
Book 2 – Chapter 14
Pesta Ayah Jojo
Musim dingin tiba, salju-salju mulai turun memenuhi jalanan, Lexi terbangun dengan tumpukan hadiah di kaki tempat tidurnya, hari ulang tahunnya yang ke lima belas. Tahun ini hadiah yang bertumpuk di kaki tempat tidur jauh lebih banyak dari pada sebelumnya, tentu saja banyak penggemar Lexi yang memberikan hadiah ulang tahun, yang Lexi sendiri bahkan tidak mengenal pengirimnya.
“Sebagian besar dari anak-anak Mountain Goat” celetuk Genta yang sedang membantu Lexi membuka kado-kadonya, Jojo, Bill, dan Will juga membantu.
“Sepertinya ayahmu tidak mengirimkan hadiah tahun ini” timpal Jojo yang sudah membuka cukup banyak kado.
“Yah.. aku tidak masalah, dia pasti sibuk mengejar Franc” meskipun Lexi tidak mengharapkan hadiah dari ayahnya, tetapi ia mengharapkan mendapat kartu ucapan, ia belum mendapat surat dari ayahnya semenjak kembali ke kastil.
Bicara soal Franc, Franc adalah laki-laki tanpa sehelai rambut, kantung matanya begitu tebal, wajahnya begitu kotor ditambah raut wajahnya seperti orang yang sudah tidak memiliki jiwa, tattoo memenuhi wajahnya. Ia adalah seorang buronan yang berhasil melarikan diri tahun lalu dan sedang dikejar oleh Rupert, ayah Lexi.
“Oh iya teman-teman” celetuk Jojo “ayahku.. dia mengadakan pesta libur musim dingin, ibu bilang aku boleh mengajak teman, kalian mau ikut?”.
Bill dan Will orang pertama yang mengangguk antusias secara bersamaan, baru kemudian Genta, lalu yang terakhir Lexi.
“Kami belum pernah ke Arsenal” celetuk Bill-Will.
“Aku juga” timpal Genta.
“Bukan masalah, besok ibuku akan mengirimkan kereta kuda pegasus untuk menjemput kita, nah.. hari ini kita harus belanja setelan jas untuk pesta, aku yang traktir!” Jojo tersenyum lebar, fakta bahwa teman-temannya ingin ikut adalah berita yang sangat baik baginya.
__ADS_1
***
Malam itu Lexi dan teman-temannya sedang bersiap-siap, mereka semua menginap di salah satu motel di Arsenal. Lexi sudah mencoba mengunjungi rumahnya, tetapi rumah itu kosong, tidak ada tanda-tanda dari ayahnya.
Bill-Will sedang bersiap-siap memakai setelan jas mereka, Bill memakai warna merah, sedangnya Will memakai warna biru. Lalu Genta memakai setelan jas warna krem, rambut hitam keritingnya yang disisir sedemikian rupah hingga lurus. Sedangkan Lexi, ia memakai kemeja putih dengan lengan digulung, ditambah rompi jas bewarna hitam, dan juga rambut panjang coklat kemerahannya yang diikat kebelakang.
“Kalian sudah siap?” Jojo masuk ke kamar motel itu untuk menjemput keempat teman-temannya, ia memakai setelan jas hitam dengan dasi kupu-kupu.
“Kereta kudanya sudah menunggu, ayuk” Jojo mengajak teman-temannya keluar dari motel menuju kereta kuda yang sudah disiapkan.
Kereta kuda itu menuju ke sebuah rumah besar dipinggir Arsenal, pagar yang cukup tinggi sebagai pintu masuk, dan lusinan kereta kuda sudah terpakir di pekarangan rumah itu.
“Wah.. rumahmu besar sekali” Bill dan Will tidak bisa melepaskan pandangan mereka, sepertinya Genta juga melakukan hal yang sama.
“Ibu” Jojo menghampiri seorang perempuan paruh baya berambut coklat panjang.
“Ah Jojo, dimana teman-temanmu?” tanya ibu Jojo.
Jojo pun memperkenalkan temannya satu persatu, lalu tidak beberapa lama seorang laki-laki berbadan gemuk, rambut hitam disisir rapi, dan kumis tebal menghampiri mereka.
“Eh.. ayah.. ini” Jojo tampak sedikit ragu.
__ADS_1
“Jadi kau cucu Arthur?” ayah Jojo menatap Lexi dan menyalaminya.
“Kau bisa memanggilku Adam, tuan rumah malam ini” Adam tersenyum kearah Lexi “aku senang anakku bisa memilih teman yang benar, nikmatilah malam ini” lalu berjalan pergi tanpa melihat kearah teman-teman Jojo yang lainnya, bahkan tidak melihat kearah Jojo sendiri.
Lexi tidak nyaman mendengar dirinya dipanggil dengan sebutan cucu Arthur, bahkan ia tidak benar-benar mengenal Arthur.
Nyonya Adam tersenyum ramah kepada teman-teman Jojo “suamiku mungkin sibuk menyambut tamu-tamu yang lainnya”.
“Tidak apa-apa bibi” Genta membalas senyum mencairkan suasana, Bill dan Will juga melakukan hal yang sama.
Ketegangan antara Jojo dan ayahnya hilang begitu saja saat mereka menyantap makan malam, Jojo sibuk mengajak keempat teman-temannya untuk berkeliling menunjukan makanan yang enak-enak.
Semakin mereka berkeliling, semakin Lexi merasa tidak nyaman, ada saja orang dewasa yang menghampirinya dan menyalaminya, dan lagi-lagi memanggilnya dengan sebutan cucu Arthur. Hal ini benar-benar membuat Lexi tidak nyaman, bukan saja hanya karena ia tidak begitu mengenal Arthur, tetapi ada hal lain yang menganggunya, mengapa tidak ada yang memanggilnya putra Rupert? Bukankah ayahnya juga bekerja di Knight’s Of Magic?
“Lexi!” panggil seseorang dari kejauhan, laki-laki paruh baya, bertubuh cukup gagah, memiliki jenggot panjang bewarna coklat, lalu mamakai sorban dikepalanya dan juga kalung salib menggantung panjang dilehernya, ia adalah Master Gilderoy, guru kelas senjata sihir Lexi tahun lalu.
Lexi cukup senang melihat Gilderoy, akhirnya ada orang yang ia kenal di pesta itu selain keempat temannya, daritadi ia benar-benar merasa asing di pesta itu.
“Master” sapa Lexi diikuti Genta dan Jojo, sedangkan Bill-Will tidak begitu mengenal Gilderoy.
__ADS_1
Gilderoy tersenyum ramah seperti biasanya “kalian tidak perlu memanggilku Master lagi, aku sudah tidak mengajar kalian” Gilderoy menatap kearah Lexi “boleh aku pinjam Lexi sebentar?”.