KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 3 - CHAPTER 20


__ADS_3

Book 3 – Chapter 20


Terdampar


Mereka terjatuh di sebuah tanah lapang, Gabriella tampak terkejut, ia langsung mencabut belati dan berniat menikam ayahnya, tetapi reflek Lexi lebih cepat, ia menyihir ular api melilit tubuh Gabriella, lalu Patricia menendang belati dari tangan Gabriella menjauh.


Dionysus hanya diam mematung, masih terkejut dengan apa yang barusan putrinya akan lakukan, sedangkan Marco terkapar menahan sakit dengan urat-urat hijau yang mulai kembali memenuhi tubuhnya.


“Marco!” Patricia menghampiri Marco “dia terlalu banyak menggunakan sihir”.



Mata Lexi melihat sekitar, tidak ada apa-apa disana, hanya ada salju sejauh mata memandang.



“Dionysus, apa kau masih punya ramuan peredah racunnya?” tanya Patricia



Dionysus tidak menjawab, masih mematung dengan tatapan kosong. Patricia beranjak menghampirinya dan mencari ramuan itu sendiri, kemudian langsung meminumkannya ke Marco. Perlahan urat-urat hijau di tubuh Marco pun mulai menghilang, Marco memejamkan matanya.



Patricia terduduk sembari mengatur kembali nafasnya, ia melihat sekitar.



“Kita dimana?”.



Lexi menggeleng sementara matanya masih mengawasi Gabriella yang meronta-ronta berusaha melepaskan lilitan ular api.



“Dia sudah gila” celetuk Patricia “aku yakin sekarang dia abdi setia Franc”.



Lexi menyihir anjing api untuk menghangatkan mereka“disini dingin, aku akan coba cari tempat untuk menghangatkan diri”.


***


Matahari mulai terbit saat Lexi kembali tanpa menemukan apa-apa, sementara Marco sendiri sudah sadarkan diri, sementara Patricia tertidur didekat anjing api yang duduk manis. Gabriella sendiri tampaknya sudah tidak susah payah berusaha melepaskan diri dari lilitan ular api, sedangkan Dionysus, dia hanya duduk diam memainkan busur silangnya.



“Sebenarnya kau menteleportasi kita kemana?” Lexi ikut duduk disamping anjing api.



“Aku tidak tahu, maaf, aku masih tidak bisa mengontrol sihirku dengan kondisi sekarang” Marco tampaknya putus asa.



“Tidak masalah, sebaiknya kita jangan melakukan teleportasi dulu, kondisimu masih tidak baik” Lexi duduk sembari memainkan tongkat sihirnya, hanya sekedar biar ada yang ia lakukan.



“Kau tidak menemukan apa-apa?” tanya Marco.

__ADS_1



Lexi menggeleng “hanya hamparan yang luas” Lexi memperhatikan Dionysus “apa dia ada mengatakan sesuatu?”.



Marco menggeleng “menurutmu bagaimana perasaannya sekarang setelah hampir dibunuh anaknya sendiri”.



“Kau sudah kembali?” Patricia tampaknya mulai terbangun.



“Tidak ada apa-apa disekitar sini, sepertinya kita terdampar” Lexi menjelaskan.



Patricia berusaha untuk duduk, matanya masih terasa berat “sebaiknya kita gantian, kau tidurlah”.



Lexi menggeleng “jika aku tidur sihirnya akan hilang”.



Patricia memperhatikan Gabriella “daripada kita diamkan saja, lebih baik kita cari informasi darinya” Patricia bangkit berdiri dan menghampiri Gabriella.



“Ceritakan tentang penyerangan ke Sekolah Sihir Selatan”.




“Dia tidak tahu apa-apa” celetuk Lexi.



“Bagaimana kau tahu?” tanya Patricia.



“Dia tidak memakai cincin”.



“Cincin?”.



“Lambang ordo Black Rings, ku rasa ia hanya seorang suruhan, dia tidak akan tahu apa-apa” Lexi menjelaskan.



“Aku bukan suruhan!” gerutu Gabriella.



“Kau bukan suruhan? Baiklah kalau begitu, apa kau tahu dimana Franc?” tanya Lexi.

__ADS_1



Gabriella hanya terdiam.



“Sudah kuduga” celetuk Lexi.



Gabriella tampak kesal, tetapi ia tidak tahu harus membantah apa.



“Jadi sekarang bagaimana? Ada ide?” tanya Patricia.



“Kita coba teleportasi lagi? Bawa botol ramuannya untuk jaga-jaga?” usul Marco.



Lexi terdiam “sayangnya aku tidak terpikirkan cara lain”.



Tiba-tiba Gabriella seakan mengendus bau, kemudian ia tersenyum “kalian terlambat, sepertinya kalian berteleportasi kurang jauh, Vrusius sedang menuju kemari”.



Marco segera beranjak berdiri “tidak ada waktu, bagaimana dengan Dionysus?”.



“Kita tidak akan meninggalkannya” Lexi bermaksud menghampiri Dionysus, tetapi Dionysus justru mengambil busur silangnya.



“Aku tidak ikut, urusan kita sudah selesai, bawalah botol ramuannya, kalian masih membutuhkan itu”.



“Dia sedang kemari!” Patricia mengingatkan.



Dionysus memasang busur silangnya “aku akan menghadapinya, bawa Gabriella bersama kalian”.



“Tidak!” Gabriella memberontak dari lilitan ular api “kau mau menawanku tua bangka?!”.



Dionysus menampar Gabriella “sadarlah! Kalau sampai kau kembali ke Vrusius, dia hanya akan melukaimu!”. Gabriella tampak sangat terkejut mendapat tamparan itu.



“Cepat pergi!” teriak Dionysus.


__ADS_1


Dari kejauhan langkah kaki mulai terdengar, Marco pun memegang lengan Lexi dan Patricia, kemudian Patricia memegang tubuh Gabriella, seketika mereka kembali berteleportasi.


__ADS_2