
Book 3 – Chapter 14
Melarikan Diri
Lexi dan Patricia memapah Marco, mereka menyelinap keluar dari kastil tua itu, tidak ada siapa-siapa disana, sepertinya hanya Borkley yang ditugaskan untuk menjaga mereka, ordo Black Rings sama sekali tidak memikirkan kemungkinan mereka dapat meloloskan diri.
Hal yang mengejutkan adalah salju yang sudah turun memenuhi tanah, yang berarti kini Lexi sudah berusia enam belas tahun.
Mereka sempoyongan berlari kecil kearah hutan, lalu membiarkan Marco duduk besandar di pohon.
“Sudah berapa lama kita didalam sana?” tanya Patricia sembari menahan hawa dingin.
“Sangat lama yang jelas” jawab Lexi.
Ada hal lain yang lebih harus mereka khwatirkan saat itu, urat-urat hijau menjalar disekujur tubuh, wajah dan bahkan tangan Marco. Lexi berusaha melepaskan setelan jas Marco, belati itu masih menancap disana, urat-urat hijau terlihat jelas menjalar ke seluruh tubuh Marco.
“Tinggalkan saja aku, aku masih bisa menteleportasikan kalian ke Edinburgh, setelah itu segeralah kembali ke kastil” kata Marco sembari menahan sakit dan juga mungkin menahan kesadarannya sebelum ia pingsan.
“Tidak-tidak, aku tidak akan meninggalkanmu, kau teleportasikan saja Patricia” jawab Lexi.
“Tidak, aku juga tidak akan meninggalkan siapa-siapa” jawab Patricia sembari bersiap dengan busur panahnya melihat sekeliling.
“Kita harus terus bergerak, kita akan mencari kota terdekat” Lexi membantu Marco berdiri, dengan sempoyongan mereka kembali melanjutkan perjalanan.
***
Berjalan di musim dingin dengan salju yang tebal ditambah perut yang tertusuk belati beracun sangatlah menyulitkan, Marco harus mempertahankan kesadarannya dimana hawa dingin justru tambah membuatnya ingin ambruk.
Sembari memapah Marco, Lexi terus menerus memperhatikan jarum kompas di liontinnya “kota-kota-kota” gumam Lexi.
Tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan.
__ADS_1
“Apa kastilnya masih jauh?”
“Seharusnya si tidak jauh lagi, Borkley pasti sudah mati kebosanan disana”.
Mendengar nama Borkley Lexi dan Patricia pun langsung mematung dan bersiap dengan senjata mereka. Berlindung di balik pepohonan, berusaha memperhatikan beberapa orang yang sedang lewat tidak jauh dari mereka.
Lexi tidak mengenali orang-orang itu, lima orang laki-laki paruh baya melintas sembari menarik sebuah kereta kuda.
“Jadi kita ini sekarang sudah menjadi orang kepercayaan tuan ya? Membawakan api biru untuk rencana besarnya” celetuk salah seorang laki-laki.
“Tentu saja, api biru ini akan menjadi kunci kemenangan saat penyerangan musim semi nanti” timpal laki-laki lainnya.
“Memangnya kita akan menyerang apa?”
“Kau belum di beritahu? Sasaran kita sangat menyenangkan, kita akan menyerang Sekolah Sihir Selatan”.
“Kita harusnya menghancurkan kereta kuda itu” Lexi memasukan kembali tongkat sihirnya dan membantu Marco berdiri.
“Menolong Marco adalah prioritas utama kita, lagipula kita tidak tahu berapa banyak api biru yang mereka punya, bisa-bisa menghancurkan satu hanya sia-sia dan terlambat untuk menolong Marco” jawab Patricia yang juga ikut memapah Marco.
Kondisi Marco semakin parah, urat-urat hijau semakin ketara dan Marco juga tampak sudah tidak bisa mempertahankan kesadarannya.
***
Kesadaran Marco kembali pulih, ia tergeletak diatas meja, Patricia berdiri disampingnya sedang membersihkan lukanya, belati yang menancap itupun sudah dicabut, keadaan sekitarnya gelap, hanya ada penerangan dari lentera.
“Eh..” Marco berusaha duduk, tetapi tubuhnya masih sangat lemas, urat-urat hijau pun masih nampak di sekejur tubuhnya.
“Aku hanya menutup lukamu, racunnya belum hilang, aku tidak tahu penawarnya” Patricia menjelaskan sembari membersihkan kain penuh darah.
__ADS_1
“Dimana Lexi?” tanya Marco.
“Berjaga didepan, ia menemukan rumah terbengkalai ini, katanya kompasnya menuntun kita kemari, kau sebaiknya beristirahat dulu” Patricia bangkit berdiri dan meninggalkan Marco tergeletak diatas meja begitu saja.
Tidak beberapa lama Lexi kembali masuk kedalam rumah.
“Kau sudah sadarkan diri?” sapa Lexi.
“Dimana kita?” tanya Marco.
“Aku juga tidak tahu, tetapi sepertinya kota tidak jauh darisini, sebaiknya kau kembali istirahat” Lexi tersenyum dan berjalan menghampiri Patricia yang berada di dapur.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Lexi.
“Tidak begitu baik, aku juga tidak ahli soal penyembuhan, hanya pelajaran dasar di kelas penjurusan” Patricia tampaknya begitu lelah.
“Kau juga beristirahatlah, disini seharusnya aman”.
“Bagaimana denganmu?”.
Lexi terdiam sejenak “mungkin aku akan berusaha untuk mencari kota didekat sini, mencari tabib”.
Patricia menggeleng “berpergian sendiri terlalu berbahaya, lagipula kau tidak tahu daerah sini”.
“Aku punya kompas” Lexi menunjuk liontinnya “lagi pula kita tidak bisa berpergian sembari membawa-bawa Marco, aku harus berangkat sendiri, kau menjaganya disini”
Baru Patricia bermaksud menjawab, tiba-tiba seseorang laki-laki paruh baya berdiri dibelakang Lexi, menodongkan busur silang “apa yang kalian lakukan dirumahku?!”.
__ADS_1