KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 2 - CHAPTER 26


__ADS_3

Book 2 – Chapter 26


Kepala Sekolah


Tahun ajaran akhirnya berakhir, semua murid menikmati udara sejuk musim semi di hari terakhir sekolah mereka. Semua murid sudah mengemas koper mereka dan bersantai di halaman kastil, saling melepas canda tawa bersama teman-teman mereka, bahkan Lexi bisa melihat Aubrey dan Fabian yang sedang bergantengan tangan sembari tertawa dari kejauhan.



Lexi sendiri hanya duduk di bawah pohon didekat pondok asrama Mountain Goat, Jojo dan Genta juga duduk bersamanya. Sebuah tongkat untuk menopang disandarkan di batang pohon, luka tusukan di kaki Genta membuatnya belum bisa berjalan seperti biasa.



“Apa yang akan kalian lakukan selama liburan?” celetuk Jojo “aku lebih suka disini”.



“Entahlah” jawab Genta “mungkin tidak masalah jika aku menceritakan perjalanan ke menara para naga pada kakek, dia pasti sangat bersemangat mendengarnya, dia selalu ingin punya cerita petualangan hebat sewaktu muda”.



Lexi hanya diam, tidak ingin memecah menikmati udara sore hari itu.



“Bagaimana denganmu?” tanya Jojo.



“Aku tidak tahu, yang jelas aku ingin hidup tenang selama liburan” jawab Lexi.



“Masuk akal, sepertinya aku juga menginginkan itu” timpal Genta sembari tertawa kecil.



“Kalian sedang apa? Seharusnya kalian ikut kami bermain” Bill dan Will berlari kecil menghampiri mereka.



“Kalian harus merusak ketenangan kami ya?” gerutu Lexi diikut tawa Genta dan Jojo.



“Menikmati musim semi?” Master Lokar mendorong kursi rodanya menghampiri mereka.



“Master” sapa murid-muridnya.

__ADS_1



Lokar menatap Lexi “Kepala Sekolah berharap bisa bertemu denganmu”.



“Aku?”.


***


Lexi berjalan menaiki tangga menara, ruang Kepala Sekolah berada di puncak menara tertinggi di kastil itu. Lexi mengetuk sebuah pintu besar terbuat dari kayu.



“Masuk!”.



Lexi membuka pintu kayu besar itu dan masuk perlahan.



“Kepala Sekolah memanggil saya?”,



Ruang kepala berbentuk lingakaran dengan jendela-jendela besar di sekeliling kamar, jendela-jendela itu terbuka, udara musim semi bertiup masuk dengan sejuk.




Lexi duduk di sisi lain meja kerja Kepala Sekolah, diam mematung menunggu Kepala Sekolah memulai pembicaraan.



“Jadi.. bagaimana tahun ketigamu Lexi, tahun ketiga, benar bukan?” Kepala Sekolah membuka pembicaraan.



Lexi mengangguk canggung, selama hampir empat belas tahun tinggal di kastil, Lexi sama sekali belum pernah berbincang dengan Kepala Sekolah, bahkan melihatnya pun sangat jarang.



Kepala Sekolah bangkit berdiri, berjalan ke meja di ujung ruangan dan mulai membuat teh.



“Kau mau?” tawar Kepala Sekolah.

__ADS_1



“Eh.. terima kasih” jawab Lexi ragu.



Tidak beberapa lama Kepala Sekolah kembali ke meja kerjanya dan memberikan secangkir teh kepada Lexi.



“Jadi Lexi..” Kepala Sekolah meminum sedikit tehnya “aku ingin mendengar tentang perjalananmu kemarin”.



“Eh..” Lexi tampak ragu “ku dengar Kepala Sekolah yang menyelamatkan kami? Terima kasih sebelumnya”.



“Ah.. membantu sedikit, bukan menyelamatkan, kau menyelesaikan sendiri perjalananmu” Kepala Sekolah tersenyum ramah.



“Dan sebetulnya..” lanjut Kepala Sekolah “aku tidak akan mengetahui itu jika Master Horus tidak segera memberitahuku jika ruangannya telah dibongkar, dia cukup khwatir tentang kalian”.



“Tetapi dia yang memberitahukan lokasi tempat itu!” potong Lexi.


“Yah benar.. agar Yudas bisa mengambil elixir merah, bukan agar muridnya terjebak dalam pertempuran yang bisa mencelakai mereka” Kepala Sekolah kembali tersenyum ramah.



Kepala Sekolah kembali meminum secangkir tehnya “harus ku akui, yang kau lakukan sangatlah berani Lexi, bahkan orang dewasa pun belum tentu mempunyai keberanian untuk melakukan apa yang kau lakukan”.



“Eh.. Kepala Sekolah..” entah mengapa Lexi terpikir untuk mengatakan ini “menurutku pembuat elixir merah tidak sepenuhnya ingin agar elixir buatannya tidak diminum siapapun.. ia memang menyembunyikannya, tetapi botol elixir itu tidak bisa dihancurkan”.



Kepala Sekolah tersenyum kepada Lexi “jadi itu alasan kau meminumnya?”.



Lexi mengangguk ragu.



Kepala Sekolah kembali tersenyum “sepertinya kita belum benar-benar berkenalan dengan resmi” Kepala Sekolah mengajak Lexi untuk bersalaman “perkenalkan namaku.. Alfred Rood”.

__ADS_1


-End Of Book 2-


__ADS_2