
Book 3 – Chapter 21
York
Mereka terjatuh di sebuah jalanan kota usang, Marco kembali terkapar dengan urat-urat hijau yang memenuhi tubuhnya, Patricia segera menghampirinya dan meminumkan ramuan, perlahan urat-urat hijau itu pun mulai menghilang.
Lexi tergeletak tidak jauh, matanya terpejam, ia sepertinya kelelahan. Tidak jauh darinya Gabriella mulai bangkit berdiri, ular api yang melilitnya sudah lenyap, Patricia pun langsung mengambil busur panahnya.
“Jangan macam-macam!”.
“Mengapa kalian meninggalkan Dionysus sendiri?! Vruisus pasti membunuhnya!” bentak Gabriella yang sontak membuat Patricia terkejut, ia tidak mengira itu.
Gabriella terduduk lesuh.
“Bukannya kau juga ingin membunuhnya?” tanya Patricia.
“Vrusius pasti membunuhnya perlahan” Gabriella tampak seperti kehilangan tenaga.
Patricia melihat sekitar, bangunan-bangunan di sekelilingnya tampak usang dan reot, seakan kota itu sudah ditinggalkan.
“Sebaiknya kita masuk kedalam, diluar sangat dingin, bantu aku” Patricia berusaha untuk memapah Marco, sementara Gabriella memapah Lexi, mereka membawanya ke sebuah bangunan reot bekas bar.
Lexi dan Marco dibaringkan diatas meja, kemudian Paricia duduk untuk mengambil nafas.
“Kita dimana?” tanya Gabriella yang sedang melihat keluar jendela “salju mulai menipis, sepertinya sebentar lagi musim semi”.
“Musim semi? Sekolah sebentar lagi diserang” Patricia tampak lemas mengingat-ngingat fakta itu.
Keheningan mengisi bar reot itu, Gabriella masih menatap keluar jendela.
“Jadi kau benar putri Dionysus?” Patricia memecah keheningan.
__ADS_1
“Aku tidak begitu mengingatnya” Gabriella masih menatap keluar jendela “dia meninggalkanku di panti asuhan saat aku masih kecil”.
“Lalu bagaimana kau bisa bergabung dengan ordo?” tanya Patricia lagi.
“Mereka menemukanku, dia mengatakan jika Dionysus berhutang padanya dan melarikan diri, jadi aku harus membayar hutangnya dengan bekerja untuk ordo, dia melatihku untuk menjadi pemburu”.
“Vrusius yang menemukanmu?”.
Gabriella mengangguk “saat dia tertangkap, aku masih terkurung di markas rahasia mereka, aku benar-benar benci pada Dionysus, dia yang menyebabkan hidupku seperti ini”.
“Jadi kau tahu markas rahasia mereka?” celetuk Marco yang sudah sadarkan diri “maaf aku menguping pembicaraan kalian”.
Gabriella menggangguk kecil “ya.. aku tahu beberapa markas mereka”
Gabriella tampak tidak bersemangat mendengar usul itu “katakan padaku, siapa yang bisa melindungi diri dari Franc?”.
Marco bergidik saat mendengar nama Franc.
“Marco, kita harus segera mengabari kastil, jika hanya kau seorang, apa kau bisa berteleportasi tepat ke kastil?” tanya Patricia.
“Mungkin” jawab Marco ragu “tetapi aku tidak bisa meninggalkan Lexi, dia tugasku”.
“Mengapa ordo mengincar dia?” Gabriella memperhatikan Lexi yang tertidur dengan nyenyak.
Patricia pun menceritakan secara singkat, Gabriella terdiam setelah mendengarnya.
“Franc ingin meminum darahnya?”.
__ADS_1
Patricia mengangguk.
“Aku sendiri belum pernah melihatnya, tetapi mendengar cerita orang-orang dan rasa takut saat mereka menceritakannya, aku tidak bisa membayangkannya” Gabriella sedikit bergidik saat membicarakan itu.
“Memang hanya segelintir orang yang pernah berjumpa dengan Franc, dan kebanyakan mati” celetuk Marco.
“Apa Franc akan ikut dalam penyerangan ke sekolah?” tanya Patricia.
Gabriella mengangguk kecil “banyak anggota ordo yang membicarakan itu, sepertinya penyerangan besar”.
“Tetapi mengapa mereka ingin menyerang sekolah?” Patricia tampak bingung.
“Untuk memusnahkan penyihir muda yang berpotensi melawan ordo kedepannya” celetuk Marco yang membuat dirinya sendiri bergidik “aku harap aku salah”.
Ruangan hening untuk sesaat. Hingga sesaat kemudian suara perut keroncongan mulai terdengar, Lexi telah terbangun dari tidur nyenyaknya, matanya masih beler.
“Aku lapar”.
Ketegangan di bar reot itu mencair untuk sesaat.
***
Hari sudah mulai gelap, Lexi mulai menyalakan beberapa lilin dengan sihir apinya, sedangkan yang lain membokar bar reot itu, mencari makanan atau apa saja yang berguna yang bisa mereka temukan. Masih terus mencari hingga akhirnya Marco menemukan selembar surat kabar terbengkalai di tumpukan botol-botol kosong, Marco membaca surat kabar itu sejenak.
“Eh.. sepertinya kota ini sudah terlantar semenjak beberapa tahun yang lalu” Marco menunjukan tanggal di surat kabar itu.
“Jadi ini kota apa?” Patricia membaca surat kabar itu sesaat, mencari alamat pengiriman surat kabar itu yang tertulis kecil diujungnya “York”.
“Barusan kau bilang kita di York?” Gabriella tampaknya cukup terkejut.
“Memangnya kenapa?” Patricia tampak bingung.
“Salah satu markas ordo ada di kota ini” jawab Gabriella yang membuat semua terdiam.
__ADS_1