
Book 1 – Chapter 13
Kastil Ditembus
Tubuh Lexi dipenuhi keringat, luka bakar memenuhi tangannya, tongkat sihir yang digenggamnya sudah gemetar, Lexi kembali mengayunkan tongkat sihir, ular api menyambar keluar, tetapi Gilderoy dengan mudah menangkis ular api itu dengan pedangnya, ular api itu pun menghilang begitu saja.
Tongkat sihir Lexi terlepas dari tangannya, Lexi juga terjatuh kelelahan, Gilderoy menganyunkan pedangnya berubah kembali menjadi tongkat sihir, kemudian merubah wujud setengah kudanya kembali ke wujud manusia.
“Sepertinya sudah cukup latihan hari ini” Gilderoy membantu Lexi berdiri kemudian memberikan sebotol minuman.
Setelah meminum itu tenaga Lexi sedikit demi sedikit mulai pulih.
“Lebih baik?” tanya Gilderoy.
Lexi mengangguk.
Sudah seminggu Lexi tidak mengikuti kelas dasar-dasar sihir, kelasnya itu digantikan dengan kelas Gilderoy, Lexi sendiri sempat bertanya-tanya mengapa ia diberikan kelas khusus, tetapi ia tidak begitu mau memikirkannya, kelas ini kelas terbaik selama ia belajar di Sekolah Sihir Selatan.
***
__ADS_1
Langit sudah gelap, kastil sudah sepi, murid-murid sudah berada di asrama mereka masing-masing. Gilderoy selalu mengantar Lexi kembali ke asrama seusai kelas, tidak banyak perbincangan selama melewati koridor-koridor kastil, hingga tiba-tiba suara teriakan anak perempuan terdengar tidak jauh darisana.
“Keluarkan tongkat sihirmu Lexi!” perintah Gilderoy sembari merubah setengah tubuhnya menjadi wujud kuda, kemudian berlari menuju asal suara. Lexi berlari mengikuti Gilderoy dari belakang yang tentu saja larinya begitu cepat dengan wujud kuda, tongkat sihir dipegangnya erat-erat di tangan.
Di ujung koridor, seorang anak perempuan tergeletak tak sadarkan diri, seorang laki-laki tanpa sehelai rambut berada disampingnya, mulutnya terbuka lebar tak jauh dari leher anak perempuan itu seakan bersiap memakannya. Lexi pun langsung mengayunkan tongkat sihirnya, ular api menyambar keluar mengusir laki-laki tanpa sehelai rambut itu, menghilang dalam sekejap.
Gilderoy mengayunkan tongkat sihir menjadi pedang “Lexi tetap didekatku!” mata Gilderoy memperhatikan sekitar, hingga tiba-tiba sebuah rantai mengikat tubuhnya dan menariknya hingga terjatuh, Lexi pun terkejut, mengacungkan tongkat sihirnya kepada laki-laki tanpa sehelai rambut itu yang sudah berdiri tak jauh, laki-laki yang wajahnya dipenuhi tattoo, Lexi mengenalinya dari surat kabar beberapa waktu lalu, Franc.
Franc tertawa “ayu bocah.. keluarkan sihirmu”.
Tangan Lexi gemetar kemudian bermaksud mengayunkan tongkat sihirnya, tetapi Franc sudah terlanjur mencekiknya dan melemparnya hingga menghantam tembok.
Gilderoy yang masih berwujud setengah kuda bangkit berdiri dan mengayunkan pedangnya, Franc menghindarinya, menarik rantai yang masih mengikat tubuh Gilderoy dan manusia setengah kuda itu kembali terjatuh.
“Kalian mengganggu makan malamku saja” Franc mengeluarkan belatinya “lebih enak yang mana ya? Laki-laki atau perempuan?”.
Lexi berusaha bangun, tetapi tubuhnya serasa remuk, ia mencoba menggapai tongkat sihir yang tergeletak tidak jauh darinya. Franc masih tertawa-tawa sembari bermain dengan belatinya, ia tidak menyadari Lexi telah mengayunkan tongkat sihirnya, bola api meledak tepat wajahnya, Franc pun berteriak, terjatuh dengan wajah yang terbakar.
Teriakan Franc menimbulkan kegaduhan, seketika saja Ginerva, Krusius, dan Charlie sudah berjalan keluar, kemudian terdiam saat melihat Gilderoy terbaring dengan dua murid lainnya, kemudian Franc juga berada disana.
Tanpa berpikir lama-lama Krusius menyihir bola es mengurung Franc, tetapi Franc menghancurkannya begitu saja, tertawa seperti orang gila, kemudian terbang menjadi asap hitam dan menghilang di langit malam.
“Dia datang kemari..” gumam Ginerva dengan wajah pucat.
__ADS_1
***
Lexi terbaring di kamar perawatan bersama murid perempuan lainnya dan juga Master Gilderoy yang sudah kembali ke wujud manusia, tetapi mereka belum sadarkan diri. Kepala Lexi masih tertasa berat, sepertinya ia sempat pingsan untuk beberapa waktu.
Pintu kastil dibuka, Rupert berlari menuju tempat tidur Lexi, Lokar mengikuti mendorong kursi rodanya dibelakang Rupert, Ginverna dan Cillion juga disana.
“Maafkan aku Rupert” kata Lokar lemas.
“Apa dia sudah tahu?” tanya Rupert cemas.
Ginerva menggeleng “dia hanya datang untuk mencari mangsa, Lexi hanya berada di tempat dan waktu yang salah”.
“Sepertinya dia berhasil menembus dinding mantra yang kupasang disekitar kastil” timpal Cillion.
“Aku sudah menyuruh para Master untuk berjaga, sepertinya untuk sekarang semua sudah aman” seorang laki-laki berjalan masuk kedalam ruang perawatan, laki-laki tidak terlalu tinggi, berbadan gemuk dan perut yang menonjol, berambut hitam disisir rapi.
“Kepala sekolah” sambut para Master.
“Bagaimana keadaan murid satunya?” tanya kepala sekolah.
“Dia murid asramaku, tidak ada yang terluka, sepertinya Franc baru menghipnotisnya tidur, belum sempat melakukan apa-apa” jawab Ginerva.
Kepala sekolah menghela nafas “baiklah kalau begitu, aku tidak ingin ada kepanikan diantara murid dan juga para orang tua, kita rahasiakan kejadian ini, semua Master akan menjaga kastil bergantian, Cillion hubungi Knight’s Of Magic..” kepala sekolah bertukar pandang dengan Rupert, sesaat kemudian Rupert mengangguk.
“Minta Liana untuk datang kemari” lanjut kepala sekolah.
Cillion mengangguk, menggumamkan mantra kemudian berteleportasi menghilang darisana.
__ADS_1