KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 3 - CHAPTER 9


__ADS_3

Book 3 – Chapter 9


Kelas Penjurusan Hukum Sihir


Lexi, Genta, dan Jojo akhirnya mengambil kelas penjurusan yang sama, hukum sihir. Murid-murid yang mengambil kelas penjurusan hukum sihir paling sedikit dibanding dengan kelas penjurusan lainnya, sehingga kelima asrama digabung menjadi satu kelas. Di kelas itu ada beberapa orang yang Lexi kenal, salah satunya adalah Tracy, dan Genta sangat senang menerima nasib baiknya ini.



“Selamat pagi semua!” sapa seorang laki-laki paru baya memakai topi browler hitam menutupi rambut hitamnya yang sudah mulai memutih, lalu kumis tebal yang disisir rapi, memakai setelan jas bewarna hitam yang tampaknya mahal, lalu terdapat pin berbentuk perisai lambang Knight’s Of Magic terpampang jelas di dada kirinya.



“Perkenalkan, namaku Hugo, perwakilan dari Knight’s Of Magic untuk mengajar kelas penjurusan ini, tujuannya adalah agar standart murid-murid yang nantinya akan bekerja di kantor Knight’s Of Magic tidak menurun” mata Hugo memperhatikan seisi kelas.



“Memang setiap tahunnya kelas penjurusan hukum sihir paling sedikit peminatnya, dan ksatria sihir selalu nomor satu, tapi apakah kalian tahu? Ksatria sihir tidak menerima anggota baru sebanyak itu setiap tahunnya, belum lagi yang berasal dari sekolah lain, biasanya mereka yang gagal seleksi ksatria sihir, ujung-ujungnya akan bekerja di kantor Knight’s Of Magic, aku bersyukur bisa mengajar anak-anak yang memiliki pandangan rasional dan bukan mimpi belaka” Hugo melepas topinya dan duduk di belakang mejanya.



“Lalu kalian tahu apa keuntungan bekerja di Knight’s Of Magic?” Hugo tersenyum “tentu saja gaji bulanan yang tetap, kalian tidak perlu memikirkan masalah keuangan kalian lagi, kalian akan memiliki hidup yang layak, ditambah kalian tidak perlu repot-repot berkeringat.. baiklah, cukup perkenalannya, sekarang kita mulai pelajarannya” Hugo memberikan isyarat ke pintu.



Seorang perempuan berkulit coklat, berambut hitam keriting panjang masuk kedalam kelas, Lexi terdiam saat melihat perempuan itu, tak lain perempuan yang ia suka.



“Nah semuanya, ini adalah Aubrey, dia mendapat nilai paling tinggi di kelasku tahun lalu, jadi sekarang senior kalian ini akan membantuku untuk mengajar kalian” Hugo menjelaskan.



Aubrey mengangguk “salam kenal semuanya”.



Lexi masih terdiam hingga Genta menyikutnya dan tertawa kecil bersama Jojo, wajah Lexi pun memerah.



Kelas itu berjalan sangat membosankan bagi Lexi, hanya teori, teori, dan teori, Genta dan Jojo mencatat, sedangkan Lexi hanya duduk sembari menyangga kepalanya dengan tangan, matanya sudah terasa berat.



Dan sepertinya sebagian besar kelas penjurusan hukum sihir hanya kelas teori, kecuali jam pelajaran terakhir, kelas duel tingkat dua yang memang wajib untuk semua murid, tetapi sayangnya, kelas yang diajar Master Leo ini sudah diambil Lexi tahun lalu, jadi kelas yang diambil Lexi kini sepenuhnya hanya kelas teori.


__ADS_1


Setiap sore itu pun Lexi jadi memiliki jam kosong, ia tidak ingin menyentuh buku-buku, sudah cukup seharian di kelas bertemu dengan buku pikirnya. Lexi pun memutuskan untuk berjalan-jalan di tepi danau, kastil masih sepi, semua murid masih berada di dalam kelas mereka.



Lexi terus berjalan menyusuri tepi danau sampai ia melihat pohon tempat Patricia biasa melatih panahan, dan tempat itu kini ramai, beberapa orang melatih panahan disana, termasuk Patricia, Lexi menebak itu adalah kelas penjurusan ksatria sihir dan khusus senjata panahan. Lexi tidak ingin menganggu, tetapi ia ingin melihat, Lexi pun memutuskan untuk duduk di tepi danau tak jauh dari arena panahan, memperhatikan danau dan sesekali memperhatikan anak panah yang melesat menancap pohon. Semakin Lexi memperhatikan, semakin Lexi yakin jika Patricia pemanah yang berbakat, ia salah satu yang terbaik di kelasnya.



“Sedang apa kau disini?” celetuk Patricia membuyarkan lamunan Lexi yang sedang menatap danau, ternyata kelas panahan telah usai.



“Menikmati jam kosong”.



“Oh..” Patricia duduk disamping Lexi, ia mulai membalut jari-jarinya yang luka akibat latihan dengan perban.



“Jadi kau benar-benar tidak mengambil kelas penjurusan ksatria sihir?” tanya Patricia masih sembari membalut perban.



“Bagaimana kau tahu?”.




Lexi tertawa kecil “yah.. nanti aku tinggal pinjam catatan Genta”.



Keheningan terjadi, Lexi memperhatikan luka-luka di tangan Patricia.



“Jadi kapan kau akan seleksi?”.



“Dua minggu lagi” Patricia tampak muram saat topik ini diangkat.



“Kau sudah latihan setiap hari, kau tidak perlu khwatir”.

__ADS_1



“Dan kata-kata itu dikeluarkan dari mulut orang yang berbakat sepertimu?”.



“Aku berbakat? Lalu kenapa aku ada di asrama Mountain Goat ya?”.



Patrcia pun tertawa kecil mendengar lelucon Lexi, Lexi juga ikut tertawa.


***


Seminggu pertama menjadi seminggu yang berat untuk Lexi, selain harus berusaha menahan kebosanan sepanjang kelas, seusai kelas pun Lexi masih disuguhkan tanggung jawab sebagai ketua murid. Murid-murid tahun pertama kerap menghujani Lexi dengan sejuta pertanyaan, yang menurut Lexi pertanyaan mereka tidak penting-penting amat, seperti bagaimana cara mengirim surat dari dalam kastil? Lalu bagaimana cara membeli perlengkapan sekolah yang kurang? Apakah boleh mengganti kamar karena tidak cocok dengan teman sekamarnya? Lexi hanya mengangguk-ngangguk saja.



“Nanti akan ku cekan jika ada kamar kosong” jawab Lexi asal lewat yang belum tentu nantinya akan ia ingat.



Belum lagi tugas-tugas yang cukup banyak yang diberikan oleh Master Hugo, tetapi ia lebih suka di panggil Pak Hugo, katanya lebih resmi, dia bukan guru di kastil ini melainkan perwakilan dari Knight’s Of Magic. Lexi sendiri tidak heran, Pak Hugo selalu terlihat bangga dengan emblem perisai di dadanya, bahkan terlihat seperti terlalu mencondongkan dadanya memamerkan emblem itu, dan tidak pernah satu kali pun kelas berakhir tanpa ia menyinggung masalah pekerjaannya yang penting di kantor pusat Arsenal.



“Lexi” panggil Aubrey saat kelas penjurusan hukum sihir berakhir.



“Ya?” Lexi sedikit terkejut dan mungkin wajahnya sedikit memerah.



Genta dan Jojo hanya tertawa kecil dan memilih untuk meninggalkan Lexi.



“Ada apa?” tanya Lexi masih sedikit gugup.



“Kau belum mengumpulkan tugas hari ini, lalu tugasmu yang kemarin cukup berantakan” jawab Aubrey sembari menunjukan lembar kertas tugas Lexi.



“Eh..” seketika kepala Lexi kosong, ia tidak tahu harus menjawab apa, bukan percakapan ini yang ia harapkan.

__ADS_1



“Jika kau kesulitan” lanjut Aubrey “aku bisa membantumu untuk mengajarkan tugas-tugasmu” Aubrey tersenyum manis dan meninggal Lexi di kelas dengan wajah yang semakin memerah.


__ADS_2