KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 3 - CHAPTER 4


__ADS_3

Book 3 – Chapter 4


Perjalanan Kembali Ke Kastil


Koper Lexi sudah siap diruang tamu, Master Lokar dan Marco pun sudah menunggu. Master Lokar terus menerus mengecek jam sakunya.



“Sepertinya sudah waktunya, sudah siap Lexi?” tanya Lokar.



Lexi mengangguk.



“Baiklah kalau begitu, Marco, boleh minta tolong?”.



Mereka bertiga pun bersiap, Marco memegang Master Lokar dan juga Lexi, lalu mengumamkan mantra dan berteleportasi.



Mereka berteleportasi ke depan gedung perpustakaan Nottingham, dan yang membuat Lexi terkejut adalah orang-orang sudah menunggunya disana.



Lexi mengenali beberapa diantara mereka, seperti Gilderoy dan Raymond, lalu ada juga Master Horus, kepala asrama Black Mamba, laki-laki paruh baya tanpa sehelai rambut dan jenggot tipis di dagunya, memakai jubah panjang serba hitam. Lexi sebenarnya masih marah kepada Master Horus, tetapi ia dan Genta berhutang nyawa padanya.



Lalu disampingnya berdiri Master Krusius, kepala asrama White Tiger, laki-laki berambut putih panjang lurus, kulitnya begitu pucat.


Dan yang terakhir Master Leo, laki-laki cukup muda, mungkin baru akan menyentuh paruh baya, berambut coklat pucat dengan wajah yang tampak lelah dengan kantung mata tebalnya, tetapi ia memakai pakaian yang rapi dengan setelan jas hitam, Master duelnya tahun lalu sekaligus teman dekat ayahnya.


Terdapat dua orang lainnya yang belum pernah dilihat Lexi sebelumnya, seorang perempuan berambut perak panjang diikat kebelakang, membawa busur panah di pinggangnya. Lalu seorang lagi laki-laki bertubuh kekar, berambut tipis, wajahnya menjadi imut jika dibandingkan dengan tubuhnya, lalu ia membawa tameng di punggungnya. Mungkin mereka berdua usianya tidak berbeda jauh dengan Marco.



“Perkenalkan, namaku Talia” si perempuan memperkenalkan diri dengan senyum penuh ceria.



“Namaku Victor” lalu dilanjutkan si laki-laki dengan senyum agak canggung.



“Mereka adalah ksatria sihir kelas satu kepercayaan Arthur” Gilderoy memperkenalkan.

__ADS_1



“Apa harus sampai seperti ini?” tanya Lexi bingung.



“Percayalah bocah, aku juga tidak suka dengan tugas ini” celetuk Krusius.



Leo berlutut didepan Lexi dan menepuk pundaknya “kami disini untuk menjagamu Lexi, kau tidak perlu khwatir”.



Lexi terdiam sejenak “orang terakhir yang menjagaku tidak selamat”.



Leo tersenyum “Lexi, tugas seorang Master untuk melindungi muridnya”.



Lexi hanya tertunduk.



Talia tersenyum “hei dik, tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa”.




Dibelakang mereka, telah siap sebuah kereta kuda yang ditarik enam ekor kuda bersayap yang disebut pegasus, lalu empat ekor pegasus lainnya berdiri di sekitar kereta kuda itu.



“Pegasus tercepat di Knight’s Of Magic” celetuk Raymond dengan senyum diwajahnya.



“Raymond, ku titipkan perpustakaan ini, sekarang waktunya berangkat” Lokar mendorong kursi rodanya dan dibantu Marco naik ke kereta kuda.



“Ayu Lexi” Gilderoy merangkul Lexi naik ke kereta kuda, lalu pintu ditutup.



Leo, Krusius, Talia, dan Victor menunggangi pegasus mereka masing-masing.

__ADS_1



“Eh.. kalian tahu kan sihir ku tidak berguna di langit?” celetuk Victor yang tidak nyaman duduk di punggung pegasusnya.



Talia hanya tertawa menanggapi itu.



“Baiklah.. waktunya berangkat” Horus merubah wujuduhnya menjadi elang coklat dan memimpin terbang paling depan, lalu diikuti kereta kuda pegasus yang dikawal empat penunggang pegasus lainnya.



Mereka terbang dengan sangat kencang menembus langit malam, Gilderoy tidak henti-hentinya melihat keluar jendela, lalu Marco juga memegang tongkat sihirnya erat-erat, kakinya gemetar.



Tiba-tiba Lexi mendengar suara gaduh, beberapa pegasus terbang kearah mereka, dan Lexi mengenal penunggang paling depan, laki-laki paruh baya berambut kuning berantakan, brewok tipis di wajahnya, ditambah tatapan kosong tanpa jiwa dibalik mata berkantungnya, Vruius Jr.



Vrusius Jr menerbangkan selusin belati dengan sihir telekinesisnya, Leo dengan sigap mengeluarkan tongkat sihir dan menyihir angin topan meniup belati-belati itu.



Sihir lain berdatangan, sebuah api besar siap melahap kereta kuda pegasus, tetapi Krusius sudah terlebih dahulu menyihir dinding es menahan semburan api itu.



Talia tidak tinggal diam, ia pun membalas serangan, menembakan anak panah api kearah Vruisus dan komplotannya. Talia memanah dengan sangat cepat, anak panah dilontarkan beruntun dan menjatuhkan beberapa dari komplotan Vrusius Jr.



Vrusius pun tampak geram, ia menerbangkan beberapa pisau kearah Talia, tetapi Victor sudah terlanjur melesatkan pegasusnya ke depan Talia dan menahan semua belati itu dengan tamengnya.



Keadaan menjadi kacau di langit malam, sihir berterbangan kesana kemari, bahkan ada beberapa yang berhasil mengenai kereta kuda pegasus.



Gilderoy mengayunkan tongkat sihirnya berubah menjadi sebilah pedang “jarak kita sudah tidak jauh, aku akan memberikan tanda kepada kastil, Marco, teleportasilah ke dalam kastil bersama Lexi”.



“Tidak!” potong Lexi “aku tidak akan kabur sendiri!” tongkat sihir dipegangnya mantap ditangannya.


__ADS_1


Lalu seketika darah dibalik kulit Lexi terasa terbakar, entah pemikiran darimana, Lexi membuka pintu kereta kuda, mengacungkan tongkat sihirnya. Lexi membulatkan tekadnya dan menyihir naga api raksasa terbang membelah langit malam, Vruius Jr dan komplotannya berjatuhan dari pegasus mereka, naga api membelah formasi terbang mereka. Dalam sekejap langit malam kembali tenang.


__ADS_2