
Book 2 – Chapter 24
Elixir Merah
Lexi dan Genta berlali tanpa arah memasuki labirin, yang terpenting bagi mereka sekarang adalah menjauh dari para pengejar, sesekali Lexi menyihir lusinan burung api untuk memperlambat para pengerjar. Darah yang bercucuran dari bahu Lexi semakin banyak.
Lexi membuka liontinya dan mulai bergumam.
“Jalan keluar, jalan keluar, jalan keluar”.
Jarum kompas masih berputar kesegela arah, lalu kemudian berhenti dan menunjuk ke suatu arah.
“Ayuk cepat!” Lexi mulai berlari mengikuti arah jarum kompas diikuti Genta disampingnya.
Setelah cukup lama berlari, Lexi mulai melihat cahaya matahari terbit dari kejauhan, tanpa berpikir panjang Lexi dan Genta mempercepat lari mereka menerobos menyambut cahaya.
Ternyata cahaya itu berasal dari jendela menara yang berada di beberapa lantai diatas tanah, Lexi dan Genta pun terjun bebas begitu saja, Genta berusaha merubah wujudnya menjadi burung elang putih tetapi terlambat untuk menangkap Lexi yang jatuh menghantam tanah begitu saja.
Genta kembali ke wujud manusia, menghampiri Lexi yang tergeletak tidak jauh darinya. Pergelangan kaki kanan Lexi patah dan sepertinya tongkat sihirnya juga patah akibat tertimpah tubuhnya, tetapi elixir merah masih tergenggam erat ditangannya. Lexi berusaha menahan sakit, Genta membantunya berdiri dan menopangnya menjauh dari menara, tetapi para pengejar sudah bermunculan, mengikuti jejak mereka melompat dari jendela, hanya saja tidak terjatuh menghantam tanah seperti orang bodoh.
Sebilah belati terbang dan menusuk paha kiri Genta, membuat Genta terjatuh, begitupula dengan Lexi yang ditopangnya, Vrusius Jr baru saja menerbangkan belatinya menggunakan sihir telekinesis.
__ADS_1
“Tidak perlu buang-buang waktu lagi, serahkan saja elixir itu, aku tidak punya waktu untuk main-main” Vrusius Jr berjalan mendekat.
Lexi mulai memutar otaknya, tongkat sihirnya patah, mereka tidak bisa melawan, lalu kakinya terluka, mereka juga tidak punya kesempatan untuk melarikan diri. Lexi mulai kehabisan akal, akhirnya ia memutuskan untuk menghantamkan botol elixir ditangannya ke tanah, tetapi botol elixir itu tidak pecah, Lexi menghantamkannya beberapa kali lagi, tetapi botol elixir itu tetap tidak mau pecah.
Vrusius Jr tertawa memandangi Lexi yang mulai frustasi.
Bagaimanapun elixir ini tidak boleh jatuh ke tangan Franc, tidak ada pilihan lain, Lexi membuka tutup botol elixir itu dan meminumnya.
“Tidak!” Vrusius Jr berusaha menghentikan.
Vrusius Jr benar-benar marah, ia kembali menerbangkan beberapa pisau “Mati saja sana!”.
Genta mendekap melindungi Lexi, pisau-pisau itu akan tepat mengenainya.
Tetapi seketika pisau-pisau itu terpental jatuh ke tanah, seperti ada sesuatu yang menahan pisau-pisau itu, Genta memalingkan wajahnya, ketiga patung naga yang sebelumnya bertengger di puncak menara menjadi hidup dan melindungi mereka.
Seketika Vrusius Jr menjadi pucat dan berlari mundur, para pengejar pun mulai menyerang ketiga patung naga itu. Dengan tubuh gemetar Genta menyeret Lexi yang masih kontraksi untuk sebisa mungkin menjauh dari pertempuran.
__ADS_1
Entah Genta berhalusinasi atau tidak, tetapi ia melihat seekor naga, bukan, kali ini bukan patung naga, tetapi naga sungguhan bewarna merah menunkik didepan mereka, Master Leo duduk di punggung naga itu, kemudian melompat turun dan mulai berduel dengan para pengejar.
Lalu disusul seekor elang coklat menukik dihadapan mereka kemudian berubah wujud menjadi Master Horus yang kemudian langsung bergabung dengan duel. Naga merah itu juga ikut berubah wujud menjadi laki-laki tidak terlalu tinggi, berbadan gemuk dan perut yang menonjol, berambut hitam disisir rapi.
“Kepala Sekolah, kita harus cepat!” kata Horus sembari melemparkan beberapa bola berisi cairan hijau yang kemudian meledak begitu saja.
Kepala Sekolah menghampiri Genta dan Lexi “apa yang terjadi dengannya?”.
“Dia meminum elixir merah” kata Genta dengan terbata-bata.
“Kita bawa dia kembali ke kastil”.
Kepala Sekolah mengangkat tubuh Lexi, kemudian merubah wujud menjadi seekor naga merah, Lexi dipegang erat di kaki naga itu, Genta naik ke punggungnya.
“Leo!” teriak Horus yang masih melemparkan ledakan cairan hijau.
Leo segera berlari naik ke punggung naga, naga itu pun mengepakan sayapnya, dalam sekali hempakan mereka sudah terangkat begitu tinggi, Horus merubah wujudnya menjadi elang dan menyusul, terbang disamping naga merah, dalam sekejap menara para naga tertutup oleh awan.
__ADS_1