KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 2 - CHAPTER 25


__ADS_3

Book 2 – Chapter 25


Kembali Pulang


Lexi terbangun di ruang perawatan kastil, pandangannya masih berbayang, tetapi ia bisa melihat sosok ayahnya yang tertidur di pinggir tempat tidur.



“Ayah..” panggil Lexi dengan suara parau, mulutnya terasa kering.



Rupert langsung terbangun “Lexi.. kau sudah sadar!” Rupert mengambilnya segelas air dan memberikannya kepada Lexi, Lexi meminumnya hingga habis dalam sekali tegukan.



Rupert mengacak-ngacak rambut Lexi “kau berani sekali Lexi, kau melakukan lebih daripada yang seharusnya kau lakukan”.



“Bagaimana keadaan Genta?” tanya Lexi.



“Dia tidak apa-apa, dia sudah kembali bersekolah seperti biasa” Rupert tersenyum lembut kepada anaknya itu.



Lexi berusaha untuk duduk, tetapi tubuhnya masih begitu lemas.



“Tidak perlu terburu-buru, tubuhmu masih beradaptasi dengan elixir merah” Rupert menyuruh Lexi untuk kembali berbaring “tetapi sepertinya efeknya sudah mulai bekerja, patah tulang dan luka cakar di pundakmu pulih dengan cepat”.



Lexi berusaha mengingat-ngingat kejadian terakhir, tetapi ia tidak begitu ingat, ingatan terakhirnya hanyalah ia meminum elixir merah lalu seketika semuanya menjadi gelap.



“Kepala Sekolah datang menyelamatkan kalian tepat waktu, Genta juga sudah menceritakan semuanya” Rupert seakan bisa menebak raut wajah bingung Lexi.



“Oh iya..” Rupert mengeluarkan sebuah kotak.


__ADS_1


Lexi membuka kotak itu, sebuah tongkat sihir terpampang didalamnya, tongkat sihir bewarna putih dengan pegangan berbentuk kepala ular.



“Ayah belum memberikanmu hadiah ulang tahun.. kudengar sihir ular menjadi andalanmu” Rupert kembali tersenyum lembut.



Lexi mengambil tongkat sihir itu dan memperhatikannya untuk sejenak.



“Tongkat sihir itu terbuat dari pohon yang sama dengan tongkat sihirmu yang sebelumnya” Rupert menjelaskan.



Lexi masih terdiam sembari memperhatikan tongkat sihirnya dengan tatapan kosong, gambaran perjalanannya mulai berputar dikepalanya”



“Ayah.. apa yang sudah aku lakukan?”



Rupert tersenyum lemah “tidak perlu kau pikirkan, kau melakukan apa yang kau pikir perlu kau lakukan”.



“Yah.. tindakanmu memang nekat, tetapi itu semua sudah tidak penting, bisa dibilang kau melakukan perjalananmu dengan sukses” Rupert kembali tersenyum dan mengacak-ngacak rambut Lexi.


Tidak beberapa lama pintu ruang perawatan dibuka, Gilderoy masuk kedalam.


“Lexi, bagaimana keadaanmu?” Gilderoy tersenyum ramah kemudian berbisik kepada Rupert.


Rupert pun mengangguk “maaf Lexi, sepertinya ayah sudah harus pergi”.



Lexi mengangguk sembari tersenyum lemah.


Sekali lagi Rupert kembali mengacak-ngacak rambut Lexi lalu beranjak pergi, Gilderoy tersenyum sekali lagi dan pergi mengikuti Rupert. Di pintu ruang perawatan Rupert berpapasan dengan Leo, berbincang sebentar kemudian melanjutkan pergi.


“Sudah membaik?” sapa Leo.



Lexi memalingkan pandangannya, Master Leo berdiri disana sembari tersenyum, lalu berjalan menghampiri Lexi.

__ADS_1



“Tongkat sihir yang bagus”.



“Terima kasih” jawab Lexi berusaha tersenyum lemah.



“Beberapa hari istirahat kau akan pulih seperti biasa” Leo tersenyum ramah, lalu duduk disamping tempat tidur Lexi “Kau benar-benar nekad, mirip sekali dengan Rupert”.



Lexi sedikit terkejut mendengar itu “Master kenal ayah?”



Leo kembali tersenyum sembari mengeluarkan sebuah foto dan memberikannya kepada Lexi.



Foto dua orang anak laki-laki yang mungkin usianya dibawah Lexi, seorang laki-laki yang lebih kecil Lexi mengenalinya sebagai Master Leo, lalu laki-laki yang lebih besar, ayahnya.. hanya saja rambut hitamnya masih dipotong pendek.



Lexi tersenyum melihat foto itu “ternyata Master memang mengenal ayahku” Lexi mengembalikan foto itu, tetapi Leo menolaknya.



“Kau bisa simpan itu” Leo tersenyum ramah.


***


Kembalinya Lexi ke pondok asrama Mountain Goat tidak begitu disambut dengan baik, bahkan hampir semua murid memberikan Lexi tatapan sinis. Lexi bisa menebak ini pasti berhubungan dengan absennya pada final club duel sehingga asrama mereka di diskualifikasi dan membuat Gold Dragon memenangkan club duel secara otomatis, hal ini membuat Xander juga tidak mau menyapanya.



Setelah kembali ke kamar, Genta menceritakan apa yang terjadi secara detail setelah Lexi meminum elixir merah, dan tentu saja cerita ini sudah diulang beberapa kali untuk ketiga teman sekamar mereka. Tetapi seisi kastil tidak ada yang mengetahui cerita itu, Kepala Sekolah melarang Genta untuk menceritakannya, jadi tidak jelas kabar angin apa yang menyebar tentang absennya Lexi pada final club duel, tetapi Lexi tidak terlalu memusingkan itu, yang ingin ia lakukan hanyalah istirahat di tempat tidurnya, merebahkan diri serasa begitu nyaman setelah terperangkap didalam labirin gelap.



“Eh.. Lexi..” celetuk Bill sembari tersenyum lebar “jadi.. kapan kita mau mencoba kekuatan elixir merah?”.



Sontak seisi kamar pun tertawa.

__ADS_1


__ADS_2