
Book 2 – Chapter 23
Menara Para Naga
“Apa rencanamu?” tanya Genta sembari berlari mengikuti Lexi masuk kedalam kastil.
“Aku hanya menebak” jawab Lexi sembari terus berlari menaiki tangga koridor menuju lantai empat kastil, lalu belok ke kiri, terdapat sebuah pintu hitam serta jendela kecil disampingnya.
“Ini ruangan apa?” tanya Genta.
“Ruangan Master Horus” jawab Lexi sembari mengintip melalui jendela kecil samping pintu “Master Horus tidak ada diruangan”.
Tanpa berpikir dua kali Lexi mendobrak pintu itu, ruangan Master Horus tampak rapi.
“Jaga pintu” perintah Lexi kepada Genta dan langsung masuk kedalam menuju meja kerja Master Horus dan mulai membokarnya.
Wajah Lexi tersenyum lebar saat ia menemukan sebuah peta di laci, Lexi membuka peta itu, sebuah tanda silang digambar di salah satu bagian peta, Lexi meneliti peta itu, tanda silang itu berada di bagian pegunungan timur, senyum Lexi semakin lebar, ia melipat peta itu dan segera keluar dari ruangan Master Horus.
“Apa yang kau cari?” tanya Genta sembari berlari mengikuti Lexi menuruni tangga koridor kastil.
Lexi memberikannya kepada Genta “peta menuju menara para naga”.
“Lalu bagaimana cara kita kesana?” tanya Genta.
Lexi tersenyum “tentu saja pegasus”.
***
__ADS_1
Seekor pegasus coklat terbang di tengah-tengah hamparan awan, Lexi duduk dibelakang sementara Genta mengendarainya sembari membaca peta yang barusaja dicuri Lexi, entah mengapa, ketika sudah di udara Genta seakan tahu arah mata angin dan tahu kemana harus terbang, mungkin efek khusus dari sihir burungnya.
Perjalanan cukup memakan waktu, bahkan Lexi yang belum tidur semalaman sempat memejamkan matanya, meskipun tidur di punggung pegasus tidak membuatnya cukup nyenyak.
Bentangan pegunungan timur mulai terlihat didepan mereka, Genta pun mendaratkan pegasus coklat itu tepat di tanda silang pada peta, tetapi tidak ada apa-apa disana, hanya hamparan hutan.
“Kau yakin ini peta yang benar?” tanya Genta sembari mengikuti Lexi turun dari punggung pegasus.
“Aku sangat yakin” Lexi mengeluarkan tongkat sihirnya dan mulai menjelajah sekitar hingga tiba-tiba ia seperti menabrak dinding, tetapi tidak ada apa-apa didepannya.
Lexi mulai mendorong tangannya, tangannya seperti mengenai sesuatu, seperti dinding tak kasat mata “aku menemukannya”.
“Apa maksudmu?” tanya Genta bingung “tidak ada apa-apa disana”.
Lexi begitu terkejut saat melihat sebuah menara hitam menjulang begitu tinggi didepannya, terdapat tiga patung naga dipuncak menara.
Tidak beberapa lama Genta mengikuti langkah Lexi, ia ikut terkejut saat berdiri di samping Lexi.
“Pasti mantra kuno untuk menutupi tempat ini” celetuk Genta.
Lexi memegang tongkat sihirnya semakin mantap “ayu kita masuk” melangkah dengan pelan memasuki menara para naga diikuti Genta dibelakangnya.
Didalam menara itu benar-benar gelap, sumber cahaya hanya berasal dari bunga api diujung tongkat sihir Lexi, Genta mengikuti Lexi sembari meraba-raba tembok di kanan kirinya. Lalu ketika mereka sampai diujung, jalan itu dibagi menjadi dua, ujung dari ketiga jalan sama sekali tidak terlihat.
__ADS_1
“Tempat ini benar-benar labirin” celetuk Genta sembari menelan ludahnya.
***
Entah berapa lama waktu yang sudah mereka menghabiskan didalam sana, yang jelas perbekalan minuman yang mereka bawa sudah habis, mereka sama sekali tidak melihat cahaya, labirin itu begitu gelap dan sunyi, bahkan mereka bisa mendengar detak jantung mereka sendiri.
Lexi mulai frustasi, ia sudah berputar-putar tanpa henti, terjebak didalam labirin gelap tanpa arah, kakinya sudah lelah, bahkan untuk jalan kembali saja ia tidak bisa menemukannya. Lexi merasa ini adalah keputusan terbodoh yang pernah diambilnya selama lima belas tahun hidup, dan yang membuatnya tambah frustasi adalah, ia membawa Genta bersamanya.
Masih menyusuri lorong-lorong labirin sembari berpegangan pada tembok lorong, tiba-tiba Lexi tersandung sesuatu hingga terjatuh, liontin kalung emasnya terbuka. Lexi mengarahkan bunga api dari ujung tongkat sihirnya kearah benda yang membuatnya terjatuh, ternyata adalah sebuah mayat yang mulai membusuk, Lexi pun langsung menyeret tubuhnya menjauh, ia hampir berteriak tetapi menahannya.
Lexi berusaha menangkan dirinya dan bangkit berdiri, kemudian bermaksud memasukan kembali liontin emasnya yang menjuntai terbuka, tetapi ia melihat jarum kompas liontin itu berhenti berputar, menunjuk ke suatu arah. Lexi merasa ia begitu bodoh atau mungkin sudah begitu frustasi, Lexi memutuskan untuk mengikuti arah yang ditunjukan kompas itu.
Setelah cukup lama berjalan mengikuti arah jarum kompas itu, tiba-tiba Lexi melihat sekilat cahaya, tanpa berpikir panjang Lexi pun langsung berlari menghampiri asal cahaya itu, Genta mengikutinya dari belakang. Lexi dan Genta terdiam membatu, mereka berhasil menemukan inti labirin.
Sebuah gua yang sangat besar, beberapa obor menyala menerangi, terdapat banyak lorong dari segala arah, lalu terdapat undakan batu ditengahnya, diatasya tergeletak sebuah botol kecil berisi cairan merah, elixir merah.
Dengan perlahan Lexi berjalan menghampiri undakan batu itu, iya takut tiba-tiba terdapat jebakan, tetapi ternyata sampai ia berdiri di samping undakan batu, tidak ada yang terjadi, Lexi pun segera mengambil elixir merah itu.
“Wah-wah-wah, ternyata kita sudah keduluan ya” kata seseorang laki-laki paruh baya berambut kuning berantakan, brewok tipis di wajahnya, ditambah tatapan kosong tanpa jiwa dibalik mata berkantungnya, Lexi mengenalinya dari foto-foto tahanan yang kabur di surat kabar, Vrusius Jr.
Lalu disamping Vrusius Jr, berdiri Yudas dan juga beberapa orang lainnya, yang Lexi yakin juga sesama para tahanan yang kabur.
“Wah bocah, sepertinya aku ingat wajahmu” sapa Yudas “sekarang tolong serahkan elixir itu, kami sudah berputar-putar di labirin sialan ini selama dua hari”.
Lexi dan Genta pun saling tatap sesaat.
“Lari!” teriak Lexi sembari berlari menggenggam elixir merah ditangannya.
“Merepotkan saja!” Yudas merubah wujudnya menjadi seekor harimau hitam, kemudian menerkam kearah Lexi.
__ADS_1
Terkaman Yudas meleset, cakarnya hanya berhasil mengenai bahu kanan Lexi. Lexi berhasil menghindar, sembari menahan sakit berlari masuk kesalah satu terowongan bersama Genta.