
Book 2 – Chapter 8
Perebutan Bendera
Murid-murid Mountain Goat kini memuja Lexi, bahkan ada juga murid asrama lain yang memujinya, beberapa kali pujian terlontar saat Lexi berpapasan dengan mereka di koridor kastil. Bahkan bukan hanya murid, beberapa Master juga ikut memuji seperti Charlie dan Horus.
“Tindakan yang berani Lexi, ceroboh.. tetapi berani” puji Horus saat kelas terbang.
“Eh.. terima kasih” Lexi tidak tahu harus menanggapi apa karena Horus sendiri adalah kepala asrama Black Mamba.
Horus seperti bisa membaca ekspresi Lexi, ia tersenyum “tidak-tidak, aku tidak membencimu karena mengalahkan asramaku, meskipun kupikir tahun ini mereka memiliki kesempatan menang, tetapi sebagai Master aku harus adil”.
Lexi lega mendengarnya, ia membalas senyuman Master Horus dengan ragu.
Di kelas duel Lexi juga mendapat pujian dari Leo, lalu beberapa murid Red Scorpion yang sebelumnya tidak pernah berbicara kepadanya ikut memuji, mereka menganggap Lexi membalaskan dendam mereka kepada Black Mamba untuk tahun lalu. Beberapa anak laki-laki membicarakan duel Lexi penuh antusias, dan beberapa anak perempuan mengajak berkenalan, sedangkan Aubrey.. ia bahkan tidak memandang kearah Lexi sepanjang kelas.
“Baiklah semua.. kalian akan latihan duel berkelompok, kalian akan saya bagi menjadi dua kelompok, merah dan biru, lalu kalian akan berduel untuk memperebutkan bendera, yang mendapatkan bendera terlebih dahulu, kelompoknya lah yang menang” Leo memberikan instruksi.
Semua murid tampak berantusias dan mulai memilih-milih kelompok mereka.
“Sayangnya..” potong Leo “kelompok kalian akan saya tentukan berdasarkan kemampuan dan jenis sihir kalian, nah! Kelompok merah..” Leo melihat papan absen dan mulai membacakan nama-nama murid tiap kelompok.
__ADS_1
Nama Lexi muncul di kelompok biru, begitu juga dengan nama Aubrey.
“Baiklah.. silahkan berkumpul dengan kelompok kalian untuk membicarakan strategi, setelah itu kalian bisa menyusul saya ke hutan di seberang danau” Leo tersenyum ramah kemudian berjalan keluar kelas.
“Lexi!” kata seorang laki-laki berambut coklat rapih, ia adalah David, murid yang ditunjuk sebagai kapten tim biru.
“Aku senang kau ada di kelompok biru!” kata David antusias.
Lexi hanya tersenyum kecil tidak tahu harus menanggapi apa.
Dengan percaya diri David mulai mengatur startegi tim biru “baiklah semua, kita akan memenangkan ini, kalian tenang saja, aku akan memimpin garis depan dan Lexi akan memimpin garis belakang”.
“Kau mengalahkan tiga orang Black Mamba seorang diri, siapa lagi yang lebih cocok” jawab David diikuti anggukan beberapa murid, Lexi tahu sepertinya ia tidak bisa membantah lagi.
***
Leo sudah berdiri di tengah hutan sembari minum dari botol besinya. Tim biru bersiap di sisi kanan hutan, mengikat bendera biru di dahan salah satu pohon yang sudah dijaga oleh Lexi, Aubrey, dan beberapa murid lainnya. Lalu tim merah berada di sisi kiri hutan, dipimpin oleh seorang laki-laki berambut pirang, ia adalah Jerry, kapten tim merah.
“Sudah siap?” Leo mengangkat tongkat sihirnya dan menyihir angin kencang menerbangkan dedaunan sebagai tanda dimulainya permainan.
“Maju!” teriak Jerry sembari mengayunkan tongkat sihirnya berubah menjadi tombak, berlari paling depan memimpin tim merah.
__ADS_1
“Semuanya tetap pada rencana!” teriak David yang kemudian menyentuhkan tangannya ke tanah, menyihirnya membuat dinding yang cukup tinggi.
Jerry melempar tombaknya dengan sihir angin sehingga tombak itu melesat dengan sangat kencang menembus dinding dan melesat beberapa senti dari pipi kiri David, bahkan hembusan anginnya menyayat pipinya.
Jerry menyihir angin di kakinya sehingga ia melompat sangat tinggi melewati dinding itu dan meniup David dengan sihir angin dari tanganya, dinding dibelakangnya pun runtuh bersamaan dengan jatuhnya David ke tanah.
Tim merah menerobos garis depan tim biru, duel pun terjadi. Lexi memegang mantap tongkat sihirnya, beberapa kali ia harus menahan diri untuk tidak membantu duel di garis depan.
Jerry berhasil menerobos garis depan, mencambut tombaknya, dan berlari dengan kencang menuju garis belakang tim biru, Lexi mengayunkan tongkat sihirnya menyihir garis api memagari jalan Jerry. Jerry tidak kehabisan akal, ia melempar tombaknya dengan sihir angin, tetapi tombak itu meleleh saat melewati pagar api, Jerry tampak kesal.
Lexi mulai memutar otak, kobaran pagar apinya tidak akan bertahan lama, sebentar lagi Jerry akan bisa melompatinya seperti melompati dinding sebelumnya.
“Setelah pagar api padam, serang dan giring ke sebelah kiri, Aubrey, siapkan perangkap air untuk menangkapnya!” perintah Lexi dengan mantap, sehingga tidak ada yang mempertanyakan rencananya, Aubrey sekalipun.
Setelah kobaran pagar api mulai mereda, Jerry menyihir angin di kakinya dan melompatinya, baru Jerry mendarat, Lexi langsung menghujaninya dengan ular api, menggiring Jerry berlari ke sebelah kiri dan akhirnya terhantam bola air Aubrey hingga terjatuh, tim biru pun bersorak.
Tetapi serangan tim merah belum berakhir, garis depan tim biru sudah dilumpuhkan, lima orang tim merah berlari kearah garis belakang tim biru. Salah seorang laki-laki merubah wujud tubuh bagian bawahnya menjadi kuda coklat, menerjang kearah Lexi sembari membawa pedang, Lexi langsung teringat Master Gilderoy, master setengah kudanya tahun lalu, ia sempat memikirkan cara mengalahkannya dalam duel tetapi tidak sempat digunakan, mungkin inilah saat untuk mengujinya. Lexi melompat ke samping menghindari tebasan pedang, lalu menyihir ular api melilit kaki kuda itu hingga terjatuh.
Baru Lexi bangkit berdiri, serangan berikutnya sudah datang, seorang perempuan menyihir api kearah Lexi, Lexi ikut menyihir api, apipun beradu dan berkobar dengan besar hingga membakar dahan beberapa pohon. Aubrey menyihir bola air menghantam perempuan itu hingga terjatuh, tetapi Aubrey tidak menyadari jika seorang laki-laki mengacungkan tongkat sihir kearahnya dan menggumamkan mantra. Lalu Lexi juga melihat Jerry yang sudah kembali berdiri dan berlari menuju bendera biru, Lexi tidak memiliki waktu untuk berpikir, ia berlari kearah Aubrey dan mendorongnya, mantra itu telak mengenai Lexi, seketika pandangan Lexi menjadi kabur, hal terakhir yang ia lihat hanyalah lengannya yang berlumuran darah dan berikutnya hanya gelap, ia sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1