KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 3 - CHAPTER 8


__ADS_3

Book 3 – Chapter 8


Tahun Ajaran Ke Empat


Murid-murid kelas empat Mountain Goat telah berkumpul di sebuah kelas, Master Lokar duduk di kursi rodanya di depan kelas dan Lexi berdiri disampingnya.



“Baiklah anak-anak, akan ku jelaskan terlebih dahulu apa itu kelas penjurusan” Lokar membuka pembicaraan.



“Setelah ini kalian akan memilih pekerjaan yang ingin kalian tekuni setelah lulus nanti, kalian diwajibkan memilih dua pekerjaan sebagai opsi cadangan dan setelah itu akan kalian konsultasikan kepadaku”.



“Tujuannya adalah, agar selama dua tahun terakhir sekolah kalian, kalian bisa belajar secara lebih terfokus pada hal-hal yang ingin kalian tekuni setelah lulus nanti”.



Lokar mengambil kapur dan mulai menulis di papan tulis.



“*Satu minggu*”.



“Ini adalah waktu yang diberikan untuk kalian berpikir, Lexi akan membagikan kalian formulir untuk diisi, lalu dikumpulkan lagi dalam satu minggu ke Lexi, dan setelah itu akan diatur jadwal untuk kalian berkonsultasi, dan ku ingatkan, harap dipikirkan baik-baik, kalian tidak diperbolehkan mengganti kelas penjurusan di pertengahan tahun”.



Lexi mulai berkeliling kelas membagikan setumpuk formulir, murid-murid langsung membacanya dengan serius.



“*Form pekerjaan pilihan*,


Dibawah ini adalah beberapa pekerjaan yang menjadi pilihan favorit, jika ada pekerjaan lain yang ingin kalian tekuni diluar pilihan dibawah, harap mengisinya sendiri.


- Ksatria sihir


- Pembuat senjata


- Tabib


- Hukum sihir


- Lainnya:


Harap dipikirkan matang-matang sebelum mengisi”


***

__ADS_1


“Ayahku si menyuruh ku untuk memilih hukum sihir, dengan begitu aku sudah pasti akan bekerja di kantor Knight’s Of Magic sama sepertinya” celetuk Jojo sembari tiduran di tempat tidurnya memandangi kertas fomulir.



“Yah.. sepertinya aku juga akan memilih itu, buku sudah menjadi temanku, tetapi sepertinya membuat senjata juga keren si” timpal Genta “kalau kau bagaimana Lexi? Sudah pasti memilih ksatria sihir kan?”.



Lexi tidak menjawab, hanya diam memandangi kertas formulirnya “aku tidak tahu” Lexi menaruh formulir itu begitu saja di samping tempat tidurnya.



Genta dan Jojo tampak bingung.



Setiap sore murid-murid kelas empat pasti berkumpul di ruang utama untuk mendiskusikan kelas penjurusan mereka, bahkan beberapa dari antara mereka meminta pendapat dari murid-murid kelas lima.



Lexi sendiri tampaknya tidak begitu ingin membicarakan masalah pekerjaan yang ingin ia tekuni, tetapi ia tidak ingin mengusik antusias Genta dan Jojo yang sedang berdiskusi dengan murid kelas lima, akhirnya Lexi pun memilih untuk berjalan-jalan ke luar pondok.



Angin bertiup dengan sejuk di sore hari, Lexi terus berjalan menyusuri tepi danau hingga ia kembali ke tempat latian memanah. Tentu saja Patricia berada disana, lusinan anak panah menancap di batang pohon, keringat yang membasahi tubuhnya.




Patricia sedikit terkejut, ia tidak menyadari kehadiran Lexi sebelumnya.



“Seleksi akan diadakan sebentar lagi” Patricia kembali membidik batang pohon dan menembakan anak panahnya dengan sihir angin, melesat tepat sasaran.



Lexi duduk di tepi danau “kau sudah memikirkan masalah kelas penjurusan?”.



“Apa itu perlu dipikirkan? Mudah saja, ksatria sihir pastinya, dan jika aku bisa bergabung dengan club duel, kesempatan itu akan menjadi lebih besar” anak panah kembali melesat tepat sasaran.



“Bukankah kau juga akan memilih itu?” tanya Patricia.



Lexi menghela nafas dan merebahkan dirinya di tanah “aku rasa tidak semudah itu”.


__ADS_1


Patricia tampak bingung “apa maksudmu? Kau kan sangat baik dalam club duel”.



“Kau tidak mengerti” jawab Lexi “menjadi ksatria sihir itu bukan perkara mengalahkan orang jahat, tetapi menjadi ksatria sihir berarti siap mengorbankan nyawa”.



Patricia terdiam sejenak memandang Lexi.



“Maksudmu kau takut mati?”.



Lexi terdiam sejenak “ksatria sihir terakhir yang mengorbankan nyawa untukku, dia bahkan tidak pernah bicara padaku, dia tidak mengenalku, dan dia harus mati karenaku?”.



Patricia terdiam, tidak harus menjawab apa.



Lexi bangkit berdiri “jadi sebaiknya, jika yang kau pikirkan hanya mengalahkan orang jahat, pikirkanlah lagi” Lexi berjalan pergi meninggalkan Patricia yang masih terdiam dengan busur panah di tangannya.


***


Formulir kelas penjurusan pun sudah dikumpulkan, satu


persatu murid kelas empat melakukan konsultasi dengan Master Lokar. Sebagai ketua murid, Lexi mendapat giliran terakhir untuk melakukan konsultasi.


Lokar terdiam sejenak setelah membaca formulir milik Lexi.



“Kau memilih hukum sihir?” tanya Lokar “seingatku nilaimu dikelas hukum sihir tidak begitu bagus, begitu pula kelas teori lainnya”.



“Karena itu aku ingin memperbaikinya di dua tahun ini Master” jawab Lexi.



Lokar menatap Lexi “bagaimana dengan kelas pilihan kedua sebagai cadangan, kau tidak memilih apa-apa? Bagaimana jika ku rekomendasikan kau mengambil ksatria sihir?.



Lexi tertunduk “tidak apa Master, aku tetap pada hukum sihir”.



Lokar masih menatap Lexi sejenak “baiklah, hukum sihir kalau begitu” Lokar menandatangani formulir Lexi sebagai persetujuan.

__ADS_1


__ADS_2