
Book 2 – Chapter 12
Kelas Tambahan
Club duel Mountain Goat sudah memulai latihan rutin mereka untuk menghadapi White Tiger dua minggu lagi. Seperti biasanya, Xander sangat antusias, apa lagi setelah kemenangan mereka di pertandingan sebelumnya. Tubuh mereka sudah dibahasi keringat, Lexi pun sudah duduk dipinggir ruangan karena kelelahan.
“Aku yakin kita pasti bisa menggilas White Tiger seperti kita mengalahkan Black Mamba” kata Xander penuh semangat.
“Kau tahu kan pertandingan kemarin kita cuma beruntung” celetuk Jason yang juga sudah duduk di pinggir ruangan kelelahan.
“Jangan pesimis gitu dong! Kalau kita menang, akan ku traktir kalian di Charlie’s Bar” kata Xander masih dengan penuh semangat.
“Menurutku madu dingin di Four Brother’s Bar lebih enak” celetuk Lexi yang membuat Xander dan Jason terdiam.
“Ada apa?” tanya Lexi bingung.
“Kau pergi ke Four Brother’s Bar?” tanya Jason.
Lexi mengangguk tanpa mengerti ada apa.
“Itu bukan tempat yang bagus Lexi, itu tempat transaksi gelap, menurutmu dimana Percy bisa mendapatkan tawaran itu tahun lalu?” celetuk Xander “aku yakin kau anak yang baik Lexi, tetapi pergi kesana bukan langkah yang tepat, Percy juga dulu awalnya teman yang baik” lanjut Xander tanpa Lexi sempat menjawab.
Seusai latihan, Lexi pun menceritakan fakta ini kepada teman-teman sekamarnya.
“Kalau begitu kenapa ksatria sihir tidak menutup toko itu saja?” celetuk Genta.
“Jadi Master Leo membawa kita ke sarang bandit?” timpal Jojo
Sedangkan Bill dan Will hanya menyimak perbincangan ketiga teman sekamarnya itu.
__ADS_1
Lexi sendiri tidak ingin begitu memikirkan tentang Four Brother’s Bar, selama ia datang hanya untuk madu dinginnya sepertinya bukan masalah. Ada hal lain yang harus Lexi pikirkan, pertandingan club duel melawan White Tiger, jika bicara peluang, mungkin sama sekali tidak ada, benar yang dikatakan Jason, menang melawan Black Mamba hanya keberuntungan semata, hanya melawan White Tiger Lexi benar-benar tidak ingin kalah, musuh bebuyutannya disana, Luca.
***
Hari berikutnya saat kelas duel selesai, Lexi menghampiri Master Leo yang sedang membereskan mejanya.
“Master..” kata Lexi dengan ragu.
“Yah Lexi.. ada apa?” Leo tersenyum ramah.
“Eh.. Master.. apa mungkin saya bisa mendapatkan saran untuk pertandingan club duel?” tanya Lexi ragu.
Leo masih tersenyum “bukankah itu seharusnya kau tanyakan pada Master Lokar?”.
“Eh.. mungkin..”.
“Lalu apa yang sudah kau pelajari dikelas sihir lanjutan? Siapa yang mengajar?”
“Ah.. kau bisa meminta saran untuk sihir-sihir baru padanya”.
“Sebenarnya aku sudah menciptakan sihir baru..” Lexi tidak tahu mengapa ia mengatakan itu, tetapi Master Leo menjadi menatapnya penasaran.
Leo kembali tersenyum “tunjukan pada saya”.
“Hah?” Lexi tampak bingung.
“Tunjukan pada saya sihir barumu” Leo mengulang masih dengan senyum diwajahnya.
Dengan sedikit ragu Lexi pun mengeluarkan tongkat sihirnya lalu menyihir burung api terbang keatas ruangan dan meledak bagaikan petasan.
__ADS_1
Lexi langsung melihat kearah Master Leo, ia tahu itu bukan sihir yang hebat untuk dipamerkan, tetapi Master Leo justru tercengang menatap langit-langit kelas.
“Sihir untuk meminta bantuan? Menarik, hebat kau bisa memikirkan itu” puji Leo.
Lexi hanya tersenyum, tidak tahu harus bereaksi apa “belajar dari pengalaman saya tahun lalu”.
“Ah.. ya, saya mendengar beritanya, kau melawan bandit di Edinburgh, pemikiran yang hebat, memang sudah sewajarnya seorang penyihir menciptakan sihir yang sesuai dengan pengalaman mereka” Leo tersenyum kepada Lexi.
“Yah.. tapi sayangnya sihir itu tidak bisa dipakai untuk club duel” celetuk Lexi begitu saja.
Leo kembali tersenyum “yah.. mungkin untuk duel kita tidak bisa berharap banyak pada Master Charlie, datanglah ke ruangan saya setelah makan malam” Leo membereskan barang-barangnya dimeja, tersenyum kepada Lexi, lalu berjalan keluar kelas, meninggalkan Lexi yang masih mematung, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Malam itu Lexi menyelesaikan makan malam dengan cepat lalu segera memasuki kastil menuju ruangan Master Leo.
“Silahkan masuk!” kata Leo saat Lexi mengetuk pintu.
Lexi membuka pintu dan masuk kedalam dengan canggung. Ruangan itu cukup berantakan, Master Leo sendiri sedang merebus ramuan, menuangkannya ke gelas, dan meminumnya.
“Duduklah Lexi..” Leo mempersilahkan.
Lexi duduk masih dengan canggung, matanya masih menjelajah seisi ruangan.
“Maafkan ruangan saya yang berantakan” Leo tersenyum ramah.
“Ah.. tidak apa-apa Master” jawab Lexi sembari tersenyum kecil.
Leo memperhatikan ruangannya “yah.. sepertinya ruangan ini terlalu kecil, sebaiknya kita cari ruang kelas kosong” Leo tersenyum kepada Lexi kemudian beranjak keluar ruangannya diikuti Lexi.
__ADS_1