
Book 3 – Chapter 12
Kastil Tua
Keheningan sesaat, hingga akhirnya Lexi memecahkannya.
“Kau kenapa?”.
“Tidak lolos seleksi club duel” Patricia kembali menghapus airmatanya yang jatuh “katanya panahan tidak cocok untuk duel langsung”.
Sejujurnya Lexi cukup setuju dengan argumen itu, tetapi melihat keadaanya ia tidak mungkin mengatakan itu.
“Berarti Gold Dragon telah kehilangan salah satu pemanah terbaik di kastil ini”.
Patricia kembali menghapus air matanya “tidak perlu memuji”.
“Wah-wah-wah, sepertinya aku menganggu waktu kencan kalian ya” suara seseorang laki-laki tidak jauh dibelakang Lexi.
Sontak Lexi dan Patricia pun memalingkan wajah mereka, Lexi sangat terkejut, ia mengenali orang itu, Lexi langsung mengeluarkan tongkat sihirnya.
“Patricia lari!”.
Laki-laki itu tertawa, bertubuh tinggi besar, berambut coklat tipis dan brewok tipis di wajahnya, tangan kanannya tidak biasa, melainkan tangan palsu terbuat dari besi, tak lain adalah Rick, orang yang menyerang rumah Lexi tempo hari.
Patricia bermaksud mengambil busur panahnya, tetapi sebelum ia sempat beranjak, seorang laki-laki bertubuh kurus, berkulit coklat dan berambut hitam keriting diikat kebelakang telah menodongkan belati di leher Patricia.
“Jangan bertindak bodoh manis” kata laki-laki itu.
“Kita tidak membutuhkannya, kau bisa membunuhnya Borkley” celetuk Rick yang ditanggapi dengan tertawa Borkley.
Lexi memegang tongkat sihirnya semakin erat, mulai memutar otaknya.
__ADS_1
Dari kejauhan Marco berlari mendekat, mengacungkan tongkat sihirnya dan menyihir mantra serang kearah Borkley. Mantra itu tepat mengenai Borkley, tetapi tubuh Borkley melebur begitu saja menjadi tanah, lalu mewujud kembali di samping Rick.
“Lexi lari!” teriak Marco.
“Wah, ternyata ada yang merpotkan ya” Rick melontarkan tangan besinya kearah Marco, tetapi Marco berhasil menghindar dan menyihir mantra serang kearah Rick. Mantra serang itu mengenai Rick telak, tetapi tidak terjadi apa-apa Rick tetap berdiri, kini tangan besinya kembali ke lengannya.
Rick tertawa “Mantra seperti itu tidak mempan padaku”.
Lexi tidak tinggal diam, ia menyihir ular api kearah Rick, tetapi Borkley terlebih dahulu menerjang Lexi dan menghantam wajah Lexi dengan gagang belatinya, membuat Lexi terjatuh, hidungnya patah mulai mengeluarkan darah.
Patricia mengambil busur panahnya dan menembakan tiga anak panah sekaligus tepat kearah Borkley, lagi-lagi tubuh Borkley melebur begitu saja menjadi tanah dan mewujud kembali di samping Patricia, memukul wajah Patricia dengan gagang belatinya, Patricia terjatuh dengan bibir yang berdarah.
“Borkley tidak ada waktu, kita bawa saja mereka semua” perintah Rick.
Borkley mengangguk, mengeluarkan sebuah cermin dari sakunya, melemparkannya ke tanah dan cermin itu menjadi besar. Lexi sudah bangkit berdiri dan siap mengacungkan tongkat sihirnya, tetapi Borkley lebih cepat, ia mencekik Lexi dan melemparkannya kedalam cermin, Lexi tersedot begitu saja.
“Lumayan sakit tahu” ia mencekik Patricia dan melemparkannya juga kedalam cermin, Patricia tersedot begitu saja.
Marco kembali menyihir mantra serang tepat mengenai Rick, tetapi Rick tidak bereaksi sama sekali.
Ia tertawa “hanya geli-geli” ia kembali melontarkan tangan besinya. Kali ini Marco terlambat untuk menghindar, tangan besi itu mecekiknya dan menariknya tepat ke cengkraman Rick.
“Kali ini kau tidak bisa kabur” Rick juga melemparkan Marco kedalam cermin dan tersedot kedalamnya.
***
Lexi terlempar keluar dari cermin diikuti Patricia dan juga Marco, tubuhnya terasa lemas, sepertinya Patricia dan Marco juga merasakan hal yang serupa.
Lexi melihat sekelilingnya, ia berada di ruang utama rumah yang megah, tetapi rumah itu tampak gelap, hanya ada minim penerangan, kemudian Lexi menangkap pemandangan seorang laki-laki duduk didekat perapian , laki-laki paruh baya berambut hitam panjang dengan brewok tipis dan raut galak tanpa senyum menghiasi wajahnya berjalan sembari membawa tongkat di tangan kirinya, tak lain adalah Yudas.
“Kalian lama sekali” gerutu Yudas kepada Rick dan Borkley yang berdiri di kanan-kiri Lexi.
__ADS_1
Tatapan Yudas bertemu dengan Lexi, ia tersenyum “selamat datang di kastil keluargaku”.
Lexi berusaha bangkit berdiri, tetapi tubuhnya begitu lemas dan ia kembali terjatuh.
Yudas tertawa kecil “tidak perlu repot-repot, penjara cermin menyedot tenaga kalian, dan kalian sudah terperangkap disana kira-kira” Yudas berhitung menggunakan jarinya “lima hari, jadi tidak perlu repot-repot” Yudas kembali tertawa kecil.
“Terowongan itu berguna?” tanya seorang laki-laki yang baru berjalan masuk kedalam ruang utama, laki-laki berambut hitam ikal, yang kini setengah wajahnya meleleh akibat luka bakar, menghilangkan ketampanannya, tak lain adalah Percy.
“Bekerja dengan baik, informasimu sangat sempurna Percy” jawab Yudas yang masih tertawa puas.
Percy melihat kearah Lexi, ia tersenyum “sepertinya kita bertemu lagi, teman lama, tetapi sepertinya sekarang keadaanya sudah berubah”.
Saat melihat Percy seketika darah dibalik kulit Lexi terasa terbakar, ia mengacungkan tongkat sihirnya dan menyihir ular api raksasa kearah Percy, sontak Percy terkejut dan jatuh jatuh kebelakang.
Setelah melakukan sihir itu tubuh Lexi seketika kembali menjadi lemas.
Rick tertawa “sepertinya bocah suruhanmu hanya pintar bicara”.
“Aku bukan suruhan siapa-siapa!” Percy bangkit berdiri dan merapikan pakaiannya.
“Kembalilah keruanganmu, aku akan memanggilmu saat kau dibutuhkan” perintah Yudas.
Dengan kesal Percy pergi meninggal ruang utama.
Yudas kembali melihat kearah Lexi “sihir yang mengagumkan, ternyata benar, elixir merah sudah mengalir dalam darahmu” Yudas menghampiri Lexi dengan senyuman lebar “sebentar lagi semua akan siap, dan darahmu akan ku kuras hingga tak tersisa, bawa mereka ke ruang bawah tanah”.
__ADS_1