KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 3 - CHAPTER 24


__ADS_3

Book 3 – Chapter 24


Duel Yang Tertunda


Franc kembali duduk ke dekat perapian.



“Anton! Tambahkan anggurku!”.



Tidak beberapa lama seorang laki-laki paruh baya berambut hitam ikal panjang dengan bekas luka menyilang di wajahnya, berlari kecil sembari membawa botol anggur, menuangkannya ke gelas Franc.



“Anton, apa kau ingat bocah ini?” Franc menunjuk kearah Lexi.



Anton pun tersenyum “tentu saja tuan, bocah yang merepotkan itu”.



Franc tertawa kecil “ya sepertinya darah Rupert memang mengalir padanya, ayah dan anak sama-sama merepotkan” Franc meminum anggurnya “Rick, bawa putri Dionysus kembali ke ruang tahanan, putri sahabat lamaku ini sudah berkeliaran terlalu lama”.



Rick mengangguk dan langsung menyeret Gabriella yang memberontak, tetapi tentu saja tidak ada artinya bagi Rick.



“Apa yang akan kau lakukan padanya?!” tanya Lexi masih sembari menahan sakit patah jari tangannya.



“Sepertinya kau banyak ingin ikut campur ya bocah” Anton menghampiri Lexi dan menendang tubuhnya , Lexi pun langsung terkapar lemas, Anton tertawa penuh kemenangan.



Franc ikut tertawa “Anton, tinggalkan kami berdua”.



Anton pun mengangguk dan beranjak meninggalkan ruangan utama, hanya tersisa Lexi dan Franc disana.



“Siapa namamu? Kau belum mengatakannya padaku” Franc menaruh gelas anggurnya dan bangkit berdiri “duel terakhir kita waktu itu terganggu, mungkin kita bisa melanjutkannya, bagaimana?”.

__ADS_1



Franc menggumamkan mantra dan seketika Lexi seperti ditarik berdiri secara paksa, Lexi pun berteriak kesakitan, seluruh tubuhnya terasa tertarik kesegala arah.



“Sekarang ambil tongkat sihirmu” perintah Franc.



Lagi-lagi tubuh Lexi bergerak sendiri dan mengambil tongkat sihir yang tergeletak itu, Lexi berusaha melawan, tetapi ia semakin merasakan sakit, tubuhnya seakan akan terkoyak.



“Abdiku tidak ada yang berguna, dan disinilah kita, aku mengurusnya sendiri” Franc menghempaskan udara dan seketika Lexi langsung terlempar hingga ke ujung ruangan menghantam dinding. Bahkan kali ini Lexi sudah tidak bisa berteriak kesakitan, seluruh tubuhnya terasa remuk, untuk menggerakan jari saja sepertinya sudah tidak bisa.



Franc tertawa kecil “aku tidak mengerti mengapa abdiku bisa kesulitan mengurusmu bocah, kau hanya seperti lalat” Franc kembali mengambil gelas anggurnya dan meminumnya “setelah kupikir-pikir, apa kau benar putra Rupert? Kau sama sekali tidak berbakat”.



Tongkat sihir masih tergenggam di tangan kiri Lexi, ia ingin mengeluarkan sihir, tetapi sakit di seluruh tubuhnya membuatnya tidak bisa fokus, tidak ada sihir yang keluar. Lexi hanya bisa memejamkan mata dan bergumam “tolong, tolong, siapapun tolong” Lexi memikirkan Gabriella yang ditangkap, lalu Patricia dan Marco, apa mereka berhasil keluar dengan selamat?



Franc berjalan menghampiri Lexi “kau tahu bocah, besok musim semi telah tiba, aku sendiri akan turun tangan untuk menyerang sekolah kesayanganmu itu, dan setelah itu, tidak ada lagi penyihir yang tersisa untuk menentang kekuasaanku” Franc menumpahkan anggurnya di wajah Lexi “tetapi sebelum itu, aku akan meminum darahmu”.




Salah satu patung naga langsung menerjang kearah Franc dan mengigitnya, lalu melemparkannya ke ujung ruangan. Seekor patung naga lainnya menghampiri Lexi dan menaikannya ke punggung naga itu.



“Aku harus menolong temanku” gumam Lexi.



Tanpa diperintah dua kali patung naga itu langsung menerobos dinding menuju ke koridor dan terus menerus menghancurkan dinding. Tidak beberapa lama, tiga patung naga sudah menerobos dinding ruang tahanan, Rick yang berada disana pun sontak terkejut, salah seekor naga langsung menggigitnya dan melemparkannya ke ujung ruangan.



Lexi mengumpulkan tenaganya yang tersisa, berusaha menghiraukan rasa sakit disekujur tubuhnya, ia turun menghampiri jeruji besi Gabriella, mengeluarkan cincin dan membuka jeruji itu. Gabriella tampak terkejut melihat ketiga patung naga, tetapi tidak ada waktu untuk menjelaskan, Lexi langsung menyuruhnya naik ke salah satu naga dan mereka terbang menerobos langit-langit ruagan itu.



Udara malam menyambut mereka, perpustakaan tempat mereka keluar hancur begitu saja diterjang patung naga terbang. Patricia dan Marco, berserta anak-anak yang mereka selamatkan sudah menunggu didepan perpustakaan, mereka sama terkejutnya ketika melihat tiga patung naga.

__ADS_1



Ketiga patung naga itu mendarat dengan mulus, Lexi langsung terjatuh lemas dari punggung naga, tetapi Patricia berhasil menangkapnya lebih dulu sebelum membentur tanah.



“Apa yang terjadi padamu?” Patricia memperhatikan Lexi yang babak belur.



“Bagaimana kau mendapatkan naga ini?” tanya Marco.



“Kita harus segera pergi!” celetuk Gabriella “Franc ada disini”.



Marco bergidik “kalian bertemu Franc?”.



“Mereka akan menyerang sekolah” kata Lexi parau.



Gabriella melihat anak-anak yang baru mereka selamatkan “sepertinya kita berpisah disini”.



“Apa maksudmu?” tanya Patricia.



“Aku harus menolong anak-anak ini, kalian harus menyelamatkan sekolah kalian, lagipula.. aku harus mencari Dionysus, banyak yang ingin aku tanyakan padanya” wajah Gabriella tampak lelah.



Marco mengangguk “hati-hati”.



Gabriella mengangguk “ayuk semuanya, kita pergi!” Gabriella berlari kecil memimpin anak-anak itu menjauh dari perpustakaan dan menghilang dibelokan, kini hanya tersisa mereka bertiga.



“Kita juga harus pergi” usul Marco.


Patricia mengangguk setuju, Marco membantunya menaikan Lexi ke punggung naga, kemudian mereka masing-masing juga naik ke punggung naga yang berbeda.

__ADS_1


Dalam sekali kepakan ketiga patung naga sudah terbang menjulang langit malam meninggalkan kota York.


__ADS_2