KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 3 - CHAPTER 5


__ADS_3

Book 3 – Chapter 5


Sisa-Sisa Musim Panas


Sebilah pedang melesat menembus langit malam dan menancap di tembok luar kastil Sekolah Sihir Selatan. Dua orang sudah menunggu di halaman kastil, Master Ginerva, kepala asrama Red Scorpion, perempuan paruh baya, bermata sipit dan berambut hitam panjang. Dan juga Master Cillion, kepala asrama Gold Dragon, laki-laki bertubuh kurus, berambut hitam panjang, memaki jubah bewarna emas.



“Itu tandanya” celetuk Ginerva.



Cillion pun menggumamkan mantra membuka dinding mantra yang menutup kastil. Lalu rombongan kereta kuda pegasus pun mendarat dengan tidak mulus di halaman kastil, Cillion menggumamkan mantra menutup kembali dinding mantra kastil.



Horus berubah wujud kembali ke manusia, tangan kanannya bersimbah darah. Victor terjatuh dari pegasusnya, bahu kirinya juga bersimbah darah. Sedangkan sisanya tidak ada yang terluka.



Pintu kereta kuda pegasus dibuka, Marco membantu Lokar turun, kemudian disusul Gilderoy dan juga Lexi.



Leo langsung turun dari pegasusnya menyambut Lexi “sihir yang hebat Lexi, kau menolong kami” puji Leo sembari minum dari botol besinya.



“Siapa yang menyerang kalian?” tanya Cillion.



“Vrusius” jawab Krusius datar.



Ginerva menghampiri Horus dan memapahnya “aku akan membawanya ke ruang perawatan”.



Talia juga sudah memapah Victor “aku juga”.



“Bagaimana Vrusius bisa mengetahui waktu keberangkatan kalian?” tanya Cillion, tetapi Lokar memotong.


“Marco, tolong antarkan Lexi ke asramanya” perintah Lokar.


“Tidak!” potong Lexi “aku ingin dengar semuanya”.


__ADS_1


Sesaat Lokar bertukar tatapan dengan Gilderoy, baru kemudian Gilderoy merangkul Lexi.



“Baiklah kalau begitu, kita bicarakan di dalam asrama Mountain Goat”.


***


Mereka duduk melingkar di ruang utama asrama Mountain Goat sembari ditemani seteko teh hangat.



“Sudah jelas pasti masih ada mata-mata di dalam Knight’s Of Magic yang memata-matai pergerakanku ataupun Arthur, mereka tahu Arthur pasti melindungi Lexi” Gilderoy membuka pembicaraan.



“Untuk sementara kita bisa bernafas, mereka tidak akan bisa menerobos kedalam kastil” timpal Cillion.



“Eh.. boleh aku bicara?” celetuk Lexi yang membuat seluruh mata tertuju kearahnya.



“Apa kalian merencanakan ini semua hanya untuk melindungiku?” tanya Lexi ragu.



Leo tersenyum lemah “tentu saja Lexi, sudah menjadi tugas para Maste..”.




Seketika ruangan menjadi hening.



“Lexi..” Gilderoy membuka suara “ada hal yang diincar mereka padamu, ini bukan sekedar tentang balas dendam atas apa yang sudah kau lakukan”.



“Gilderoy, kepala sekolah melarang” potong Lokar.



“Aku rasa Lexi sudah cukup dewasa untuk mendengar alasan sebenarnya” jawab Gilderoy sembari menatap kearah Lexi.



“Lexi, elixir merah dalam tubuhmu sudah menyatu dalam darahmu, itu terbukti dari sihir yang baru saja kau lakukan saat perjalanan tadi, anak usia lima belas tahun tidak bisa melakukan sihir sebesar itu” Gilderoy menatap serius kearah Lexi.

__ADS_1



“Mereka bermaksud mengambil darahmu, karena sekarang darahmu adalah elixir merah”.



Lexi terdiam mendengar itu, seakan ia tidak bisa mencerna perkataan Gilderoy.



Krusius bangkit dari tempat duduk “jadi bocah, jika kau enggan karena kami melindungimu, pikirkan saja jika kami melindungi elixir merah yang mengalir di darahmu” Krusius berjalan pergi meninggalkan keheningan di ruang utama.


***


Lexi mulai merasa seperti tahun-tahun sebelumnya, sendiri di dalam kastil saat musim panas. Lexi menghabiskan hari-harinya dengan duduk di teras asramanya sembari ditemani anjing apinya yang menggonggong dan berlarian di teras asrama.



“Sihir yang menarik” sapa Leo yang berjalan menghampiri teras asrama.



“Hai Master” sapa Lexi yang masih duduk di tempat duduknya.



Leo duduk di samping Lexi “bagaimana musim panas ini?”.



“Membosankan” jawab Lexi sembari memainkan tongkat sihirnya.



“Eh.. Master” lanjut Lexi “boleh ceritakan lebih banyak tentang hubungan Master dan ayah?”.



Leo tertawa kecil “yah.. baiklah.. mulai darimana ya, saya dan Rupert berasal dari kota yang sama, dan keluarga kami keluarga yang miskin, jadi kami tidak bisa sekolah, akhirnya Rupert belajar mengusai sihirnya sendiri, dan dia mengajari saya, dia sangat berbakat, dan setelah tujuh belas tahun Rupert pergi meninggalkan kota, dan kami terpisah”.



“Lalu apa yang terjadi setelah itu?” tanya Lexi.



Leo terdiam sejenak, seakan enggan untuk meneruskan ceritanya, tetapi ia melanjutkannya.



“Beberapa tahun setelahnya saya mendengar jika Rupert sudah menjadi ksatria sihir, saya pun ingin mengikuti jejaknya dan pergi dari kota, saat itu saya masih terlalu muda, saya menjadi luntang-lantung dari satu kota ke kota lainnya tanpa uang, dan akhirnya saya pun berhasil ke Arsenal dan menjadi ksatria sihir” Leo terdiam sesaat

__ADS_1


“Setelah melakukan misi bersama beberapa tahun, Rupert memilih untuk mengundurkan diri dan menjadi Master disini, itulah waktu dimana saat kau lahir”.


Lexi terdiam setelah mendengar cerita itu.


__ADS_2