terkejut melihat Vrusius, tetapi Vrusius melainkan tersenyum penuh kemenangan.
“Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik anakku, kemari, bergabunglah dengan ayahmu” Vruisus merenggangkan tangannya.
Luca pun bangkit berdiri dan belari kearah Vrusius. Krusius masih mematung.
“Jadi selama ini kau sudah menemuinya?”
Vrusius tersenyum semakin lebar “kau tidak bisa memisahkan ikatan antara ayah dan anak, adikku
tercinta”.
Krusius tampak geram “Kau sudah memalukan nama ayah” Krusius menyihir tombak dari es dan melemparkannya kearah Vrusius, tetapi berhasil dihindari.
__ADS_1
“Kastilmu sudah berhasil ditembus, sebentar lagi akan rata dengan tanah, sebaiknya kau jangan sampai salah memilih kubuh adikku” Krusius menerbangkan beberapa belati kearah Krusius, tetapi Krusius menyihir dinding es dan menahannya begitu saja.
“Dari dulu kau tidak pernah menang duel melawanku Vrusius, padahal mewarisi sihir ayah, memalukan” cemooh Krusius.
“Jangan bangga hanya karena kau mewarisi sihir ibu” Vrusius kembali menerbangkan beberapa belati.
Krusius mengepalkan tangannya seketika koridor itu menjadi sedingin es, duel pun terjadi.
Krusius mengalahkan Vrusius dengan mudah, tubuh Vrusius kini sudah terjepit oleh tombak-tombak es. Krusius kembali menyihir tombak es ditangannya.
“Aku akan mengakhiri aibmu bagi nama keluarga disini!” Krusius bermaksud menombak Vruius, tetapi tiba-tiba beberapa belati melesat menusuk tubuh Kruius, Luca yang melakukan itu.
Krusius pun jatuh tergeletak dengan darah yang mulai berceceran, tombak-tombak es yang menjepit Vrusius mulai mencair, Vrusius tertawa puas.
“Kau memang anakku” Vrusius mengecup kening Luca yang kini tangannya sedikit gemetar, lalu menghampiri Krusius, menendang tubuhnya, kemudian menerbang beberapa belati dan kembali menusuk tubuh Krusius, hanya untuk sekedar memastikan jika Krusius tidak akan merepotkannya lagi.
“Waktunya kita pergi anakku” Vrusius berjalan meninggalkan koridor, sedangkan Luca memandangi pamannya sejenak dengan tatapan bersalah, kemudian menyusul ayahnya.
***
Genta dan Jojo pun masih menggendarai patung naga yang terbang menukik membubarkan pertahanan penyihir ordo, hingga tiba-tiba salah satu bola api biru menghantam sayap naga yang dikendarai Jojo, naga itu pun terjun bebas begitu saja beserta Jojo di punggungnya. Melihat itu Genta segera menukikan naganya dan menangkap Jojo, Genta cukup kesulitan menarik Jojo karena tubuhnya yang besar, Genta pun merendahkan terbang naganya dan mendaratkan Jojo tepat disebelah Lexi.
“Selamat datang bung!” sambut Lexi yang sibuk menyihir api ke segala arah.
Jojo mengeluarkan tongkat sihirnya, menggunakan sihir telekinesisnya menerbangkan benda apa saja yang bisa ia terbangkan kearah para penyihir ordo.
“Lexi lihat!” Jojo menunjuk lusinan pegasus yang ditunggangi para penyihir ordo terbang menuju kastil.
Lexi melihat kearah patung naganya “ingin mengendarai naga lagi?”,
__ADS_1
Jojo pun tersenyum dan langsung naik ke punggung naga, Lexi duduk di belakangnya, dalam sekali kepakan Lexi dan Jojo sudah terangkat menembus langit.
“Turunkan aku di menara!” pinta Lexi.
Jojo membelokan naga itu terbang rendah melewati menara, Lexi melompat turun begitu saja. Ketika kakinya menapak, Lexi langsung mengacungkan tongkat sihir, membulatkan tekadnya, darah di balik kulitnya terasa terbakar, lalu seketika naga api raksasa menyembur begitu saja dari tongkat sihirnya, menghanguskan para penunggang pegasus tanpa tersisa.
Setelah melakukan sihir itu tubuh Lexi terasa lemas, tetapi tiba-tiba seekor harimau hitam menerkamnya dari belakang, Lexi pun terdorong hingga ke ujung menara. Lexi hampir terjatuh tetapi tangannya berhasil menggapai pinggiran menara, harimau hitam itu tersenyum dan bermaksud menerkam Lexi sekali lagi, tetapi beberapa anak panah terlanjur mengenai tubuhnya, harimau itu pun memekik, dan seketika seekor serigala coklat menerjangnya dan jatuh bersama dari menara itu.
“Xander!” teriak Lexi.
Patricia berlari menghampiri Lexi dan menariknya keatas.
“Kenapa kalian kemari?!” protes Lexi.
“Terima kasih saja sudah cukup! Ayuk tolong Xander” Patricia memasang kembali busur panahnya dan berlari menuruni menara diikuti Lexi.
***
Xander telah kembali ke wujud manusia, ia tergeletak begitu saja, kaki kanannya patah, tetapi ia masih sadarkan diri. Tidak jauh darisana, Yudas juga sudah kembali ke wujud manusia, tetapi ia bisa kembali berdiri, hanya lengan kirinya yang patah dan beberapa anak panah menancap ditubuhnya.
Yudas mencabut salah satu anak panah, dengan tertatih ia berjalan menghampiri Xander. Xander mulai menyeret tubuhnya menjauh, tetapi percuma, sebentar lagi Yudas akan mengejarnya.
“Dasar bocah-bocah merepotkan!” Yudas bermaksud menusuk Xander, tetapi beberapa anak panah lagi-lagi ditembakan ke tubuhnya, dilanjutkan dengan Lexi yang berlari kearahnya sembari menggenggam sebilah batu reruntuhan dan menghantamkannya ke wajah Yudas. Dalam sekejap Yudas pun tergeletak tidak sadarkan diri.
“Terima kasih” celetuk Xander.
__ADS_1
“Tidak perlu basa-basi” Lexi membantunya berdiri “pertempuran belum selesai”.