KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 1 - CHAPTER 9


__ADS_3

Book 1 – Chapter 9


Siapa itu Liana?


 


Setelah sebulanan Lexi berlatih setiap malam dan selalu tidur dalam kondisi kelelahan, dan kini tidak melakukan apa-apa di malam hari justru membuatnya sama sekali tidak bisa tidur. Kamar itu sudah sepi, Genta sudah tidur dengan pulas sembari memeluk buku pelajarannya, Jojo tertidur dengan perut yang keluar-keluar dari pakaiannya, dan Bill-Will yang tertidur dengan air liur memenuhi bantal mereka. Semakin Lexi berusaha untuk tidur semakin pula ia tidak bisa tidur, karena kesal akhirnya ia pun memutuskan untuk keluar dari kamar, mungkin masih ada makanan sisa di meja makan.


Lexi berjalan menuju ruang utama tanpa suara, hingga tiba-tiba suara percakapan terdengar samar-samar dan semakin lama semakin jelas, Lexi mengenali suara itu.


“Apa kau sudah gila memberinya tongkat sihir Gilderoy? Dia masih di bawah umur!” kata suara yang dikenal betul oleh Lexi, suara kepala asramanya Master Lokar.


“Aku hanya memberikannya agar dia bisa jaga diri, aku yakin dia tidak akan melukai siapa-siapa” jawab Gilderoy membenarkan perbuatannya.


“Rupert tidak akan setuju dengan ini!”


“Tapi Liana setuju!” potong Gilderoy.


“Liana bahkan tidak pernah menemui anak itu?!”.


“Kau kira dia tidak peduli? Dia langsung mengirimku kemari saat mendengar Franc kabur dari penjara”.


“Jangan bodoh! Franc tidak akan berani kemari, apa lagi mencelakai anak itu dibawah hidung Rupert sendiri”.

__ADS_1


“Franc tidak mungkin bisa mengalahkan Liana ataupun Rupert, kita tahu itu, lalu bagaimana cara dia balas dendam? Tentu saja melukai anak itu!”.


“Kau pikir Franc mau balas dendam? Ku rasa sekarang dia akan sembunyi menikmati kebebasannya”.


“Kau naif Lokar, kau tahu Franc tidak akan puas hanya sembunyi, kau tahu dia segila apa, apa kau lupa siapa yang membuatmu duduk di kursi roda itu?!”.


Sesaat keheningan terjadi di ruang makan.


“Sudah cukup perbincangan kita untuk malam ini Gilderoy!” terdengar suara kursi roda yang didorong.


 


Lexi pun langsung berlari kembali ke kamarnya tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Menutup pintu kamar dan duduk ditempat tidurnya, meminum segelas air menenangkan diri, kepalanya dipenuhi perbincangan yang seharusnya ia tidak dengar itu, Liana? Siapa dia? Nama yang begitu asing bagi Lexi.


***


“Liana.. salah satu penyihir api terhebat abad ini, anak dari salah satu dewan Knight’s Of Magic, dan juga anggota ksatria sihir kelas satu.” tulis artikel itu, dan hanya itu artikel yang menyebutkan nama Liana dari tumpukan buku yang sudah mereka baca.


“Hanya ini? lalu apa hubungannya dia dengan ayah? Tidak ada penjelasan apa-apa?” kata Lexi putus asa.


“Mungkin mereka pernah melakukan tugas bersama” celetuk Genta.


“Tugas bersama? Tapi dia ksatria sihir kelas satu, ayahku hanya master obat-obatan? Sangat berbanding terbalik” Lexi berusaha memutar otaknya, mencoba mencari benang merah.

__ADS_1


“Bicara soal ksatria sihir kelas satu” Genta menekan nada bicaranya “Gilderoy berbohong, dia bukan pembuat senjata di Knight’s Of Magic, tapi dia ksatria sihir kelas satu, dan dia masih aktif, bekerja di sekolah ini cuma samaran”.


“Kalau itu si dari awal aku juga sudah menebaknya..” kata Lexi lemas “apa aku langsung tanyakan saja pada Gilderoy ya? Dia kan kenal sama Liana” ide putus asa Lexi.


“Jangan bodoh! Jika dia saja merahasiakan identitas aslinya, mana mungkin dia mau memberitahumu alasan dia kemari” potong Genta yang ada benarnya juga, bahkan sangat benar.


***


Beberapa hari berlalu dan mereka sudah tidak pernah ke perpustakaan lagi, lelah mencari, Lexi menekankan dirinya sendiri jika itu urusan orang dewasa, hanya membuatnya tambah pusing saja ditambah tugas-tugas sekolahnya, dan baru kali ini Genta sependapat dengannya.


Musim gugur dijalani Lexi layaknya murid pada umumnya, pergi ke kelas, mengerjakan tugas, dan melatih sihir, tidak ada keonaran ataupun perkelahian. Beberapa kali Lexi melihat Luca dan teman-temannya di koridor, ingin sekali Lexi mengeluarkan tongkat sihirnya dan menyerang mereka, masih ada dendam yang terpendam, tetapi Lexi tidak ingin mempertaruhkan tongkat sihir ilegalnya itu.


***


Musim gugur pun berganti menjadi musim dingin, hari pertama salju-salju turun memenuhi jalanan.


“Selamat ulang tahun!” teriak Genta dan Jojo membangunkan Lexi dari tidurnya, hari pertama musim dingin adalah hari kelahiran Lexi, dan musim dingin kali ini musim dingin ke empat belasnya.


Kotak-kotak kado bertumpuk di kaki tempat tidur Lexi, dari teman-teman asrama dan dari master-master sekolah tentunya yang sudah mengenal Lexi dari musim dingin pertamanya.


Lexi membuka satu persatu kado dengan antusias, keempat teman asramanya juga ikut sama antusiasnya. Kini Lexi membuka sebuah bungkusan berisi lukisan, lukisan saat Lexi membakar Luca dengan sihirnya.


“Itu dari Percy, katanya itu kejadian terhebat selama ia sekolah disini” celetuk Genta.

__ADS_1


Lexi melanjutkan membuka kadonya, hingga kado terakhir. Lexi membuka bungkusan itu yang berisi sebuah syal, Lexi sudah tahu siapa yang mengirim hadiah itu, tentu saja ayahnya yang selalu memberikan hadiah yang sama setiap tahunnya, tetapi karena Lexi selalu menggunakan sihirnya dengan tidak hati-hati dan selalu membakar syalnya, maka ia selalu membutuhkan syal baru setiap musim dinginnya.


Ada sepucuk surat didalam syal itu “Maaf ayah tidak bisa mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung, ayah harus pergi mencari tumbuhan, kita rayakan saat ayah kembali.”, Lexi hanya melipat surat itu begitu saja, ia sudah terbiasa jika ayahnya harus pergi, bukan hal besar.


__ADS_2