KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 3 - CHAPTER 11


__ADS_3

Book 3 – Chapter 11


Akhir Pekan Yang Membosankan


Sudah beberapa hari terakhir Lexi menghabiskan sorenya dengan belajar bersama Aubrey di perpustakaan.



“Itu siapa?” tanya Aubrey melihat kearah Marco yang sedang membaca di salah satu rak tak jauh dari mereka.



“Eh.. pengawas ku” jawab Lexi ragu.



“Kau punya pengawas?”.



“Ceritanya panjang”.



Aubrey hanya tersenyum dan kembali melanjutkan menerangkan pelajaran kepada Lexi. Sebenarnya Lexi tidak peduli amat ia tidak mengerti dengan pelajaran Pak Hugo, tetapi kesempatan bersama Aubrey ini yang tidak mungkin dilewatkannya. Tetapi dampaknya setiap keluar dari perpustakaan kepala Lexi menjadi berasap.



“Kau pasti tidak mengerti apa yang dia jelaskan?” celetuk Marco saat mengikuti Lexi keluar perpustakaan.



“Kau menguping?” tanya Lexi.



Marco tertawa kecil “tidak-tidak, tetapi terlihat dari wajahmu, kau ingin belajar hanya karena suka sama dia kan?”.



Wajah Lexi menjadi memerah.



Marco kembali tertawa kecil “aku pernah di posisi yang sama denganmu, belajar bareng jadi kesempatan untuk bersama”.



Lexi membalas dengan ikut tertawa kecil.



Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang lumayan kencang terdengar dari lorong tidak jauh darisana.



“Sebaiknya kau ikuti kataku! Jangan sampai kau menjadi seperti ayahmu yang tidak berguna itu! aku harus susah payah untuk mengembalikan nama baik keluarga! Padahal dia mewarisi nama kakekmu!”


__ADS_1


Lexi dan Marco mengintip dari ujung lorong, Krusius sedang berbincang dengan salah seorang murid White Tiger yang juga keponakannya, Luca



“Kau tidak usah mengaturku!” bentak Luca.



“Jaga omonganmu! Jika bukan karena aku, kau sekarang sudah berada di panti asuhan!” Krusius kembali membentak Luca.



“Sepertinya ini masalah keluarga, sebaiknya kita pergi” bisik Marco.



Lexi mengangguk setuju.


***


“Ini maksudnya apa si?!” gerutu Lexi yang sedang mengerjakan tugas dikamarnya bersama Genta dan Jojo.



“Ku kira kau sudah belajar sama Aubrey?” celetuk Genta.



“Dia mah bukan belajar, kencan” timpal Jojo sembari tertawa diikuti Bill-Will.




“Kau tidak mimisan kan? Masa kalah dengan Genta, dia aja akan kencan lagi dengan Tracy akhir minggu ini” timpal Will.



“Bukan kencan namanya kalau kalian ikut” gerutu Genta.



“Jadi kalian akan ke Edinburgh akhir pekan?” tanya Lexi.



Genta mengangguk “kau mau ikut?”.



Terpampang raut wajah kecewa “aku tidak bisa ikut, peraturan sebagai ketua murid” jawab Lexi.



“Kau kan bisa pakai terowongan rahasia milik club duel?” usul Jojo.



Lexi sempat tertarik dengan ide itu, kemudian dia ingat pembicaraan dengan Master Lokar, belum lagi Marco yang mengawasinya.

__ADS_1



“Aku tidak bisa, tidak apa-apa, aku titip kue saja”.



“Yasudah kalau begitu” jawab Genta yang merasa aneh dengan jawaban Lexi, tidak biasanya temannya itu menuruti peraturan.



“Kudengar Patricia juga tidak ikut ke Edinburgh, kau kencan saja dengan dia di dalam kastil” canda Jojo diikuti tawa Bill-Will, Lexi hanya tertawa kecil menanggapi lelucon itu.


***


Akhir pekan yang membosankan bagi Lexi, ia hanya tidur-tiduran di kamarnya, keempat teman sekamarnya telah pergi ke Edinburgh untuk menikmati akhir pekan.



Setelah hari menjelang sore, Lexi pun akhirnya merasa bosan, ia memutuskan untuk jalan-jalan ke luar, dan tentu saja tidak sendiri, Marco ikut dengannya.



“Jujur saja ya, sepertinya kau tidak cocok di kelas penjurusan hukum sihir” celetuk Marco saat mereka berjalan di pinggir danau.



“Kau bukan orang pertama yang mengatakan itu” jawab Lexi sembari memandangi langkah kakinya.



Lexi dan Marco berjalan menyusuri pinggir danau hingga matahari hampir tebenam, tanpa becakap-cakap, hanya menikmati udara sore, Lexi sedang tidak begitu antusias untuk berbincang. Hingga tiba-tiba Lexi melihat seorang yang ia kenal, Patricia di tempat latihan memanahnya seperti biasa, hanya saja kali ini ia sedang tidak memanah, hanya duduk di pinggir danau.



“Eh.. Marco, boleh minta waktu sendiri sebentar?”.



Marco tersenyum “tentu saja, aku akan berada disini”.



Lexi berjalan menghampiri Patricia, kemudian duduk disampingnya. Melihat kehadiran Lexi, Patricia langsung menghapus air mata di pipinya.



“Ngapain kau disini?”.



“Eh..” Lexi sedikit bingung, ia tidak menyangka Patricia sedang menangis, tadinya ia pikir ia hanya ingin mengobrol.



“Tidak apa-apa, akan ku biarkan kau sendiri”.



“Tidak perlu” jawab Patricia yang membuat Lexi tidak jadi bangkit berdiri.

__ADS_1


__ADS_2