KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 3 - CHAPTER 26


__ADS_3

Book 3 – Chapter 26


Pertempuran Dimulai


Kepala Sekolah dan Para Master tengah berkumpul disalah satu ruang kelas, beberapa ksatria sihir yang Lexi kenal juga berada disana, Gilderoy, Talia, Victor, dan juga Marco yang sepertinya telah diobati oleh Master Elphias, urat-urat hijau ditubuhnya sudah hampir sepenuhnya hilang. Lalu ada seorang lain lagi yang duduk di ujung ruangan, tak lain adalah Rupert, ayah Lexi.



“Lexi!” Rupert langsung bangkit berdiri saat melihat Lexi memasuki ruangan itu. Rupert menghampirinya dan memeluknya dengan erat.



“Maafkan ayah”.



“Aku tidak apa-apa” Lexi tersenyum sembari melepaskan pelukan ayahnya itu.



“Lexi, apa yang kau lakukan disini? Seharusnya kau sudah ke tempat berlindung?” tanya Lokar.



“Aku ingin ikut bertempur” kata Lexi yang membuat seisi ruangan terkejut “aku yang mengetahui rencana mereka, Franc menginginkan elixir merah di darahku, kali ini aku akan menyambutnya di garis depan”.



Sepertinya Genta dan Jojo tidak seterkejut itu.



“Sudah kuduga” celetuk Genta ke Jojo.



“Aku rada takut si” timpal Jojo.



Rupert menghela nafas “Lexi, ayah tidak bisa bertempur sembari melindungimu”.



“Aku tidak butuh dilindungi” jawab Lexi.



“Sepertinya aku harus setuju dengan hal itu” celetuk Marco, kini seisi ruangan melihat kearahnya.


__ADS_1


“Sepanjang perjalanan kami, bukan aku yang melindunginya, melainkan Lexi yang melindungiku, aku rasa Lexi pantas untuk mendapat kesempatan”.



Lexi tersenyum terima kasih kepada Marco, Marco membalas senyum.



“Kurasa..” Kepala Sekolah membuka suara “kita membutuhkan ketiga naga Lexi, setahuku naga itu hanya menuruti Lexi, jadi yah.. kita membutuhkannya”.



“Mungkin alasan itu bisa diterima” celetuk Lokar “tetapi tidak untuk Genta dan Jojo, aku tidak ingin membahayakan muridku”.



“Kami akan tetap bersama Lexi!” jawab Genta tanpa berpikir panjang, Jojo mengangguk menimpali.



“Sepertinya kita tidak mempunyai banyak waktu untuk berdebat, ordo Black Rings bisa menyerang kapan saja” celetuk Cillion.



Lokar menghela nafas “baiklah kalau begitu, Gilderoy, apa rencananya?”.


***



“Kau kenapa?” tanya Tracy.



“Sepertinya aku harus menyusul Lexi” Patricia menaruh busur panah di punggungnya.



“Tetapi terlalu berbahaya” cegah Tracy.



“Biar aku temani” celetuk Xander “aku juga berhutang pada Lexi, ayuk!” Xander memimpin jalan keluar dari ruangan itu bersama Patricia.


***


Cillion berdiri di halaman kastil sembari membacakan mantra pelindung, dinding mantra semakin lama semakin tebal membungkus kastil.



Ketegangan terjadi di kastil diwarnai dengan matahari yang mulai terbenam.

__ADS_1



Lexi berjalan menghampiri ketiga patung naga, membelai kepala mereka “bantu aku sekali lagi”, ketiga patung naga itu tampak berdengus.



Tepat saat matahari menghilang, bola-bola api biru mulai dilemparkan menghantam dinding mantra, getaran pun terjadi, pertempuran telah dimulai.



Lusinan penyihir berlari menerjang kearah kastil, mengeluarkan sihir mereka berusaha menembus dinding mantra. Cillion tidak henti-hentinya membaca mantra, sejauh ini dinding matra masih berdiri.



Beberapa penyihir ordo sudah ada yang berhasil melewati dinding mantra, tetapi langsung disambut oleh Victor yang merubah wujud menjadi badak dan menyeruduk mereka. Leo juga ikut membantu, menyihir angin kencang menghempaskan para penyihir ordo, Ginerva tampaknya juga melakukan hal yang sama.



Gilderoy merubah wujud tubuh bagian bawahnya menjadi kuda cokelat, mengayunkan tongkat sihirnya berubah menjadi pedang dan maju menerjang. Horus pun telah merubah wujud menjadi elang coklat, terbang diatas sembari menjatuhkan bola-bola cairan hijau yang meledak begitu saja. Dari atas menara Talia juga tengah menghujani penyihir ordo dengan panah apinya.



Rupert telah merubah wujud menjadi serigala hitam dan mulai menerjang para penyihir ordo. Jumlah penyihir ordo yang jauh lebih banyak menyulitkan pertahanan kastil, Rupert sendiri dibuat kewalahan.



“Kalian berdua naiklah dan kendarai mereka!” perintah Lexi.



“Bagaimana denganmu?” tanya Genta.



“Aku akan membantu dari bawah” Lexi mengeluarkan tongkat sihirnya, maju menerjang bersama seekor patung naga dibelakangnya. Sementara itu Genta dan Jojo naik ke dua punggung naga lainnya dan mulai terbang menerjang para penyihir ordo dari atas.



Rupert dikepung oleh lima penyihir ordo, tetapi tiba-tiba lusinan burung api menerjang kearah mereka, lalu diikuti patung naga yang mengigit dan melemparkan mereka hingga menabrak dinding mantra.



Kini Lexi berdiri disamping Rupert, menyihir api terus menerus, sementara Rupert menerkam penyihir ordo satu demi satu, seekor patung naga yang dengan senang hati melindungi mereka, tak henti-hentinya menggigit dan melempar-lemparkan penyihir ordo.



Pertempuran terus berlanjut hingga sebuah belati melesat menusuk tubuh Cillion. Seketika dinding mantra yang melindungi kastil pun runtuh terhantam sebuah bola api biru, lalu bola api biru lainnya melesat menghantam salah satu menara kastil hingga runtuh.



Cillion terpaku tidak percaya melihat siapa yang menerbangkan belati itu, Luca, murid sekolah itu sendiri. Luca pun tampak ketakutan, ia belari kabur kedalam kastil.

__ADS_1


__ADS_2