
Book 1 – Chapter 12
Kelas Khusus
Pelajaran sudah kembali dimulai, salju yang tebal membuat murid-murid malas untuk beranjak dari asrama mereka menuju kastil, termasuk Lexi, setiap pagi dia hanya diam sepanjang perjalanan menuju kastil menahan hawa dingin yang begitu menusuk.
“Apa kau kedinginan bocah?” teriak suara yang dikenal Lexi, suara dari orang yang paling tidak ia suka, Luca dan teman-temannya sedang bermain salju di halaman kastil.
“Jangan ganggu kami!” teriak Genta.
Luca pun tertawa “kenapa? teman mu sudah tidak punya nyali semenjak dihajar?”, teman-teman Luca pun ikut tertawa.
Kini murid-murid asrama di halaman kastil mulai memperhatikan mereka.
“Apa kau akan diam saja jika ku ejek didepan orang-orang ini?” Luca kembali tertawa.
Lexi sudah tidak tahan lagi, ditambah hawa dingin yang menusuk-nusuk, seakan api ingin berkobar dari kulitnya, Lexi mengeluarkan tongkat sihir, mengayunkannya dan bola api menyambar keluar kemudian meledak tepat dihadapan Luca yang membuatnya jatuh ketakutan, sontak murid\-murid pun tertawa.
Luca bangkit berdiri dengan kesal “berani sekali kau!” Luca langsung menerbangkan belatinya kearah Lexi.
Lexi langsung mengayunkan tongkat sihirnya, api menyambar membentuk perisai, belati itu pun langsung meleleh saat melewati perisai itu, Lexi pun terkagum sesaat, ia tidak tahu efek sihirnya akan sekeren itu. Sontak para murid mulai bersorak untuk Lexi, Luca semakin kesal dibuatnya.
“Ada apa? Sudah tidak ada mainan favoritmu?” ejek Lexi yang kemudian mengayunkan tongkat sihirnya lagi, sebuah api keluar membentuk ular raksasa, meliuk-liuk mengejar Luca, Luca pun berlari ketakutan dan melompat kedalam danau yang dingin, tawa pun pecah semakin kencang.
“Sihir yang menarik” seorang laki-laki berjalan menghampiri kerumunan, laki-laki bertubuh tinggi kurus, berambut coklat ikal panjang, memakai syal dan sebatang rokok yang tidak menyala menempel di mulutnya, ia adalah Master Charlie, master di dalam kastil dan pembuat minuman di kota.
Charlie melihat jam sakunya “sepertinya kalian terlambat untuk masuk kelas”.
__ADS_1
***
Kelas obat-obatan berjalan seperti biasa, hanya saja hari itu Charlie menggantikan Rupert yang belum juga kembali ke kastil.
Untuk sesaat masalah ayahnya yang belum kembali sempat terlupakan dari kepala Lexi, senyum lebar terus terpampang di wajah Lexi, ia begitu puas sudah membalaskan dendamnya, Genta sendiri tidak mau repot-repot menanyakan darimana Lexi mendapatkan tongkat sihir dan belajar sihir itu, ia tidak ingin mendengar berapa banyak aturan yang sudah dilanggar temannya itu hingga bisa mendapatkan itu semua.
Charlie masih membalik-balik buku di meja “Master Rupert meninggalkan catatan untuk pelajaran kalian, aku memang sering berurusan dengan tumbuhan, tetapi membuat minuman dan obat-obatan tampaknya sedikit berbeda” Charlie tertawa kecil mencairkan suasana kelas.
Meski begitu tidak ada murid yang mengkritik Charlie, Master Charlie adalah salah satu master favorit, ia begitu baik dan sering bercanda, meskipun candaannya itu sering kali untuk menutupi kebodohannya.
“Kalian tahu, semenjak ada pembunuhan di Edinburgh, kota itu jadi sepi, tidak ada yang berani berkunjung, toko ku jadi sepi” cerita Charlie ditengah-tengah pelajaran, murid-murid lebih tertarik pada cerita Master Charlie mereka daripada ramuan diatas meja.
“Ah.. ngomong-ngomong sihir mu tadi hebat sekali” Charlie melihat kearah Lexi.
“Terima kasih” Lexi tidak tahu harus menanggapi apa.
Salah seorang murid perempuan mengangkat tangannya “apa Master berhasil mendapatkannya?”.
Charlie tersenyum “ah.. tidak-tidak, dia tidak pernah menyukaiku, kita hanya sebatas teman, tetapi ia selalu mengunjungi toko ku setiap kali berkunjung ke Edinburgh” Charlie tersenyum lebih lebar setiap kali pembicaraan menyinggung tokonya.
***
“Aku tidak mengerti mengapa Master Charlie bisa mengajar di kastil ini, yang dia bicarakan hanya tokok minumannya” gerutu Genta saat mereka keluar kelas menyusuri koridor menuju kelas berikutnya.
“Tapi harus aku akui minumnya paling enak, meskipun itu dibandingkan dengan toko-toko minuman dari kota ku” celetuk Jojo.
__ADS_1
Masih asik berbincang Lexi berpapasan dengan Luca dan teman-temannya, tatapan Luca marah tetapi juga menyiratkan sedikit takut, Lexi tidak mempedulikannya, melanjutkan berbincang dengan teman-temannya dengan senyuman kemenangan.
“Sihir mu tadi hebat Lexi” celetuk Jojo.
“Tetapi berbahaya, bagaimana jika kena murid lain?” timpal Genta.
“Tapi kau senang kan aku melakukannya?” Lexi tersenyum.
“Yah.. mengingat perbuatannya padamu..” jawab Genta terpaksa, tidak ingin membuat temannya itu semakin besar kepala.
***
Kelas demi kelas berganti, kini mereka menuju ke kelas terakhir mereka hari itu, dasar-dasar sihir. Didalam kelas Master Ginerva sudah menunggu mereka bersama Master Gilderoy. Pertanyaan pun muncul dikepala murid-murid, apa Master Gilderoy akan membantu sama seperti Percy waktu itu?
“Lexi!” panggil Ginerva “kau ikutlah dengan Master Gilderoy”.
Murid-murid tampak bingung, terutama Lexi, apa lagi ini? Gilderoy hanya tersenyum.
“Mari..” Gilderoy membawa Lexi ke kelas sebelah yang kosong.
“Master?” tanya Lexi dengan tatapan bingung.
Gilderoy tersenyum, ia merubah tubuh bagian bawahnya menjadi wujud kuda, mengayunkan tongkat sihirnya yang kemudian berubah menjadi sebilah pedang.
“Keluarkan tongkat sihirmu Lexi, lawan aku!”.
__ADS_1