KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 2 - CHAPTER 22


__ADS_3

Book 2 – Chapter 22


Pelarian Saat Fajar


Setelah itu Lexi dan Patricia tidak mengatakan apa-apa sampai mereka kembali ke Charlie’s Bar.


“Terima kasih” kata Lexi tanpa menatap Patricia sembari duduk disamping Genta.


“Menguping itu tidak baik, tetapi bukan masalah” jawab Patricia singkat.


Genta dan Tracy pun langsung menatap mereka bingung.


“Ada apa? Bagaimana kalian bisa bersama? Bukannya kau tadi mau ke toko kue?” tanya Tracy kepada Patricia.


“Aku bertemu dengannya di tengah jalan” jawab Patricia sembari meminum segelas susu coklatnya.


“Bukankah kau ke toilet?” tanya Genta kepada Lexi.


“Nanti ku ceritakan” jawab Lexi singkat.


***


Kembalinya ke asrama, Lexi menceritakan kejadian yang terjadi ketika ia pergi ke toilet itu.


“Elixir merah?” reaksi Genta.


“Menara para naga?” reaksi Bill-Will.

__ADS_1


“Kau ciuman dengan Patricia?” reaksi Jojo.


Lexi terdiam sejenak, seakan ia sendiri ragu dengan apa yang pikirkan “aku membutuhkan bantuan kalian”.


Hari-hari berikutkan kamar mereka dipenuhi buku-buku pinjaman perpustakaan, mereka berusaha mencari sebanyak mungkin informasi tentang elixir merah dan menara para naga, tetapi itu tentu bukan hal yang mudah.


“Aku sudah mencari di buku tentang penemuan ramuan selama seratus tahun, tetapi tidak ada yang menyinggung tentang elixir merah” Genta menutup buku yang baru saja dibacanya.


“Aku juga sudah mencari di buku geografis wilayah timur, tidak ada yang mengatakan tentang menara para naga” Jojo juga menutup buku yang dibacanya.


“Ketemu!” seru Will, Genta pun langsung mengambil buku yang dibaca Will dan membacanya dengan serius “tidak mungkin..”.


“Ada apa?” tanya Lexi.


“Elixir merah adalah ramuan darah naga yang diperas dari jantung tiga ekor naga berbeda, elixir ini akan meningkatkan kekuatan sihir peminumnya” Genta membaca halaman buku itu.


Seisi kamar menjadi terdiam.


“Berarti permasalahan terselesaikan bukan? Yudas tidak akan pernah keluar dari labirin itu lagi” celetuk Jojo.


Lexi ingin meyakini itu, tetapi entah mengapa ia ragu.


***


Setiap hari ada saja yang memberikan dukungan kepada Lexi di koridor kastil menjelang final club duel, bukan hanya murid-murid Mountain Goat, tetapi juga murid asrama lainnya, seakan seisi kastil ingin mematahkan juara bertahan Gold Dragon.


Kapten tim club duel lainnya juga memberikan dukungan, seperti Jack dan Jerry, tetapi tentu saja Luca tidak, Lexi yakin seratus persen jika Luca berharap Lexi dikalahkan habis-habisan oleh Gold Dragon. Lalu juga ada David dari kelas duel yang memberikan dukungan bersama anak-anak Red Scorpion lainnya, tetapi Aubrey tidak, Lexi sudah mengira, tentu saja Aubrey akan mendukung kekasihnya yang sebagai kapten Gold Dragon.

__ADS_1


Jadwal latihan club duel menjadi semakin padat, Xander benar-benar berambisi memenangkan final club duel, tetapi entah mengapa pikiran Lexi tidak bisa fokus pada latihan, membayangkan melawan Gold Dragon tidak membuatnya bersemangat, justru bayangan yang lebih sering muncul dikepalanya adalah Franc yang meminum elixir merah, Lexi harus berusaha mati-matian menepis gambaran itu.


Setiap malam Lexi tidak bisa tidur, ia sering berpikir apa ia seharusnya menceritakan ini kepada Master Lokar atau Master Leo? Atau mungkin mengirimkan surat kepada Master Gilderoy, atau.. ayahnya? Ayahnya harus tahu soal Yudas yang sedang menipunya.


Malam itu adalah malam sebelum final club duel, Lexi benar-benar tidak bisa tidur, dan mungkin sebentar lagi fajar. Lexi menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang menerawang, Lexi sendiri benci dengan idenya, tetapi ia merasa benar-benar harus melakukannya.


Lexi bangkit dari tempat tidur, mengambil tas ranselnya dan mulai mengemas beberapa barang lalu segara beranjak keluar kamar tanpa menimbulkan suara sedikit pun.


Lexi baru saja melangkah keluar ke teras pondok.


“Kau mau kemana?”.


Lexi memalingkan wajahnya, Genta disana, Lexi hanya diam tidak tahu harus menjawab apa.


“Aku yakin kau tidak mungkin kabur karena takut dengan final club duel, jadi biar kutebak.. apa ini ada hubungannya dengan elixir merah?” tanya Genta lagi.


“Aku harus melakukan ini, aku tidak bisa membiarkan..”.


“Kau tahu kan itu bukan tugasmu?” potong Genta.


“Aku tetap harus pergi, aku tidak bisa membiarkan orang yang membunuh ibuku meminum elixir itu, dan jika kau masih mau menghalangiku..” Lexi mengeluarkan tongkat sihirnya “maaf.. jangan dendam ya”.


Genta tersenyum kecil “akhirnya kau memanggilnya ibu, aku akan berkemas, aku ikut denganmu”.


“Tidak ini urusanku” potong Lexi.


“Terakhir kali kau pergi sendiri, hasilnya tidak bagus bukan?” Genta berlari kecil masuk kembali kedalam pondok “tunggu aku!”.

__ADS_1


__ADS_2