
Book 3 – Chapter 23
Misi Penyelamatan
Gabriella menuju ke salah satu pintu dan mengetuk, seorang laki-laki paruh baya membukakan pintu.
“Apa?”.
“Eh.. Vrusius menyuruhku kemari” Gabriella tersenyum.
“Vruisus? Memangnya ada apa?”.
Tiba-tiba sebuah ular api merayap dari belakang Gabriella, menyembur tepat diwajah laki-laki itu hingga terjatuh kebelakang dan tidak sadarkan diri, Lexi melakukan itu dari ujung koridor.
Gabriella segera masuk kedalam ruangan, sebuah ruang keamanan, senjata-senjata sihir ditaruh disana dengan teratur. Gabriella mulai membongkar meja tempat laki-laki itu seharusnya duduk menghabiskan hari.
“Sudah ketemu?” Lexi ikut masuk ke ruangan itu bersama Patricia dan Marco.
“Cepat sedikit!” timpal Marco.
“Ketemu!” Gabriella mengambil sebuah peta dari rak meja itu dan membukanya, mencari ruang tahanan yang tertulis disana.
“Tidak jauh darisini, ayuk!” Gabriella memimpin jalan sembari terus membaca peta itu, berbelok dari satu koridor ke koridor lainnya.
“Disini” Gabriella menunjuk sebuah pintu besi yang sama seperti saat mereka masuk, ia menempelkan cincin dan kemudian pintu itu menghilang.
Tidak ada yang berjaga didalam ruangan itu, hanya ada anak-anak yang mungkin usianya masih dibawah Lexi, terbaring dibalik jeruji besi, mereka semua tampak lemas.
“Jahat sekali” Patricia menghampiri salah satu jeruji besi dan berusaha membukanya tetapi tidak bisa.
“Cincin!” pintanya.
Gabriella pun melemparkan cincin itu, Patricia menempelkan cincin itu ke jeruji dan seketika jeruji itu pun menghilang.
“Ayuk kubantu” Patricia memapah seorang anak laki-laki keluar dari jeruji itu.
“Cincinnya” pinta Lexi.
__ADS_1
Patricia melemparkannya, dan mereka mulai mengeluarkan para tahanan satu persatu. Semua anak-anak itu tampak kumal dan juga letih.
“Tenang saja, aku ksatria sihir, aku akan membawa kalian pergi dari sini” Marco berusaha menenangkan anak-anak itu.
Sesaat kemudian mereka sudah berjalan menyusuri lorong mencari ruang penyimpanan, Gabriella tampaknya bingung membaca peta ditangannya.
“Banyak sekali ruang penyimpanan di sini, aku tidak tahu yang mana”.
“Yang paling aman yang mana?” celetuk Lexi.
“Mungkin yang ini, paling dekat dengan ruang utama” Gabriella menunjuk salah satu ruangan dipeta.
“Kalau gitu kita kesana” kata Lexi tanpa pikir panjang.
“Tunggu” potong Marco “sebaiknya kita pikirkan dulu ini matang-matang, kita tidak bisa menyelinap kesana sembari membawa anak-anak ini”
“Kita berpencar?” usul Patricia.
“Aku ikut dengan Gabriella, Marco kau temani Patricia” celetuk Lexi.
“Tidak bisa..” Marco ingin memotong.
“Percaya padaku, kumohon, anak-anak ini lebih membutuhkanmu daripada aku” Lexi menatap Marco.
Marco pun menghela nafas “baiklah kalau begitu”.
“Ikuti aku” Patricia membaca peta dan memimpin anak-anak itu beserta Marco berbelok ke koridor lain.
“Sekarang kita kemana?” tanya Lexi.
“Kesini” Gabriella menunjuk koridor lainnya dan memimpin jalan hingga menuju ke depan sebuah pintu kayu.
Pintu kayu dibuka, Gabriella mengintip kedalam, kemudian masuk keruangan itu diikuti Lexi.
__ADS_1
“Ruangan ini kosong” Gabriella melihat sekitar, hanya ada tumpukan kotak-kotak kayu kosong.
“Kita salah ruangan, sebaiknya kita cari ke ruangan lain” usul Lexi.
Tetapi baru Lexi memalingkan badan, seorang laki-laki paruh baya sudah berdiri di belakangnya, Lexi mengenalinya, Rick.
“Dasar bocah nakal”.
***
Lexi dan Gabriella dilempar ke dalam ruang utama, mereka terjatuh begitu saja, mata kiri Lexi lebam, sementara hidung Gabriella mengeluarkan darah.
“Ada penyusup tuan” lapor Rick.
Seorang laki-laki duduk di ujung ruangan dekat api unggun, meminum segelas anggur di tangannya, laki-laki tanpa sehelai rambut, kantung matanya begitu tebal, wajahnya seperti orang yang sudah tidak memiliki jiwa, tattoo memenuhi wajah orang itu, tak lain adalah Franc.
Tubuh Gabriella langsung bergidik saat melihat Franc, ruangan itu seakan benar-benar mencekam.
“Kau lagi ya bocah, entah mengapa sepertinya kau selalu mengganggu hidupku” sapa Franc.
“Bocah ini melarikan diri dari kastil Yudas” jelas Rick.
“Ya-ya, aku tahu siapa bocah ini, bocah elixir merah, putra Rupert dan Liana” Franc meminum segelas anggurnya.
“Jangan sebut-sebut nama ibuku!” bentak Lexi yang masih tergeletak.
Franc tersenyum “benar juga, dia sudah mati bukan? Mari kita ingat-ingat siapa yang membunuhnya.. ah, ternyata aku” Franc tertawa.
Lexi tampak geram, ia mengeluarkan tongkat sihirnya, tetapi sebelum ia sempat melakukan apa-apa, Rick sudah terlebih dulu menginjak tangan kanannya hingga beberapa jarinya patah, Lexi pun berteriak kesakitan.
“Hentikan!” pinta Gabriella.
Franc memberi isyarat kepada Rick untuk berhenti, Rick pun mengangkat kakinya dari tangan Lexi.
“Tidak perlu cemas, aku yakin elixir merah akan segera menyembuhkan dirinya” Franc menatap kearah Gabriella “tunggu sebentar, apa yang dilakukan putri Dionysus bersama bocah ini?”.
__ADS_1
Seketika tubuh Gabriella gemetar hebat.