KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 3 - CHAPTER 3


__ADS_3

Book 3 – Chapter 3


Perpustakaan Bawah Tanah


Lexi terbangun dari tidurnya, masih menatap langit-langit kamar, kemarin masih terasa seperti mimpi baginya, tetapi hari ini ia sudah terbangun di kamar yang bukan kamarnya.



Terdengar suara perbincangan dari ruang utama, Lexi pun memutuskan untuk melihat keluar. Beberapa orang duduk melingkar di meja bundar, Master Lokar dan Marco disana, lalu ada dua orang lainnya.



Laki-laki paruh baya, bertubuh cukup gagah, memiliki jenggot panjang bewarna coklat, lalu mamakai sorban dikepalanya dan juga kalung salib menggantung panjang dilehernya, yang Lexi kenali sebagai Master Gilderoy, rekan kerja ayahnya sekaligus mantan Master di sekolahnya.



Lalu seorang lainnya, laki-laki lanjut usia, tetapi tubuhnya masih tampak gagah, berambut coklat kemerahan yang sudah mulai memutih, membawa tongkat di tangan kanannya, tongkat dengan bentuk naga bewarna emas sebagai pegangannya, Arthur, kakek yang baru dikenal Lexi tahun lalu.



“Ah.. kau sudah bangun Lexi?” sapa Master Lokar.



“Lexi.. bagaimana kabarmu?” timpal Gilderoy sembari tersenyum “Mari, duduklah disini” Gilderoy menggeser kursi kosong disampingnya “Marco, tolong siapkan sarapan untuk Lexi”.



“Tidak perlu, aku bisa menyiapkannya sendiri” jawab Lexi sembari menuju ke dapur.



Tidak beberapa lama Lexi kembali ke ruang utama sembari membawa sepiring roti, kemudian duduk di samping Gilderoy.



Lexi mulai menyantap sarapannya sementara seisi meja hanya diam memperhatikan. Lalu setelah beberapa lama, Master Lokar baru membuka suaranya.



“Jadi Lexi, sepertinya kami berhutang penjelasan padamu”.



“Arthur yang membuat tempat ini, sebagai rumah aman jika terjadi sesuatu, setelah yang kau lakukan musim lalu, kami percaya Yudas dan komplotannya tidak akan melepaskanmu begitu saja” Gilderoy menjelaskan.



Lexi menatap Master Lokar “bagaimana dengan teman-temanku?”.



Lokar berusaha tersenyum “kau tidak perlu khwatir, mereka aman”.

__ADS_1



Lexi terdiam sejenak, kemudian memalingkan tatapannya pada Marco “Thomas?”.



Marco tertunduk.



“Lexi..” Gilderoy memotong “Thomas tahu kosekuensinya”.



Lexi kembali terdiam, bahkan kini roti di piringnya sudah tidak disentuhnya lagi.



“Lalu dimana ayah?”.



“Rupert..”.



“Cukup!” potong Arthur “sudah cukup informasi yang dia ketahui”.




“Kau tidak akan kembali ke kastil” jawab Arthur.



“Jangan ngaco Arthur! Lexi akan lebih aman jika berada di dalam kastil, Kepala Sekolah menjamin itu” potong Lokar.



“Sebaiknya jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat Arthur, mungkin memang itu yang Yudas inginkan, jika dibawah pengawasan Kepala Sekolah, aku yakin mereka tidak akan berani macam-macam” timpal Gilderoy.



Arthur tampak jengkel “terserah kalian saja! Tetapi aku akan tetap menempatkan Marco disamping bocah ini, meskipun itu didalam kastil”.



“Tidak perlu!” potong Lexi.



Arthur tampak semakin jengkel “sepertinya disini bukan kau yang membuat keputusan bocah!” Arthur bangkit berdiri “urusanku disini sudah selesai” Arthur beranjak pergi meninggal ruangan itu.

__ADS_1



Sejenak ruang utama menjadi hening.



Gilderoy menghela nafas “tua bangka itu memang keras kepala, tetapi Lexi, kau harus mengerti, dia hanya ingin melindungimu, jika bukan karena rencananya, mungkin kau tidak akan berada disini sekarang”.



Lexi hanya diam tidak menjawab.


***


Setiap hari Lexi hanya menghabiskan waktu untuk membaca buku, mungkin itu satu-satunya hiburan di perpustakaan bawah tanah itu. Setiap harinya hanya ada Master Lokar dan Marco, mungkin sesekali Raymond turun ke bawah hanya untuk mengantarkan pesan.



Tentu saja Lexi tidak diperbolehkan untuk keluar dari sana, saking bosannya, Lexi menciptakan sihir anjing api yang bisa menggonggong dan berlari berkeliaran di sekitar ruangan, mungkin itu hiburan yang paling menyenangkan yang bisa didapat Lexi.



Lexi juga tidak bisa menyurati teman-temannya, lokasi perpustakaan bawah tanah itu sangat rahasia, Lexi tidak tahu apa yang dipikirkan teman-temannya saat membaca rumahnya telah hancur di surat kabar, mungkin Lexi tidak selamat dan sekarang teman-temannya sedang menangisinya.



Waktu berjalan cukup lambat bagi Lexi, tetapi sepertinya sebentar lagi musim gugur akan datang. Master Lokar sudah mengemasi barang-barangnya, sedangkan Lexi, sepertinya ia tidak punya barang yang harus dikemasi, semuanya hancur bersama rumahnya.



Hari itu Lexi sedang menikmati makan siang sembari bermain-main dengan anjing apinya. Raymond kembali turun ke bawah, ia membawakan sebuah koper.



“Sudah semua?” tanya Lokar.



“Sudah Pak” jawab Raymond.



Lokar mengangguk “baiklah kalau begitu, sampaikan pesan jika kita akan berangkat saat matahari terbenam”.



Raymond mengangguk dan berjalan meninggalkan perpustakaan bawah tanah.


“Nah Lexi, ini barang-barangmu untuk di kastil, aku menyuruh Raymond membelikannya untukmu” kata Lokar sembari menunjuk koper yang ditinggalkan Raymond.


Lexi pun beranjak dari meja makan dan menghampiri koper itu, mengecek isinya, pakaian baru, perlengkapan sekolah, dan sebagainya.


“Terima kasih Master”.

__ADS_1


Lokar tersenyum “sekarang sebaiknya kau istirahat, perjalanan kita akan panjang”.


__ADS_2