KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 3 - CHAPTER 13


__ADS_3

Book 3 – Chapter 13


Tertangkap


Lexi terbaring di ruang bawah tanah, entah sudah berapa lama, semalam, dua malam, atau bahkan lebih. Ruangan tertutup dengan pintu besi yang cukup tebal, penerangan yang berasal dari lentera lubang kecil diatas ruangan.


Marco terus saja berusaha mencoba berteleportasi, atau mengucapkan lusinan mantra untuk membuka pintu besi itu, tetapi semuanya sia-sia.



“Sepertinya ruangan ini dilindungi mantra anti sihir” Marco duduk dengan pasrah “maafkan aku”.



“Bukan salahmu, mereka hanya mengincarku” Lexi yang duduk di ujung ruangan mulai melirik kearah Patricia yang meringkuk dipojok ruangan, belum bicara sepatah katapun semenjak mereka terkurung, dialah yang tidak paling seharusnya berada disini.



“Eh..” Lexi bermaksud berbicara dengan Patricia, tetapi ia mengurungkan niatnya.



Sebuah lubang kecil di kaki pintu besi itu terbuka, didorong sebuah nampan berisi satu potong roti. Marco mengambilnya dan membaginya menjadi tiga.



“Kalian harus makan”.



“Makan hanya untuk disembelih pada akhirnya” celetuk Lexi yang hanya memandangi potongan roti di nampan.



Tanpa bicara sepatah katapun Patricia mengambil potongan roti diatas nampan. Kini perasaan bersalah Lexi semakin besar.



“Maafkan aku” kata-kata itu keluar begitu saja.



Patricia memakan roti di tangannya “tidak perlu”.



Lexi membulatkan tekadnya “aku akan mengeluarkan kalian”.



“Mengeluarkan kita lebih tepatnya” timpal Patricia.



“Itu seharusnya menjadi tugasku” Marco bersandar pasrah ke dinding “aku tidak mengerti mengapa ayahmu menugaskan aku, aku sedang dalam masa percobaan, dan sekarang aku mengacau lagi”.



“Ehem..” potong Patricia “sebaiknya kalian ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi”.



Lexi terdiam sejenak memikirkan kata-kata untuk menjelaskannya “aku..”.


__ADS_1


“Biar aku permudah.. mengapa mereka ingin menguras darahmu?” tanya Patricia.



Lexi pun mulai menjelaskan tentang elixir merah dan bagaimana ia kabur dari kastil untuk mengambil elixir itu dan meminumnya. Setelah Lexi selesai menjelaskan, bukan hanya Patricia yang tampak kaget, tetapi juga Marco.



“Aku tidak tahu bagian yang itu”.



“Sepertinya Kepala Sekolah memang penuh rahasia” timpal Lexi.



Patricia masih berusaha untuk mencerna “jadi sekarang mereka ini, siapa tadi namanya?”



“Ordo Black Rings” jawab Marco.



“Jadi ordo Black Rings ini mengincar elixir merah yang mengalir di darahmu?”.



Lexi mengangguk.



Patricia diam sesaat “kita harus kabur darisini”.


***



“Apa yang akan kita lakukan sekarang? Ada ide?” tanya Lexi.



Patricia mengambil sebatang anak panah dari wadahnya “aku mungkin bisa mencoba mengakali pintu”.



“Kita sudah pernah mencoba itu, anak panahmu akan patah lagi” celetuk Marco “lagipula, sudah berapa lama kita disini?”.



Tidak ada yang bisa menjawab, tidak ada yang tahu, yang jelas sudah lebih dari berhari-hari, tubuh mereka sudah kotor.



Lubang di kaki pintu kembali terbuka, senampan roti kembali didorong kedalam, sebelum lubang itu kembali tertutup.



“Tunggu!” potong Lexi.



Lubang itu masih terbuka.


__ADS_1


“Aku ingin bicara dengan atasan kalian, Yudas” lanjut Lexi dengan ragu, ia juga tidak tahu mengapa ia melakukan ini, sudah tidak ada jalan lagi.



“Yudas bukan atasanku bocah!”.



Lexi mengenali suara itu, ia bertukar tatapan dengan Patricia dan Marco.



“Kau.. aku ingat kau, brokoli namamu?” Lexi berusaha berbicara terus.



Pintu besi di pukul “Borkley bodoh! Borkley! Menyebalkan, bahkan sekarang bocah saja tidak tahu namaku”.



“Aku tahu siapa kau Borkley” timpal Marco masih berusaha untuk memperpanjang percakapan



“Ah.. akhirnya ada yang mengenaliku”.



“Kau hanyalah kaki tangan Franc, ketika Franc ditangkap, kau sama pengecutnya dengan anggota ordo lainnya, bersembunyi” lanjut Marco, Lexi dan Patricia menatapinya, tidak yakin Marco mengucapkan kalimat yang benar.



Seketika kunci pintu besi diputar dan pintu itu terbuka, Borkley berdiri di ambang pintu dengan muka jengkel dan belati ditangannya. Borkley langsung menghampiri Marco dan menginjaknya.



“Kau yang mengatakan itu barusan?” Borkley menodongkan belatinya di wajah Marco “hati-hati, belati ini beracun” Borkley menggores pipi Marco, sontak Marco pun langsung berteriak kesakitan, urat-urat hijau menjalar di pipinya.



“Hentikan!” Lexi bangkit berdiri dan bermaksud menghantam Borkley, tetapi reaksi Borkley lebih cepat, ia berhasil menghindar dan bermaksud menusuk Lexi dengan belatinya, tetapi Marco menyadari itu dan menahan tangan Borkley, kini belati itu justru menusuk perutnya.



“Marco!”.



Borkley hanya tertawa dan melayangkan pukulan menjatuhkan Lexi.



“Hentikan!” Patricia sudah bersiap dengan busur panahnya dan menembakannya tepat ke tubuh Borkley.



Borkley hanya tertawa dan bermaksud melebur menjadi tanah, tetapi tidak bisa, melainkan darah yang menetes.



“Ruangan ini anti sihir bodoh!” Marco menghantam wajah Borkley hingga terjatuh.



Lexi menghampiri Marco dan membantunya berdiri “ayu!” Lexi berjalan keluar ruangan itu diikuti Patricia, baru keluar beberapa langkah Lexi berhanti.

__ADS_1



“Tunggu dulu” Lexi mengeluarkan tongkat sihirnya, bunga api mulai memercik diujungnya, Lexi tersenyum dan menyihir kobaran api kedalam ruang tahanan, Borkley pun berteriak ketika kobaran api itu melahapnya, Lexi langsung menutup kembali pintu besi dan menguncinya.


__ADS_2