
Book 3 – Chapter 22
Markas Ordo
“Disana”.
Gabriella menunjuk sebuah perpustakaan reot.
“Ku rasa ini bukan ide yang bagus” celetuk Patricia “kita susah payah kabur, dan sekarang kita justru mendatangi markas mereka?”.
“Aku sepakat dengannya” timpal Marco.
“Sebelumnya kita tidak tahu tentang penyerangan sekolah, sekarang kita tidak bisa kembali ke kastil, setidaknya kita bisa mencegah penyerangan” Lexi mengeluarkan tongkat sihirnya.
“Kita tidak tahu ada apa didalam sana, lagipula markas mereka banyak, bisa saja didalam tidak ada apa-apa” lanjut Patricia.
Lexi terdiam sesaat “aku juga berharap didalam tidak ada apa-apa, ayu masuk”.
“Lexi..” celetuk Marco “kau tahu kan ini bukan tugasmu?”.
Lexi mengangguk kecil “tetapi teman-temanku ada disekolah itu” kemudian Lexi memimpin jalan menuju perpustakaan reot itu.
Dari luar tidak ada yang aneh, hanya seperti bangunan reot yang sudah ditinggalkan, bahkan tidak ada penjaga sama sekali.
“Mengapa tidak ada penjaga? Perasaanku tidak enak” celetuk Patricia.
“Justru jika ada penjaga akan ketahuan jika ini sebuah markas, jika dibiarkan begini saja ksatria sihir tidak akan curiga” jawab Gabriella.
Lexi membuka pintu perpustakaan perlahan, didalam sana tidak ada yang menarik, hanya perpustakaan tua yang sudah tidak tertawat dengan buku yang berceceran dimana-mana.
“Sekarang apa?” tanya Lexi.
“Ada pintu rahasianya, kita hanya perlu menemukan itu” jawab Gabriella yang mulai berkeliling.
__ADS_1
Marco menarik Patricia “apa kau yakin? Dia tidak menuntun kita ke jebakan?”.
Patricia terdiam sesaat seakan menimbang-nimbang “aku percaya padanya”.
Tidak beberapa lama mencari.
“Aku menemukannya!” panggil Gabriella dari ujung ruangan, ia berdiri didepan rak buku yang sedikit tergeser, dibelakangnya terdapat sebuah pintu yang terbuat dari besi.
Marco mencoba mendorong pintu itu, tetapi tidak bergerak sedikit pun.
“Sekarang apa?”,
“Sial!” gerutu Gabriella “kita membutuhkan cincin untuk membukanya”.
“Maksudmu cincin ini?” Lexi mengeluarkan cincin dari kantungnya, cincin yang sebelumnya milik Dionysus.
“Ceritanya panjang”.
Gabriella mengambil cincin itu, kemudian menempelkannya ke pintu besi, seketika pintu itu menghilang, menunjukan lorong panjang menurun dan beberapa lentera sebagai penerangan.
Gabriella menelan ludah “aku benci masuk kedalam, kalian siap?”,
Patricia memegang busur panahnya semakin erat, Marco juga memegang tongkat sihirnya dengan erat.
Lexi menyalakan bunga api pada tongkat sihirnya “ayu masuk” Lexi berjalan paling depan memasuki lorong itu.
***
Pintu terbuka di ujung lorong satunya, sebuah koridor ruangan bawah tanah, tidak ada siapa-siapa disana, hanya suara orang berbincang dari ujung koridor.
“Sebelah sini” Gabriella memimpin jalan menuju ke sebuah ruangan di sebelah kiri, dan ternyata ruangan itu adalah dapur.
“Mengapa kita kesini?” tanya Marco.
__ADS_1
Gabriella terseyum kecil “maaf, aku lapar”.
“Sepertinya aku juga” tanpa berpikir dua kali Lexi membokar dapur itu mencari makanan apa saja yang bisa ia makan.
Marco menghela nafas “kalian tidak tahu betapa bahayanya ini, dan masih memikirkan makan?”.
“Ku rasa tidak apa-apa” celetuk Patricia “kita sudah tidak makan dua hari”
“Baiklah-baiklah” Marco menutup pintu dan berjaga.
“Sekarang apa rencana kita?” tanya Patricia sembari mengambil sepotong roti.
“Ruang penyimpanan, kita hancurkan api biru” celetuk Lexi sembari mengunyah sepotong roti.
“Dan bagaimana tepatnya kau menghancurkannya? Jika kau memecahkannya, justru akan terbakar” timpal Marco.
“Kita bakar markas ini?” usul Lexi dengan mulut yang penuh dengan roti.
“Jangan!” potong Gabriella “tidak semua yang berada disini jahat, kau tahu, ada beberapa yang terpaksa menuruti perintah, seperti aku”
“Lalu bagaimana kita membedakannya? Kau mengenal mereka?” tanya Marco.
“Eh.. sebenarnya ada penjara di markas ini, tempat mengurung mereka agar tidak kabur, dan hanya dikeluarkan saat akan diberi tugas” jawab Patricia.
“Yasudah, kalau begitu kita bebaskan para tahanan, lalu bakar markas ini" Lexi sepertinya baru saja selesai menelan potongam terakhir rotinya.
“Kita harus berpencar, semakin lama dibawah sini semakin bahaya” usul Patricia.
“Ide buruk, lagipula hanya Gabriella yang hafal peta markas ini” timpal Marco.
__ADS_1
“Eh.. kita punya satu masalah lagi, aku tidak hafal peta markas ini” Gabriella tersenyum canggung.